| Dress code |
|
|
| Kontributor: Yongky HS |
| Jumat, 15 May 2009 22:56 |
|
Dalam undangan formal seremonial bahkan kadang disertai dengan detail acara, kostum, meja dan tempat duduk undangan. Di Waingapu, masih jarang orang mencantumkan kalimat; sebaiknya ucapan bahagia Anda tidak berupa krans bunga dan cinderamata atau kalimat yang menyarankan kostum undangan. Namun dalam undangan formal Pemda, Polres dan Kodim sangat lazim apabila dicantumkan kostum undangan, biasanya tertulis; Anggota: PDH, sipil/umum: bebas rapi/pakaian nasional. Sedang di kalangan tau wullu sudah mulai ada dituliskan: ucapan bahagia sebaiknya tidak berupa cinderamata dan akan disumbangkan untuk ini dan itu. Undangan sejenis ini pernah ada ketika Keluarga Andreas Karwelo dan Samuel Yonthan membuat hajatan Pesta Emas Ultah Perkawinan mereka. Lalu apalagi yang disebut dengan dresscode? Terus terang, kapatang juga saya dengan istilah ini. Sabtu, 10 Mei 2009 kami menerima undangan dari seorang sahabat: Keluarga Stepanus Makamombu dalam hajatan syukuran; Babtisan Kudus Putri mereka: Rambu Muna Guna Bening Kareninavedita (namanya keren ya...) dan syukuran ultah ke-70 Bapak. DR. Siliwoloe Djoeroemana, MS. Namanya juga terima undangan, paling cuma dilihat, tanggal, jam, tempat dan siapa yang punya hajat. Setelah itu baru dilihat kira-kira perlu bawa amplop gak ya? Selesai! Eee... ternyata memang saya kurang jeli, sang istri mengingatkan bahwa di kartu undangan itu juga dicantumkan pakaian yang diharapkan dipakai oleh para undangan. Sang istri menunjukkan tulisan kecil dipojok kiri bawah undangan: dresscode casual-putih. “Makanya lu baca bae-bae tu undangan, maksudnya kalo lu mo pi pesta itu lu mesti pakai baju casual warna putih” jelas sang istri. Pesta sejatinya hanyalah urusan senang-menyenangkan, entah menyenangkan orang-orang tersayang, kenalan/tamu bahkan juga menyenangkan diri sendiri pemilik hajat. Walau di Waingapu masih terasa janggal mencantumkan dresscode dalam undangan, namun tak ada salahnya sebenarnya kita mengikuti kemauan pemilik hajat dengan mentaati dresscode itu. Bukankah kita diundang pesta karena pemilik hajat ingin membagi kesenangan (syukur) dengan kita? Bukankah pula kita menghadiri pesta juga demi menghormati dan menyenangkan si pengundang? Atas pertimbangan itulah akhirnya saya mentaati pesan dresscode seperti yang disarankan sang istri. Bagaimana dengan undangan yang lain? Ina yaaaaaaa..., di luar dugaan ternyata saya justru terkesan nyele dewe, hanya tuan rumah, kerabat dekat dan panitia yang mentaati pesan dresscode, itu pun tak semuanya. Diantara sekian banyak kolega pemilik hajat adalah orang-orang top Waingapu namun lebih banyak juga dari mereka yang tidak datang memnuhi pesan yang tersirat di dresscode. Sebagian malah hadir dengan Jas Kombu, safari, hem batik dan pakaian-pakaian yang terkesan formal. Apa mereka tidak paham dengan istilah dresscode? Mungkin ya, namun mungkin juga tidak! Kemungkinan terbesar adalah karena sebagian besar undangan tidak memperhatikan tulisan kecil dalam undangan. Sebagian lagi tahu dan mengerti pesan dresscode, namun merasa janggal jika hadir ke pesta dengan casual wear, maklumlah yang ulang tahun adalah seorang Ketua KPUD Sumba Timur dan mantan Rektor Kriswina Sumba. Sebagianya lagi mungkin memang gak paham sama sekali dengan istilah dresscode, termasuk saya sendiri sebenarnya. Pesta yang didesain santai dengan tema Back Yard Party ini akhirnya masih menyisakan kesan formal, bahkan tuan rumah beberapakali sempat meminta maaf atas ketidak berhasilannya menciptan nuansa non formal. Pembawa acara yang cantik malam itu juga terkesan masih canggung bagaimana harus memandu acara seperti itu. Tapi terus terang pesta itu bagi saya cukup santai dan sukses, tuan rumah juga berhasil menjadi tuan rumah yang baik. Kesan santai itu juga tercipta dari hilangnya beberapa acara formal seperti sambutan-sambutan dan ibadah. Beberapa kawan malah berkomentar baguslah sebuah pesta dibuat dengan suasana santai seperti itu. Kalau boleh jujur sebenarnya justru kamilah yang masih gagap sebagai tamu dalam pesta-pesta seperti itu. Ini memang hal yang belum lazim di Waingapu. Bukan sok kebarat-baratan, memang ada baiknya juga sesekali pesta dikemas seperti itu daripada selalu dipenuhi oleh acara-acara seremonial yang bertele-tele. Salut buat penggagas pesta. Lalu banggakah saya sebagai tamu yang memenuhi pesan dresscode? Terus terang justru sebaliknya. Sudah datang sendirian, agak terlambat lagi. Sedikit PD (maksudnya Paksa Diri) dan malu-malu, biasalah, kita masih suka ke pesta bersama rombongan. Saya langsung menyalami tuan rumah dan cari tempat duduk. Lebih malu lagi ternyata sebagian besar tamu bawa amplop dan kado. Meski malam itu warna putih tidak tampak dominan, tapi saya justru terkesan dengan kata; putih. Saya menemukan kalimat seperti ini (tapi ini bukan puisi lho... sekedar kalimat saja): |



Hal yang lazim apabila dalam sebuah undangan tercantum tulisan "mohon maaf apabila terjadi kesalahan penulisan nama dan gelar", "dengan tidak mengurangi rasa hormat apabila ucapan sukacita/belasungakawa Anda tidak berupa cinderamata dan krans bunga". Tulisan-tulisan itu biasanya ditulis dengan huruf kecil yang tidak mencolok. Kalimat pertama bisa kita maklumi karena biasanya kita tidak mengenal dengan detail orang-orang yang akan kita undang. Kalimat kedua walau kadang kita masih malu-malu memasangnya di undangan, namun kebanyakan kita lebih suka bila orang datang ke hajatan kita cukup dengan membawa amplop. Maklum lebih praktis mentahnyo sajo....
Komentar
Sa jadi ingat dulu. Pi pesta pake acara kaget. Maksudnya, malam ada mo pi maen di teman pu rumah, eh, ada teman lain bilang :"Ada pesta di Kambaniru. Ayo kita pi..."
Langsung berubah arah.. Lucunya, tidak kenal sama sekali dengan yang punya pesta. Cuma kenal sama yang ajak.. Su datang terlambat, tidak mau duduk lagi. Tunggu pas acara makan, baru maso pelan-pelan... INDAHNYA...
No dress code, no fake greetings, no hard feelings.. just enjoy the party.... Itulah pesta sejati rakyat kecil.. entah masih ada sekarang di Sumba, ato su ilang???
pas waktu itu ju sa pi pesta di ibu dany dan liat om onky... pake putih2 kayak mau di baptis.... jd bahan omongan loh....tp yg baik2 kok
sy aja sama istri berdebat.... dia nga mau pergi karna nga ada baju...(belum beli ....) ....jdilah sy yg dtg sendiri... tp unik ya ...utk kota waingapu... jd betul kt pepatah "bukan bagaimana kita menerima yg baru tp yg susah adalah melupakan kebiasaan lama"...... tanx om onky buat sharingnya... GBU
bisa juga orang2 sana lom tau apa arti dresscode..hahahaha
bisa aja kan....
RSS feed untuk komentar posting ini.