Sesuai fungsi dan kegunaan-nya got atau selokan memiliki fungsi sebagai saluran pembuangan untuk mengalirkan limbah dari rumah-rumah maupun mengatur drainase akibat curah hujan dan sumber air yang mengalir permanen. Kita di Waingapu dan di Sumba secara keseluruhan memiliki musim panas yang jauh lebih panjang daripada musim penghujan. Sehingga kehadiran got/selokan seringkali kita abaikan di saat-saat musim kering atau panas. Kita sering lupa peran penting got/selokan.
Jika mendengar kata got mungkin yang terbayang di benak kita adalah sebuah selokan yang jorok dan “haranggat”, mungkin juga yang terbayang rangkaian sampah yang menjejali sebuah saluran. Mungkin juga Anda membayangkan sebuah saluran yang indah dan tertata rapi. Mungkin lagi yang terbayang adalah sebuah saluran di bawah trotoar yang tak terlihat. Tapi di Waingapu menurut saya inilah gambaran-nya; sebuah saluran yang berjajar di samping (bukan di bawah) trotoar, penuh dengan tumpukan sampah, lumpur dan kadang juga batu. Sebuah saluran selokan yang tinggal bekas karena gotnya sudah tertimbun tak layak lagi disebut got/selokan/saluran drainase, hanya sebagaian saja yang terlihat benar-benar sebagai got sebagaimana mestinya, terutama yang masih baru.
Ini bukan sikap pesimis, tetapi lihatlah betapa kita sering mengabaikan arti kehadiran got. Di saat musim panas/kering kita sering melihat got kita justru jadi tempat sampah. Ada kebiasaan yang menurut saya ini sudah keterlaluan. Bila ada warga yang hendak membangun sesuatu, kebetulan untuk mengangkut materialnya melewati got/selokan, kita pakai jalan pintas: menimbun got tersebut untuk jalan oto muat material. Kita tidak mau repot-repot bikin jembatan atau titian untuk melintasi got/saluran tersebut. Kebiasaan ini bisa berdalih demi penghematan, nanti kalau selesai bangunan bakal diangkat kembali timbunan tanah/batu tersebut. Ya kalau ingat, kalau tidak? Atau kalau lambat angkat kembali dan keburu hujan turun?!! Pasti bakalan macet got kita.
Anehnya kebiasaan ini bukan hanya milik warga yang misalnya pas-pasan dana dalam hal membangun. Kebiasaan ini juga dilakukan pihak-pihak yang sebenarnya untuk membuat titian bukanlah hal yang sulit dan mahal. Toko-toko, kantor-kantor dan kontraktor juga sering melalukan hal ini. Mungkin Anda menganggap terlalu mengada-ada. Ini sebuah contoh saja; Anda tahu museum dan taman bacaan Prof.DR.H.C Oe. H. Kapita? Bangunan ini sudah diresmikan sejak Mei 2007, tapi sampai akhir tahun 2008 selokan di depan bangunan taman bacaan masih tertimbun material untuk titian tadi. Sekedar omong kosong saja; Bangunan ini memiliki nilai bangunan dalam hitungan miliar, tapi untuk sebuah titian yang barangkali tak sampai lima jutaan saja apa terasa berat? Atau memang itu demi strategi meraup untung? Mungkin saja, maklum saya tak punya c.v. dan tak tahu itung-itungan kontraktor. Lihatlah, akibatnya di samping bangunan museum, dari sisi jalan Pemuda, got di situ macet total. Contoh lain; dari jembatan Payeti menuju Taman Kota, dari sisi kanan jalan sebenarnya kita memiliki got yang sudah lama dibangun. Tapi got ini kini “menghilang”, sebagian sudah tertimbun hanya kelihatan bekasnya saja. Sehingga ada pemandangan yang janggal bagi saya. Bila malam-malam setelah tutup warung, saya melihat anak buah warung Jawa menimba air got dari sisi kanan jalan diangkat menuju got di sisi kiri yang masih lancar-lancar saja. Hal ini tentu agar air got tidak tergenang di situ. Kalau itu hanya demi kepentingan warung, barangkali kita bisa bilang “kenapa tidak bikin peresapan sendiri?” Itu memang bisa dilakukan dan sudah dilakukan. Tapi masalahnya air got itu juga tergenang dari limpahan air hujan dari daerah di sekitar warung.
Masih banyak contoh lain betapa got kita sering kita abaikan. Di sekitar pasar inpres, di Matawai seputar Bank BNI, di Prailiu dan di banyak tempat yang mungkin Anda lebih tahu. Silahkan mendata sendiri dan tanpa kita sadari akan berada pada satu kesimpulan; memang kita masih sering mengabaikan kehadiran dan fungsi got/selokan.
Ada got lain yang ini merupakan sebuah nama; Kampung Got. Entah dari mana asalnya, sejak kapan dan siapa yang mempopulerkan nama ini. Daerah Matawai di sekitar Kantor Golkar Jl. Ahmad Yani, mulai dari masjid sampai di pertigaan dekat Kantor Kimpraswil, di situ kini terkenal dengan nama Kampung Got. Sekedar mengingatkan saja di Kampung Got ini beberapa bulan lalu ada musibah kebakaran yang menimpa sepasang suami-istri. Mungkin nama Kampung Got ini karena di wilayah itu memiliki got yang terbilang besar. Ukuran lebarrnya berkisar dua meteran. Melintas mulai dari belakang masjid menuju pertigaan dekat Kantor Kimpraswil terus melintasi jalan Ahmad Yani menuju Manubara terus sampai di pantai. Walau ukurannya sudah terbilang besar namun got ini tak jarang juga macet karena timbunan sampah. Kampung Got, nama yang sedikit aneh tapi nama ini kini semakin popular. Bahkan ada sebuah counter celluler yang dalam iklannya di radio jelas-jelas menyebutkan alamatnya di Kampung Got.
Sedikit berbagi cerita, suatu pagi saya membersihkan got di depan rumah. Pagi-pagi sekali (maklum ada rasa malu juga bersih-bersih got sendirian). Bukan sok rajin bukan pula sok mau jadi warga yang baik, tapi ini semua demi meringankan kerja saya sendiri. Kalau datang hujan deras dan macet got di depan rumah saya, airnya meluber masuk dalam rumah saya. Maka semakin nambahi kerja saya kalau air sudah masuk rumah. Pagi-pagi itu kawan saya lewat dan berkomentar: “Wah rajin o.., tapi kenapa dibersihkan sendiri, kan sudah ada petugas kebersihan kota?” Saya cuma tersenyum menanggapi komentar itu. Di lain kesempatan, masih pagi-pagi juga, saya melihat petugas kebersihan menyapu jalan dan kotorannya di arahkan ke got yang saya bersihkan itu. Saya mau menegur jadi nggak tega. Maklum sebelumnya malam-malam sekitar jam dua-an saya sudah melihat petugas itu menyapu jalan sepanjang jalan Ahmad Yani di depan Kantor PLN dan sekitar jam lmaa-an baru nyampe di depan BRI. Dalam benak saya, sungguh tak arif walau sekedar menegurnya. Akhirnya saya hanya sekedar menyapa.
Ada sebuah Negara yang terkenal karena penataan kanal-kanal pembuangan dan sungai dalam kotanya yang begitu rapi dan indah, yaitu di Belanda. Sahabat saya yang baru pulang dari sana begitu antusias menceritakan keindahan suatu kota di Belanda. Ia menunjukkan foto-foto berlatar kanal-kanal yang menawan. Sahabat saya ini adalah Heinrich pemilik MAX FM. Bahkan kini seorang kawan mantan penyiar MAX FM berkesempatan tinggal di negeri Belanda. Dua sahabat saya ini tentu akan pula bermimpi memiliki kota yang tertata rapi seperti yang pernah dilihatnya di Belanda. Kita pun memimpikan Waingapu yang teratur dan tertata rapi. Mimpi itu barangkali bisa saja kita wujudkan dari hal yang paling kecil dan sepele: mari belajar menghargai got kita.
Bicara tentang got tak ubahnya seperti got lain dalam tubuh kita ini. Kita punya organ-organ metabolisme yang berfungsi seperti sebuah got/selokan, sebagai saluran pembuang kotoran dalam tubuh. Kotoran dalam tubuh kita berupa; keringat, wai palinju dan po’e kita sebagai kotoran yang mesti dibuang lewat got itu. Got/selokan/saluran dalam tubuh kita itu bila macet salah satu saja, niscaya kita bakalan berurusan dengan dokter. Demikkian halnya dengan got dalam kota kita, bila got-got itu macet maka tubuh (kota) kita akan sakit. Air akan tergenang di mana-mana, becek, bau dan menimbulkan pemandangan yang tak sedap. Parahnya lagi bisa saja akan benar-benar menimbulkan penyakit yang sesungguhnya.
Kita kembali pada got di dalam kota kita. Tanggungjawab siapa ini sebenarnya? Tidak usah menunjuk siapa-siapa, saya lebih suka mengklaim ini sebagai tanggung jawab kita semua. Kita disini termasuk Anda dan saya. Itu pun kalau Anda setuju. Sebelum belajar sok perhatian dengan got dalam kota kita, saya akan belajar menghargai got saya sendiri. Got/selokan/saluran dalam tubuh saya sudah menunjukkan sinyal untuk melakukan fungsinya sebagai saluran pembuang kotoran. Sebelum got saya itu macet dan urusanya jadi panjang, mohon permisi saya mau “palinju” dulu. Serius!!
Waingapu, 23-12-2008 Waingapu, 29-01-2009
Catatan:
Haranggat: awut-awutan/ semrawut Palinju: buang air kecil/kencing Wai: air (Untungnya awal Januari 2009 menjelang Raker Bupati se NTT, got itu sudah dibersihkan dan timbunan batu di selokan menuju Taman Bacaan sudah diangkat..) |
Komentar
Jadi rindu sama pasukan kuningnya Om Huka yang pernah merajalela di kota waingapu!
RSS feed untuk komentar posting ini.