| GOLPUT |
|
|
| Kontributor: Jara Marapu |
| Senin, 02 Februari 2009 15:45 |
|
“Wuah… apa lagi ini...?” Inilah kemungkinan sepatah kata yang akan keluar ketika membaca sepotong judul diatas. Bisa ya, juga bisa tidak. Terlepas dari semua itu perlu disadari bahwa bangsa kita saat ini sementara diambang keragu-raguan terhadap segala bentuk kepemimpinan sebagai penentu kebijakan dimasa yang akan datang. Ragu terhadap kompetensi partai, ragu terhadap sikap wakil rakyat dan krisis kepercayaan nasional. Golput…. Maraknya partai baru peserta pemilu, bukan tidak baik, ...baik bahkan sangat baik karena ini sebagai perwujudan dari amanat reformasi, menuju cita-cita negara yang lebih demokratis, negara multi partai, negara yang berbhineka tunggal ika. Semua ini akan menjadi suatu kekayaan bangsa yang ternilai harganya apabila semua berjalan sesuai dengan apa yang dicita-citakan, berjuang demi bangsa, bukan demi partai atau golongan tertentu. Tetapi jangan salah, sadar atau tidak bahwa kehancuran bangsa ada di depan mata, apabila masing-masing golongan dan partai berjuang demi kepentingan golongannya sendiri. Rekruitmen calon legislatif dari setiap partai peserta pemilu, khususnya partai baru cenderung mengesampingkan nilai-nilai kompetensi yang dibutuhkan sebagai wakil rakyat, dan mengedapankan anggota kelompok, hubungan keluarga, kerabat, anak, menantu bahkan pembantu, yang nota bene tidak/kurang memiliki kemampuan dibidang organisasi, apalagi pegalaman berpolitik. Ini sebenarnya juga tidak salah dan ini juga bukan tanpa alasan, benar, dan selalu benar. Alasan perekrutan yang demikian adalah :
Golput…. “Golongan Putih” yaitu golongan atau kelompok yang mengambil sikap untuk tidak bertindak, tidak berpartisipasi atau tidak berbuat sesuatu terhadap sesuatu itu sendiri karena suatu alasan tertentu yang bersifat mendasar. Sikap ini adalah pilihan yang merupakan bagian dari hak azasi setiap orang, sesuai dengan Bagian Kelima, pasal 23 UU HAM RI No. 39 Tahun 1999 yaitu Hak Kebebasan Pribadi. Penentuan dan pilihan bertindak didasarkan pada hati nurni setiap pribadi. Golput adalah pilihan, yang posisinya sama dengan pilihan yang lain. Ditengah arus politik dan kondisi social yang semakin tidak menentu, bercampur aduknya kepentingan pribadi, golongan dan bangsa semakin tidak jelas dan kabur. Kondisi pereknomian yang terasa semakin berat, harga kebutuhan pokok yang tidak stabil, kelangkaan bahan bakar minyak, PHK, KORUPSI dan sederet kondisi yang lain merupakan pupuk penyubur bagi tumbuhnya Golput, ditengah ladang garapan politik pada musim PEMILU atau PILPRES, karena bibit golput sebenarnya sudah lama ada dihati setiap orang, seiring dengan pertumbuhan peradaban manusia itu sendiri, hanya karena alasan tertentu tidak berani untuk memunculkan ke permukaan. Golput akan semakin subur dan akan semakin besar menjadi suatu kekuatan yang tak terkalahkan dan akan menjadi hantu yang sangat mengerikan bagi pihak yang merasa dirugikan akibat sikap yang diambil oleh golput. Ancaman berkurangnya dukungan moril maupun materiil, hilangnya suara dalam pemilihan umum merupakan sesuatu yang tidak diharapkan menimpa bagi para calon legistlatif. Program sudah dipaparkan, janji sudah ditebarkan, kritik terhadap kebijakan sudah dilemparkan, bahkan modal milyaran sudah diguyurkan dan pada akhir nya gagal karena kurangnya dukungan suara. Ngeri juga kalau sampai seperti ini……. Golput….oh golput…. Abstain… merupakan sikap pasif sebagai wujud dari ketidak setujuan terhadap sebuah keputusan dan sikap untuk tidak ikut bertanggung jawab atas akibat yang timbul dari sebuah keputusan atau kebijakan. Sebenarnya sikap abstain dan golput bisa dikatakan suatu tindakan yang serumpun, satu marga alias setali tiga uang, yang berarti sama saja. Beberapa waktu yang lalu sebuah kelompok di negeri ini mengeluarkan fatwa, salah satunya isi fatwanya mengharamkan Golput. Ada apa dengan mereka yang mem-fatwa-kan golput, dan kenapa golput sebagai penderitanya? Sebuah pertanyaan yang mengundang berjuta jawaban, dan berpotensi memicu kesalah pahaman secara lokal maupun nasional. Golput merupakan lahar dingin politik, kekuatan yang tidak dapat diprediksikan besarnya, tapi sudah dapat diperhitungkan akibat yang dapat ditimbulkan. Kelompok penguasa dan kelompok yang merasa paling suci dan paling benar merasa terancam dengan keberadaan golput. Demi penyelamatan dan kelangsungan kekuasaan mereka dengan bersembunyi dibalik sebuah atribut maka lahirlah pernyataan-pernyataan yang bertujuan menekan dan menghambat pertumbuhan golput itu sendiri. Sejujurnya tidak ada alasan untuk resah, kalau tidak mau disebut ketakutan, dengan keberadaan golput. Kalau kita memilki sikap arif, kita harus mempu melihat bahwa sebenarnya golput tidak akan lahir jika tidak ada perkawinan poligami antara sifat serakah karena punya kuasa dengan kebohongan, ketidak tulusan, pengkhianatan yang membodohkan. Kalau ini tidak segera kita sadari percaya atau tidak golput akan beranak cucu, cece, buyut, canggah….dan seterusnya….. Jadi…setuju atau tidak, haram atau tidak semua tergantung sikap kita dari sudut pandang mana cara melihat dan menyikapinya. Dengan tidak mengurangi rasa hormat tulisan yang berasal dari suara hati yang paling dalam tidak bermaksud untuk menyakiti siapapun, dan sekiranya ditemui hal yang kurang berkenan kiranya mohon dimaklumkan. Selamat menentukan sikap. Golput….oh…golput, bagaimana kalau Abstain…..(mbooh….wis, kareb mu…..!!!) Ditunggu komentar Anda Masher, Februari 2009. |




Komentar
Golput hanya akan menjadi bumerang bagi para Politisi kita dan kaum elitnya. mmengapa takut, disebabkan para caleg maupun partai tidak memiliki rasa percaya siri bahwa mereka telah berpihak pada kepentingan rakyat. selama ini para elit Politik kita terlalu banyak membohongi Rakyat dengan berbagai macam cara dan dalil hanya agar mereka bisa memperoleh jabatan dan memperkaya diri sendiri. sehingga ketika ada himbauan atau niat rakyat untuk golput para politisi kebakaran jenggot. karena harapan untuk memperoleh suara sebanyak - banyaknya akan semakin sulit diperoleh.
mengapa Golput difatwa haram, ini juga bagian dari Pembodohan terhadap rakyat dikarenakan yang mengeluarkan fatwa juga punya kepentingan Politik.
Mengapa rakyat memilih golput ?
Realita yang terjadi bahwa Partai maupun caleg sama sekali tidak memihak pada kepentingan rakyat, yang tidak di sadri oleh kaum politisi bahwa rakyat kita semakin rasional. maaf saya menghimbau jika di wilayah tempat anda memilih para caleg tidak ada yang berkualaitas dan rendah kapabilitinya
YUK.............GOLPUT AJA. ( itu ngk haram, Golput adalah salah satu pilihan )Jika ada Golput berarti Demokrasi di Negeri ini semakin baik
memilih menjadi GOLPUT = memilih TIDAK BERTANGGUNGJAWA B TERHADAP BANGSA DAN NEGARA.
Kalau mmg di Dapil tempat kita berada gak ada partai yang bisa kita percaya..Y golput aja..jgnn2 kita terpaksa memilih caleg tapi pada akhirnya caleg pilihan kitalah yang akan menindas kita kembali...
Tapi kalau mmg sudah ada orang yg selama ini kita liat kinerjanya baik dan sekarang menjadi caleg di Dapil kita... y bukan suatu yang salah kalau kita GOLTUS..
Y... Kn Bang BEni...??/
sarankan supaya jangan GOLPUT
suara anda adalah penyeimbang (balance)
mungkin ada politik udang dibalik rempeyek, eh, batu,pada anjuran GOLPUT ini.
kam tau ka tidak?
itu adalah hembusan dari dorang yang mau, supaya dong pu partai itu yang menang...
di beberapa daerah (pemilihan Bupati ato Walikota, ato Gubernur), pemenangnya, adalah dari partai kecil. Kenapa? karena tukang kampanye mereka berhasil meniup isu ini dengan sangat baik, sehingga pengikut partai2 besar termakan isunya.. Dengan begitu, dorang pasti menang to? karena dong pu suara, yang seharusnya kecil, tiba2 jadi besar, karena GOLPUT dilakukan oleh pengikut partai2 besar. Kalo kam pintar, kam su pasti tau ini....
Jadi, kam pikir2 lah...
Masa depan bangsa ini, ada ditangan kita. Lebih baik memilih yang terbaik diantara yang terburuk, daripada tidak sama sekali..
RSS feed untuk komentar posting ini.