Episode Baru Model Perjuangan |
|
|
|
| Ditulis oleh Bonefasius Sambo |
| Jumat, 29 Oktober 2010 08:50 |
|
Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, di era rezim Soekarno (Orde Lama) perjuangan kaum muda hadir mendominasi dan menolak aksi fisik atau kekerasan. Atau bukan dengan mengangkat senjata sebagai bentuk protes terhadap ketidakadilan atau kesewenangan rezim saat itu. Mereka tampil dengan gagasan teatrikalnya. Pamflet-pamflet disebarkan ke masyarakat. Komplain diutarakan melalui media massa. Tembok-tembok kota adalah katarsis goresan tangan sebagai bentuk pengekspresian. Organisasi-organisasi kepemudaan didirikan. Orasi-orasi diteriakan di depan para penguasa. Inilah sebuah konsep yang ditempuh dan kerap diunjukan oleh kaum muda. Episode baru perjuangan kaum muda harus mengedepankan peranan intelektualitas, integritas-moral, dan juga mentalitas. Perjuangan melalui konsep konvensional tidak mempan lagi menghadapi sebuah pola yang sistemik dan mengakar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Budaya korup, koluis, nepotis serta koncois sukar dilawan dengan aksi konvensional. Tapi dengan mengubah mentalitas anak bangsa sejak anak usia dini. Itulah solusinya. Menggeser model perjuangan kaum muda masa lalu yang kerap mengusung konsep konvensional bukan berarti memutuskan mata rantai perjuangan, atau menganggap tidak relevan dengan gejolak zaman masa kini. Kaum muda masa kini terus melandasi perjuangan dengan spirit dan karakter generasi sebelumnya. Secara kondisional konsep konvensional masih layakk untuk diterapkan. Semangat revolusioner kaum muda masa lalu menjadi kekuatan yang mampu menerobos kesenjangan antara penguasa dan rakyat. Semangat revolusioner inilah yang dikatakan sebagai “jiwa”nya. Terutama perjuangan non kekerasan melalui ide-ide progresif revolusioner menjadi warisan yang tak bernilai yang diperuntukan bagi kaum muda masa kini. Pada kesadaran ini untuk memantapkan perjuangan kaum muda, kita pelu belajar dari pengalaman seorang Mahatma Gandhi. Melalui prinsip perlawanan yang mengutamakan kebenaran (satyagraha) dan tanpa kekerasan(ahimsa) dirinya menjadi tokoh termashur di India bahkan di dunia. Gandhi ingin membangun sebuah tatanan negara (India) yang bebas dari unsur kekerasan, dan mengakui persamaan hak bagi setiap warga negaranya. Nelson Mandela adalah bukti sejarah yang masih hidup, walaupun selama dua puluh tujuh tahun keluar masuk penjara. Dengan jiwa besar ia mampu memberi maaf pada lawan politiknya. Ketokohannya yang humanis ini menjadi panutan dan teladan pemimpin dunia. Kini saatnya kaum muda harus tampil beda. Kaum muda harus memegang teguh prinsip independensi dengan menjunjung tinggi nilai kebenaran dan keadilan bukan menjadi sosok-sosok yang mengekor. Menjadi kaum muda bukanlah kaum yang reaktifis tapi mampu mengendalikan diri dengan memahami nilai-nilai rasionalitas. Dalam menampikan keadaan yang menyimpang hendaknya bersikap tegas yang didukung dengan integritas moral yang kuat. Berani menolak atau non cooperative terhadap apa yang dianggap salah bukannya membenarkan apa yang salah. Pada situasi inilah sikap kritis dituntut untuk menanggapi masalah. Inkonsistensi sikap pada sebuah komitmen akan menyebabkan tergerusnya rasa percaya kepada kaum muda itu sendiri. Oleh karena itu kaum muda hadir dengan menampilkan warna sendiri, bukan terjebak pada wilayah abu-abu akhirnya menimbulkan skeptisisme terhadap kaum muda itu sendiri.*** |
Berita Terkini
18 May 2012
- 17 May 2012 Jembatan Darurat Payeti: Telah Dibangun dengan Model yang Lebih 'Akrab' dengan Kaum Perempuan
- 16 May 2012 Hujan Berkepanjangan: Cemaskan Warga Pengguna Jembatan Darurat Payeti
- 10 May 2012 MTQ NTT akan Diinkulturasi: Bentuk Dukungan, Usulan Tenun Sumba Jadi Warisan Dunia
- 09 May 2012 Sebrangi Sungai & Bukit Terjal: Siswa SD Bidipraing Akhirnya di Asramakan Selama Pelaksanaan UN
- 08 May 2012 Listrik Proyek PNPM hanya Pajangan: Anak Lai Hiding Belajar Pakai Pelita untuk Hadapi UN
- 03 May 2012 PLN Janji Bina & Tindak Pencatat Meter Nakal
- 27 April 2012 Tikus ‘Invasi’ Lahan Pertanian : Warga Kombapari Terancam Gagal Panen
- 26 April 2012 Warga Mengadu ke DPRD: Diduga Petugas Pencatat Meter PLN Kerja ‘Curi Tulang’
- 24 April 2012 Cara Siswa/i SMPN Nggoa Hadapi UN: Gunakan Lampu Pelita Saat Belajar, Jalan Kaki 7 KM ke Sekolah
- 16 April 2012 Diduga Karena Belum Terima Gaji, Staf Dispenduk Sumba Timur Mogok Berkantor
- 13 April 2012 Naskah Ujian Nasional di Sumba Timur Kurang
- 08 April 2012 18 Tahun Didera Hydrochepalus & Lumpuh: Walau Lirih, Zakarias Tetap Bersenandung
- 06 April 2012 Jemaat GKS Kambaniru Gelar Prosesi Jalan Salib
- 05 April 2012 Sekolah di Sumba Timur, 75% Dibawah Standart Mutu Nasional
- 04 April 2012 Apresiasi Perjuangan Anak Lai Hiding: Dinas PPO Sumba Timur Rencanakan Bangun Sekolah Paralel
- 03 April 2012 Belajar dari Agustinus: Sosok Sederhana di Balik Perjuangan Anak-Anak Lai Hiding
- 31 March 2012 ‘Uji Nyali’ Anak Dusun Lai Hiding: Ke Sekolah Bagaikan Terjun ke Arena Sabung Nyawa
- 29 March 2012 Bangunan Pasar Papuu dan Kiritana Mubazir: TPI & Pabrik Es Waingapu Bernasib Serupa
- 28 March 2012 Harga BBM Belum Resmi Naik: Harga Sejumlah Sembako Menang Satu Langkah!




