Heboh, Ada Buaya di Sawah Warga |
|
|
|
| Ditulis oleh Bonefasius Sambo |
| Kamis, 08 September 2011 09:28 |
Buaya ditangkap oleh warga
Seekor buaya ditemukan pada lokasi sawah warga Kamutuk Tana, Dusun Watu Kawuru, Desa Kaliuda, Kecamatan Pahunga Lodu pada hari Sabtu (03/09/2011) jam 07.30 Wita. Buaya ini ditemukan oleh Kawanga bersama ibunya yang juga merupakan warga pemilik sawah. Menurut Kawanga, ia menemukan golongan reptile ini diawali dengan menemukan jejaknya. Selanjutnya ia mencoba menelusuri jejak itu, dan pada akhirnya buaya itu ditemukan pada salah satu hamparan padi yang menghijau. Karena merasa berbahaya Kawanga pun memberitahukannya kepada beberapa petani yang ada disekitar tempat kejadian itu. Tidak menunggu waktu lama, warga berbondong-bondong menuju ke lokasi dimana buaya itu ditemukan. Untuk menghindar padi dari kerusakan yang lebih parah, maka buaya itu ditangkap oleh warga dan di bawah pada tempat yang lebih aman. Tujuannya agar bisa disaksikan oleh warga, dan selanjutnya buaya tersebut diangkut untuk dikembalikan ke habitatnya. Kejadian ini cukup menghebohkan warga. Karena kejadian ini dianggap aneh. Walaupun demikian, kejadian serupa sudah beberapa terjadi di Desa Kaliuda. Dari informasi yang diperoleh dari beberapa orang warga setempat, bahwa kehadiran buaya di sawah kali ini adalah kali ketiga. Yang pertama di tahun 2000, dan kali kedua pada tahun 2004. Lebih lanjut mereka menceritakan, setiap kehadiran di tempat mereka buaya itu membawa pertanda khusus. Buaya itu ada karena ada penyebabnya, sehingga untuk mengembalikan buaya itu ke habitat asalnya diperlukan perlakuan atau ritual khusus.
Buaya dilepas kembali
Seperti kejadian pada tahun 2000,misalnya, seekor buaya ditemukan yang pada saat itu hampir seluruh sawah warga sedang mengalami serangan hama belalang yang luar biasa. Melalui saran dari beberapa tokoh adat, buaya itu diperlakukan secara khusus melalui ritual adat. Buaya disuguhi pahapa (siri pinang), diberi cincin emas, dan kain merah. Konon katanya, buaya adalah jelmaan dari roh para leluhur. Seusai ritual tersebut, buaya diusung dan di bawa kembali ke tempat asalnya. Setelah beberapa hari, menurut warga hama belalangpun berkurang dan hilang. Buaya juga bagi masyarakat setempat dianggap binatang pendendam. Hal ini terbukti ketika salah satu warga mencoba memberi tantangan kepada buaya yang tidak jauh dari lokasi rumah warga itu. Pada suatu waktu, buaya itu ditemukan di sekitar rumah warga tadi. Untung baginya, ia tidak diapa-apakan oleh buaya itu. Kejadian yang terjadi baru-baru ini cukup mengundang perhatian warga. Karena kehadiran buaya kali ini hampir mirip dengan kehadiran buaya sebelas tahun lalu. Saat ini sawah petani sedang dilanda hama tikus. Sawah nihil hasil. Harga beras mulai melonjak dari harga awal Rp 250 ribu/karung kini menjadi Rp 400 ribu/karung. Hama tikus semakin garang menyerang tanaman padi yang masih hijau (14 hari) sampai pada padi yang sedang berbunga. Bisa jadi warga akan kekurangan bahan pangan di waktu yang akan datang. Didasari pengalaman-pengalaman sebelumnya, akhirnya beberapa warga memperlakukan secara khusus untuk buaya itu. Seperti biasanya, dilakukan sesuai ritual adat. Buaya itu diusung dan diarakan menuju muara yang disinyalir merupakan tempat asal dari buaya itu. Masyarakat setempat masih memercayai mitos-mitos yang merupakan tradisi para leluhur. Walau kepercayaan itu ada tengah agama modern seperti saat ini. Kebiasaan dari warga setempat ini, kita mungkin jarang menjumpai di tempat lain. Tapi di bumi marapu kita bisa saksikan kejadian nan unik ini. Barangkali hal ini merupakan kearifan lokal yang patut dipertahankan. Keseimbangan alam juga bersumber dari kehadiran masyarakat religious seperti itu. Dari cerita yang berkembang, ada segelintir warga yang mencoba mengira-ngira dengan harapan setelah buaya itu diantar ke habitatnya hama tikus bisa segera hilang dari sawah-sawah para petani. |
Berita Terkini
18 May 2012
- 17 May 2012 Jembatan Darurat Payeti: Telah Dibangun dengan Model yang Lebih 'Akrab' dengan Kaum Perempuan
- 16 May 2012 Hujan Berkepanjangan: Cemaskan Warga Pengguna Jembatan Darurat Payeti
- 10 May 2012 MTQ NTT akan Diinkulturasi: Bentuk Dukungan, Usulan Tenun Sumba Jadi Warisan Dunia
- 09 May 2012 Sebrangi Sungai & Bukit Terjal: Siswa SD Bidipraing Akhirnya di Asramakan Selama Pelaksanaan UN
- 08 May 2012 Listrik Proyek PNPM hanya Pajangan: Anak Lai Hiding Belajar Pakai Pelita untuk Hadapi UN
- 03 May 2012 PLN Janji Bina & Tindak Pencatat Meter Nakal
- 27 April 2012 Tikus ‘Invasi’ Lahan Pertanian : Warga Kombapari Terancam Gagal Panen
- 26 April 2012 Warga Mengadu ke DPRD: Diduga Petugas Pencatat Meter PLN Kerja ‘Curi Tulang’
- 24 April 2012 Cara Siswa/i SMPN Nggoa Hadapi UN: Gunakan Lampu Pelita Saat Belajar, Jalan Kaki 7 KM ke Sekolah
- 16 April 2012 Diduga Karena Belum Terima Gaji, Staf Dispenduk Sumba Timur Mogok Berkantor
- 13 April 2012 Naskah Ujian Nasional di Sumba Timur Kurang
- 08 April 2012 18 Tahun Didera Hydrochepalus & Lumpuh: Walau Lirih, Zakarias Tetap Bersenandung
- 06 April 2012 Jemaat GKS Kambaniru Gelar Prosesi Jalan Salib
- 05 April 2012 Sekolah di Sumba Timur, 75% Dibawah Standart Mutu Nasional
- 04 April 2012 Apresiasi Perjuangan Anak Lai Hiding: Dinas PPO Sumba Timur Rencanakan Bangun Sekolah Paralel
- 03 April 2012 Belajar dari Agustinus: Sosok Sederhana di Balik Perjuangan Anak-Anak Lai Hiding
- 31 March 2012 ‘Uji Nyali’ Anak Dusun Lai Hiding: Ke Sekolah Bagaikan Terjun ke Arena Sabung Nyawa
- 29 March 2012 Bangunan Pasar Papuu dan Kiritana Mubazir: TPI & Pabrik Es Waingapu Bernasib Serupa
- 28 March 2012 Harga BBM Belum Resmi Naik: Harga Sejumlah Sembako Menang Satu Langkah!




