Lupa Password? Lupa Username? Buat akun
Anda berada di >
Sab 19 May 2012
Banner

DPRD Gelar Sidang dengan Busana Khas Daerah Sumtim: Satu Pijakan Awal dari Ribuan Langkah untuk Melestarikan Budaya

PDF Cetak Surel
Ditulis oleh ion   
Selasa, 11 Januari 2011 00:00
Berbusana Daerah

Sejak pagi hingga matahari mulai menampakan keperkasaannya, Senin (10/01) sejumlah anggota DPRD Sumba Timur (Sumtim), seakan tiadaletih untuk meneriakan yel-yel khas Sumba, yang mengawali dan mengiringi tarian spontan dengan parang terhunus di dalam ruang sidang utama DPRD setempat. Bahkan beberapa diantaranya dengan semangat berkobar melanjutkan tariannya di ruang Amos Mandja Landupraing, wakil  ketua DPRD Sumtim. Parang yang terhunus dan pekikan pekikan itu, bukanlah karena marah atau sebagai bentuk kesiapan berlaga, namun meruapakan bentuk aksi antusias dan kegembiraan para legislator itu pada pelaksanaan sidang dengan agenda pentutupan sidang IV DPRD Sumtim.

Kegembiraan itu lahir, boleh jadi menyiratkan rasa keprihatinan Pemerintah (eksekutif)  dan khususnya  para wakil rakyat Sumtim (legislator) pada kondisi saat ini. Betapa tidak, kebanggaan akan jati diri sebagai orang Sumba perlahan mulai tergerus. Salah satu diantaranya adalah kebanggaan untuk berbusana adat khas daerah.

Sebagai langkah atau pijakan awal dari ribuan langkah untuk membangkitkan kembali rasa cinta dan bangga akan budaya Sumtim, DPRD Sumtim dalam sidang kali ini menyepakati untuk mengenakan pakaian adat khas Sumtim. Para anggota DPRD juga meminta agar para undangan yang hadir juga mengenakan pakaian adat Sumba.

Tekad dan kesepakatan itu sudah bulat, dan mendapat respon positif dari kalangan eksekutif. Bupati Sumtim, Gidion Mbilidjora dan Wakil Bupati, Matius Kitu, bersama para pimpinan SKPD hadir dalam busana khas Sumtim. Bahkan Kapolres Sumtim, sejenak melepaskan ’tongkat komando’ dan seragam Polrinya dengan ’parang’ dan Hinggi (Kain tenun khas) Sumtim.

Kesepakatan yang sudah bulat itu, makin nampak pada penegasan Moh. Zein Bunga, ketua Badan Kehormatan DPRD Sumtim. ”Ada anggota DPRD yang tidak mengindahkan kesepakatan ini. Kesepakatan ini sebenanrya bernilai filosofis. Dimana kita sebagai wakil rakyat bisa, walau sedikit bisa menjadi contoh bagi rakyat Sumtim untuk mencintai budaya dan keunikannya. Jadi bagi anggota DPRD yang terkesan menyepelekan kesepakatan ini, saya selaku ketua Badan Kehormatan akan memberikan teguran,” tegasnya kepada wartawan, menyikapi adanya seorang anggota Dewan yang dikabarkan hadir tidak dalam balutan pakaian adat khas Sumtim, namun mengenakan Safari berbahan kain tenun.

Tidak dapat dipungkiri, kain tenun khas Sumba yang dikenal sebagai Hinggi Kombu, dan kain Sarung untuk kaum wanita yang dikenal dengan nama Lau Pahikung,  sangat diminati oleh wisatawan mancanegara. Keunikan dan motifnya, serta proses kerjanya yang masih sangat sederhana, juga bahan pewarnanya alami, menjadikan kain khas ini memiliki nilai magis bagi para pendatang.

Tua muda, laki dan perempuan yang hadir dalam sidang DPRD kala itu, semua mengenakan pakaian adat  khas. Suatu langkah yang bisa menjadi contoh bagi masyarakat, hingga bisa sedikit menepis ’nada minor penuh sinisme’ dari masyarakat, bahwa pemerintah dan para wakil rakyat hanya berkoar-koar, menghimbau  agar rakyat mencintai produksi dalam negeri, mencintai dan melestarikan tradisi budaya warisan leuhur, namun justru jarang untuk merealisasikan dalam kesehariannya. Karena terlanjur terbius,mabuk dengan kekuasaan dan ragam fasilitas modern yang diberikan negara, yang entah disadari atau tidak, merupakan kristalisasi keringat rakyat.(ion)

 

Untuk mengirim komentar di situs ini, silahkan login dulu, atau gunakan layanan komentar dari facebook di atas :)

Berita Terkini

Drainase Wangga & Kambaniru: Telan Anggaran Lebih dari Rp. 3 Milyar
18 May 2012
article thumbnailWaingapu.com - Banjir yang sering melanda sejumlah wilayah di Kelurahan Wangga dan Kelurahan Kambaniru, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur ( Sumtim), NTT, setiap tahun, pada saat musim...
Banner