Demi Lima Liter Air: Anak-Anak Desa Wunga Tapaki Sabana & Susuri Tebing Terjal
Ditulis oleh ion  
Minggu, 15 Juli 2012 22:38

Waingapu.Com - Memasuki musim kemarau seperti sekarang ini, bagi warga desa Wunga, Kecamatan haharu, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim) adalah masa dimana kesulitan memperoleh air bersih menjadi kisah harian. Ya, wilayah yang diberi nama sesuai nama Kampung tertua di Pulau Sumba itu memang sejak dahulu selalu dihinggapi masalah klasik, susahnya memperoleh air bersih. Jika musim penghujan, airnya ditampung untuk kebutuhan harian, dan sejenak warga terbantu dengan berkurangnya beban hidup untuk mencari air bersih yang letaknya cukup jauh dari perkampungan.

Mencukupi kebutuhan air bersih bagi warga desa Wunga hari-hari terkahir ini memang layak di apresiasi, paling tidak kepada sejumlah anak yang dengan ikhlas hati pergi ke mata air yang letaknya tidak hanya jauh namun berada dalam dasar lembah yang curam dengan tebing batu cadas.

Diawali dengan menapaki hamparan padang Sabana khas Sumba yang seakan tak berujung, anak-anak desa dengan alas kaki seadanya itu, tetap berwajah ceria menenteng jerigen berukuran 5  liter. Jerigen bekas kemasan minyak pelumas kendaraan dan minyak goreng menjadi sesuatu yang sangat akrab bagi mereka.

Ketika menuruni tebing batu cadas terjal dengan kemiringan hampir 90 derajat, tangan dan kaki mereka seakan mencengkeram keras batu dan pinggir tebing, belum lagi saat menuruni dua anak tangga kayu, yang jika tak berhati-hati akan membawa resiko terpeleset dan terguling kejurang dan terhimpit semak belukar. Anak-anak desa Wunga ini, bagai bertaruh hidupnya untuk memperoleh air untuk menyambung kehidupan diri dan keluarga.

“Tiap hari kami kesini untuk ambil air, kadang pagi kadang siang atau sore hari. Sudah biasa, jadi kami tidak takut jatuh. Dulu memang pernah jatuh tapi hanya jerigen yang ada air yang jatuh, saya tidak jatuh,” jelas Yehezkiel Tara Bandju, bocah sembilan tahun ketika diajak sejenak berbincang sembari menunggu gilirannya menuruni tangga kayu, pekan lalu di lokasi tempat warga biasa menimba air.

Ketika kaki menjejaki sumber air yang dituju, sejenak mereka berisitrahat, namun kembali mereka dengan cepat mencelupkan jerigen ke dalam air hingga terisi penuh. Jika jerigen telah penuh barulah merteka membasuh tangan dan kakinya atau bahkan mandi.

Tidak perlu berlama-lama, anak anak ini dengan beban jerigen di pundaknya, kembali harus mendaki tebing terjal berbatu cadas serta bertangga kayu. Tidak jarang karena kelehan air dalam jerigen yang sebelumnya penuh harus berkurang karena tumpah atau diminum untuk melepas dahaga. “Kalau haus langsung minum air di jerigen. Tidak pernah sakit perut,” ujar Robin, anak delapan tahun dengan Bahasa Indonesia seadanya.

Usai mendaki tebing terjal, langkah kaki mereka harus pula kembali menyusuri padang Sabana dan jalana desa. Rute penuh tantangan dengan jarak hampir lima kilometer itu harus mereka tempuh pergi dan pulang untuk mencari air bersih guna kebutuhan rumah tangga.

Masalah air bersih di wilayah ini memang menjadi kisah klasik, berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah setempat juga sejumlah lembaga pemerhati masalah sosial. Namun belumlah optimal dan menjangkau semua warga. Bisa jadi, keterbatasan dana juga kerasnya alam menjadi problema yang belum sepenuhnya teratasi. (ion)

Share