Irama Kandingangu di Malioboro |
|
|
|
| Ditulis oleh Admin |
| Selasa, 15 Desember 2009 22:47 |
|
Hal ini disampaikan oleh Rambu Eri selaku Manajer Sanggar Tari Makahaungu dalam Pekan Seni Rakyat yang diselenggarakan oleh Persatuan keluarga Berenca Indonesia (PKBI) Yoyakarta untuk memperingati Hari Aids Sedunia. Acara yang mengusung tema Kinarya Lan Makarya Sesarengan ini dilakukan di Monumen Sebelas Umum Satu Maret, Malioboro, Yogyakarta pada 5 Desember 2009.
Pada pementasan tersebut, tim penari Makahaungu beranggotakan Mardyani Susana Pandjandji, Yaneta Konga Naha, Risti Rambu Hamu Eti, Resti Rambu Ana, Jemry Rambu Lika Enga, Prisdta Rambu Anahutar, Zainabo Binti Mansur Umbu Lakar dan Herlin Pindi Djola. Sementara tim kayaka dan pengiring digawangi oleh Umbu Romu Ndakularak, Umbu Aprianus Mehang Kunda, Umbu Erwin Hamandika dan Umbu Yerimias D.B. Praing, Rambu Novi, Ferdinand Umbu Djarawula, Fitar Ndjurumana, Umbu Erson, Umbu Pandabanjal, dan Umbu Meka. Seusai pementasan, pihak panitia mengapresiasi positif penampilan Makahaungu. Menurut mereka, tarian tersebut mampu menyemangati penonton dan memberikan suasana yang berbeda pada perayaan pekan seni rakyat tersebut. Panitia juga mengucapkan terimakasih sekaligus berharap Makahaungu kelak dapat tampil lagi dalam acara pentas seni lainnya. Jimbe Jika pada pementasan di “Malam Indonesia”, Makahaungu menggunakan Gendang Jawa maka kali ini Jimbe yang digunakan sebagai pengganti Tambur. Walaupun demikian dihadapkan pada kondisi tersebut, semangat untuk memperkenal budaya Sumba lewat tarian tidak berkurang. Hal ini membuktikan bahwa keterbatasan bahkan kekurangan tidak dapat dijadikan alasan untuk enggan mengenalkan bahkan melestarikan budaya Sumba. Kreatif menjadi kata kunci untuk tetap eksis. Terlepas dari berbagai keterbatasan tersebut, bagi Makahaungu sendiri pementasan malam itu menjadi puncak dari rentetan penampilan mereka sepanjang tahun 2009 ini. Sebuah harapan lugas dan sederhana, Kita berharap, Makahaungu tetap eksis di tahun-tahun berikutnya. SEMOGA!
|




Kandingangu adalah tarian asli masyarakat Sumba Timur yang pada jaman dahulu dipentaskan guna merayakan kegiatan adat besar, seperti acara perkawinan atau penyambutan tamu golongan bangsawan. Pada masa perang, tarian ini kemudian dipentaskan guna menyambut para pejuang yang pulang perang.
Seusai sesi perkenalan, sanggar tari Makahaungu menampilkan tarian Kandingangu dengan penuh semangat. Penampilan mereka pun kian meriah ketika tim kayaka juga meneriakkan “Kayaka’ya” hingga berkali-kali. Penampilan mereka malam itu sangat khas karena dalam pekan seni rakyat tersebut, Makahaungu menjadi satu-satunya wakil dari luar Yogyakarta dan pulau Jawa.

Komentar
hehehehehe.......
ho kayyakaya... wuuu,yalllalala lal..eeeele.elaela...
RSS feed untuk komentar posting ini.