Lupa Password? Lupa Username? Buat akun
Anda berada di >
Sab 19 May 2012
Banner

Heboh, Ada Buaya di Sawah Warga

PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Bonefasius Sambo   
Kamis, 08 September 2011 09:28
Buaya ditangkap oleh warga

Seekor buaya ditemukan pada lokasi sawah warga Kamutuk Tana, Dusun Watu Kawuru, Desa Kaliuda, Kecamatan Pahunga Lodu pada hari Sabtu (03/09/2011) jam 07.30 Wita.

Buaya ini ditemukan oleh Kawanga bersama ibunya yang juga merupakan warga pemilik sawah. Menurut Kawanga, ia menemukan golongan reptile ini diawali dengan menemukan jejaknya. Selanjutnya ia mencoba menelusuri jejak itu, dan pada akhirnya buaya itu ditemukan pada salah satu hamparan padi yang menghijau.

Karena merasa berbahaya Kawanga pun memberitahukannya kepada beberapa petani yang ada disekitar tempat kejadian itu. Tidak menunggu waktu lama, warga berbondong-bondong menuju ke lokasi dimana buaya itu ditemukan. Untuk menghindar padi dari kerusakan yang lebih parah, maka buaya itu ditangkap oleh warga dan di bawah pada tempat yang lebih aman. Tujuannya agar bisa disaksikan oleh warga, dan selanjutnya buaya tersebut diangkut untuk dikembalikan ke habitatnya.

Kejadian ini cukup menghebohkan warga. Karena kejadian ini dianggap aneh. Walaupun demikian, kejadian serupa sudah beberapa terjadi di Desa Kaliuda. Dari informasi yang diperoleh dari beberapa orang warga setempat, bahwa kehadiran buaya di sawah kali ini adalah kali ketiga. Yang pertama di tahun 2000, dan kali kedua pada tahun 2004. Lebih lanjut mereka menceritakan, setiap kehadiran di tempat mereka buaya itu membawa pertanda khusus. Buaya itu ada karena ada penyebabnya, sehingga untuk mengembalikan buaya itu ke habitat asalnya diperlukan perlakuan atau ritual khusus.

Buaya dilepas kembali

Seperti kejadian pada tahun 2000,misalnya, seekor buaya ditemukan yang pada saat itu hampir seluruh sawah warga sedang mengalami serangan hama belalang yang luar biasa. Melalui saran dari beberapa tokoh adat, buaya itu diperlakukan secara khusus melalui ritual adat. Buaya disuguhi pahapa (siri pinang), diberi cincin emas, dan kain merah. Konon katanya, buaya adalah jelmaan dari roh para leluhur. Seusai ritual tersebut, buaya diusung dan di bawa kembali ke tempat asalnya. Setelah beberapa hari, menurut warga hama belalangpun berkurang dan hilang.

Buaya juga bagi masyarakat setempat dianggap binatang pendendam. Hal ini terbukti ketika salah satu warga mencoba memberi tantangan kepada buaya yang tidak jauh dari lokasi rumah warga itu. Pada suatu waktu, buaya itu ditemukan di sekitar rumah warga tadi. Untung baginya, ia tidak diapa-apakan oleh buaya itu.

Kejadian yang terjadi baru-baru ini cukup mengundang perhatian warga. Karena kehadiran buaya kali ini hampir mirip dengan kehadiran buaya sebelas tahun lalu. Saat ini sawah petani sedang dilanda hama tikus. Sawah nihil hasil. Harga beras mulai melonjak dari harga awal Rp 250 ribu/karung kini menjadi Rp 400 ribu/karung. Hama tikus semakin garang menyerang tanaman padi yang masih hijau (14 hari) sampai pada padi yang sedang berbunga. Bisa jadi warga akan kekurangan bahan pangan di waktu yang akan datang.

Didasari pengalaman-pengalaman sebelumnya, akhirnya beberapa warga memperlakukan secara khusus untuk buaya itu. Seperti biasanya, dilakukan sesuai ritual adat. Buaya itu diusung dan diarakan menuju muara yang disinyalir merupakan tempat asal dari buaya itu.

Masyarakat setempat masih memercayai mitos-mitos yang merupakan tradisi para leluhur. Walau kepercayaan itu ada tengah agama modern seperti saat ini. Kebiasaan dari warga setempat ini, kita mungkin jarang menjumpai di tempat lain. Tapi di bumi marapu kita bisa saksikan kejadian nan unik ini. Barangkali hal ini merupakan kearifan lokal yang patut dipertahankan. Keseimbangan alam juga bersumber dari kehadiran masyarakat religious seperti itu.

Dari cerita yang berkembang, ada segelintir warga yang mencoba mengira-ngira dengan harapan setelah buaya itu diantar ke habitatnya hama tikus bisa segera hilang dari sawah-sawah para petani.

 

Untuk mengirim komentar di situs ini, silahkan login dulu, atau gunakan layanan komentar dari facebook di atas :)

Berita Terkini

Drainase Wangga & Kambaniru: Telan Anggaran Lebih dari Rp. 3 Milyar
18 May 2012
article thumbnailWaingapu.com - Banjir yang sering melanda sejumlah wilayah di Kelurahan Wangga dan Kelurahan Kambaniru, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur ( Sumtim), NTT, setiap tahun, pada saat musim...
Banner