Lupa Password? Lupa Username? Buat akun
Anda berada di >
Sab 19 May 2012
Banner

Gadis

PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Diana Debi Timoria   
Rabu, 25 May 2011 11:43
Diana Debi Timoria

Namaku Gadis. Aku memang seorang gadis tapi bukan karena itu aku dipanggil Gadis. Namaku sebenarnya adalah Gladys tapi karena satu alasan yang memerintah dalam kepolosan anak-anak maka namaku diubah tanpa ritual khusus menjadi Gadis. Teman sepermainanku memanggil aku Gadis. Teman sekolahku pun demikian. Aku adalah seorang gadis yang tersapa Gadis.

Ketika aku menjalani masa remajaku, sapaan itu pun tak hilang. Gladys yang menjadi Gadis tetap membudaya diantara teman-temanku. Aku menikmati saja, toh kedua nama itu mirip juga. Lagi pula yang tercantum dalam ijasah ataupun surat-surat lainnya tetap nama Gladys, bukan Gadis. Jadi, kubiarkan saja sapaan itu tetap menyapa hari-hariku.

Sebuah usia yang dipamerkan sebagai usia dewasa dalam paket kehidupan manusia kulalui masih dalam kegadisanku. Telah kulalui masa kepolosan anak-anak. Telah kutinggalkan kecentilan remaja. Kini aku berdiri di atas pijakan kedewasaan yang akan mengantarkanku pada peristiwa yang masih belum kujamah.

“Hei Gadis” sapa seseorang di tengah keramaian kampus.

“Hei Za” balasku. Ternyata dia adalah Reza, teman masa kecilku yang menjadi salah satu pencetus nama Gadis untukku.

“Kuliah di sini juga?”

Aku tersenyum lalu mengangguk.

“Kenalkan, ini temanku” kata Reza pada sebentuk tubuh atletis yang tampak menawan dalam senyumnya.

“Rio”

“Gadis”

“owwww masih Gadis juga?” kelakar Reza

“Jadi nama aslinya bukan Gadis ya?”

“Hmmmm apalah artinya sebuah nama, jika aku harus berganti nama lagi aku takut teman-temanku tidak mengenali aku lagi“ jawabku pura-pura bijaksana. Entah apa yang membuatku harus  berpura-pura seperti itu di depan Reza yang super usil ini. Entah kemana semua teriakan dan umpatan wajib untuknya.

“Tapi nama Gadis bagus kok, kamu tampak benar-benar gadis” puji Rio.

“Oya? Apakah ada gadis yang tak seperti gadis?”

“Ya, tuh di sana” tunjuk Rio pada seorang cewek yang terkenal sebagai cewek tomboi di kampus. Penampilannya benar-benar mirip lelaki.

Aku menanggapi perkataan Rio dalam tawa. Inikah awal sebuah keakraban?

Akrab? Sepertinya kata itu terlampau asing buatku. Tetapi, ketika nomor Hp-ku tak lagi menjadi rahasia bagi Rio maka kata asing itulah yang harus kuasingkan. Rio selalu menghubungiku, menanyakan kabar, menyuruh makan atau istrahat dan berbagai bentuk perhatian lain yang hanya terwujud melalui  hubungan antar ponsel.

Berkat keusilan Reza, Rio mampu menembus batas pertemanan yang wajar antara aku dan dia. Reza membawa Rio ke kostku. Setelah beberapa waktu mereka habiskan untuk mencari kostku, akhirnya dua tubuh yang sudah tidak asing lagi mengetuk pintu kostku. Canda tawa, membuat diam yang selama ini betah dalam kamar kostku yang kecil pergi meninggalkanku dan dua temanku ini. Sunset mungkinlah pertanda senja berganti malam, fenomena alam yamg mengantarkan sang mentari ke peraduannya, hari yang hampir berakhir, tapi bukan berarti kunjungan ini telah berakhir.

Haruskah awal menjadi akhir? Ataukah memang awal tak pernah ditakdirkan berakhir hingga semua awal, mengawali awal-awal lainnya? Setelah kunjugan itu, sosok Rio selalu hadir dalam kostku, dengan berselubung sifat gentlemen yang kupuja dari seorang cowok. Sekali dua kali ia datang sekedar main-main atau menjelmakan kostku sebagai persinggahannya dari kost temannya yang entah di mana. Merasa jenuh di kostku, ia coba tawarkan sensasi baru dalam ajakannya untuk jalan-jalan. Tawaran yag sudah pasti tak akan kutolak. Kadar waktu yang kuhabiskan bersamanya telah melebihi batas hingga akhirnya, dia memintaku untuk mamberi rasa yang juga melebihi batas pertemanan. Ia ingin merajut sebuah jalinan asmara denganku. Lagi-lagi ingin itu tak dapat kutolak.

Cinta. Kataya ia mencintaiku sejak pandangan pertama. Kuakui aku pun tertarik padanya sejak perkenalan itu. Ah ternyata perkenalan itu, telah membungkam semua logikaku.

Hari-hari kulalui bersama Rio. Wajah kehidupanku berubah. Kuliah di jurusan yang tidak kuiginkan adalah hal yang membosankan bagiku. Celoteh-celoteh dari dosen tidak pernah kusimpan dalam memoriku. Hingga akhirnya Rio hadir dalam hari-hariku. Menghadiahiku sebentuk hari cerah yang membuat hari-hariku yang telah lalu iri padaku.

Mestikah ada batas dalam pelataran kehidupan? Tawaran-tawaran peran manis dalam sandiwara kehidupan yang menggoda akhirnya kulakoni dalam kombinasi kobodohan dan kepolosan yang tak akan pernah berhenti kusesali. Akhirnya kusadari sebuah kesalahan besar yang kulakukan. Ternyata waktu yang kulewati belum cukup untuk sepenuhnya mengenal sosok seorang Rio. Aku tak pernah menduga kebusukan apa yang berada di balik bingkisan indahnya.

“Aku hamil Rio” kataku menodai indahnya senja ketika Rio akhirnya berkunjung ke kostku setelah hampir sepekan tidak meampakkan diri di kostku.

Rio terdiam. Ia membuang pandang keluar kamar kostku. Pura-pura menekuni langit senja melalui celah jendela.

“Rio, ada anakmu dalam rahimku”

Rio masih terdiam.

“Rio, aku sudah tidak gadis lagi” akhirnya aku hanya bisa terisak. Ratapku hanya bisa berdampingan dengan diamnya. Ia tak punya sesuatu yang lebih daripada sebuah diam.

Entah apa yang membuat diamnya pergi, Rio akhirnya bangun dari dudukya. Sejenak kelegaan meraja hatiku. Tapi tanpa kuduga sesuatu yang lebih buruk daripada diam terjadi.

“Maaf Gadis, aku tak bisa, keluargaku masih membutuhkan aku, yang kita lakukan itu hanya sekedar keisengan” katanya.

Aku terpaku. Terperangah seolah tak percaya. Butuh ribuan detik untukku agar dapat memaknai kata-katanya. Kini aku yang terdiam dalam tangisku.

“Maaf Gadis” katanya sekali lagi dan ia akhirnya melewati pintu kostku. Teriakan dan ratapanku tak cukup kuat untuk menariknya kembali. Aku menangis tanpa mempedulikan arti tatapan tetangga kostku. Yang kutahu kini hanyalah bahwa aku sudah tak pantas untuk mengetahui apa-apa lagi. Tentang diriku, tentang dia ataupun tentang cinta yang dulu pernah dia banggakan.

Setelah merenggut apa yang paling diagungkan oleh seorang wanita Rio akhirnya benar-benar pergi membawa semua dosa yang tak pernah disadarinya. Dasar bajingan!!! Dia telah berhasil meghancurkan apa yang paling kuinginkan, masa depanku.

Dalam penyesalan tiada tara aku menyadari,aku gadis yang sudah tidak gadis lagi. Aku bukan Gadis lagi. Lalu aku siapa? Gadis? Bukan. Gladys? Tak ada yang kenal. Ah sudahlah, aku tak peduli aku ini siapa, yang pasti kisah Gadis telah ternoda. Gadis tak tersapa lagi, untuk itulah tak ada gunanya aku terus menikmati hidup tanpa nama, tanpa ada yang mengenalku. Biarkan kupergi, menghilang bersama nama yang tak berbekas lagi.

Segenggam obat-obatan akhirnya menamatkan kisah Gadis yang tak gadis lagi.[]

 

Untuk mengirim komentar di situs ini, silahkan login dulu, atau gunakan layanan komentar dari facebook di atas :)

Berita Terkini

Drainase Wangga & Kambaniru: Telan Anggaran Lebih dari Rp. 3 Milyar
18 May 2012
article thumbnailWaingapu.com - Banjir yang sering melanda sejumlah wilayah di Kelurahan Wangga dan Kelurahan Kambaniru, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur ( Sumtim), NTT, setiap tahun, pada saat musim...
Banner