Lupa Password? Lupa Username? Buat akun
Anda berada di >
Sel 07 Februari 2012

Jadi Tumbal

PDF Cetak Surel
Ditulis oleh nelang   
Minggu, 13 Januari 2008 23:27

Telah banyak darah hewan besar yang tumpah di tanah Sumba. Telah banyak hewan yang tumbang dan berkorban mati dibantai untuk sebuah keagungan.

Ironis memang, ketika pengorbanan hewan yang sudah tak terhitung jumlahnya, hingga saat ini tidak membawa perubahan apa-apa pada "anak marapu". Pesta adalah tujuan yang kamuflase dari kemirisihan tempo dulu.

Siapa yang melihat itu sebagai keagugan? Siapa yang bilang itu adalah tindakan hebat? Yang ada hanyalah sumpah serapah para arwah hewan yang telah mati.

Kita orang Sumba, kalo mo rayakan sesuatu harus potong hewan, itu baru namanya pesta. Kita pung pesta kan untuk basanang-sanang, apa lai itu Hinggi deng Lau Pahikung su jadi, ha..ha..

 

Komentar  

 
0 #1 Guest 2009-09-11 02:42
halo tau humba!!!!!!!!!!

inilah kehidupan budaya sumba yg sngat disyangkan, jka dilihat dri kcamata budaya hal tersebut adalh suatu keagungan n'kebanggaan tp jk dlihat dri sisi ekonomi, hal trsbut sgt mrugikan.
ada baiknya diadkan kspkatan dri tua-tua adat n'ahli budaya untuk mngurangi pembantaian hewan.
jgn jdkan ajang pembantaian hewan sbagai alat ungtuk menunjukkan prestise dalam masyarakat.
GBU
 
 
0 #2 Guest 2009-09-11 09:33
Kalau tidak salah (berarti benar) dulu sudh pernah ada perda yang mengatur pemotongan hewan sebagai tumbal, entah sekarang...Tapi yang pasti motong hewan saat keamtian sebagai bekal sang mati hanyalah pemborosan, semantara rakyat sumba butuh dana yang banyak untuk menyekolahkan anaknya dan keperluan lainnya. Bahkan dalam pesta kawin mawinpun pemotongan hewan tidak terukur, jadi pemcorosan lagi. Jadi bagaimana? Sampai kapan akan demikian? Jawabnya ada pada kaum muda sumba sendiri. Bravo. Mari kita bangun sumba dengan lebih hati-hati dan terukur. Tuhan memberkati
 
 
0 #3 Samuel Domu Pabundu 2009-10-08 22:05
Saya sangat tertarik dengan hal ini, ada suku lain yang sama persis budayanya dengan orang Sumba yaitu Suku Toraja, tetapi mereka lebih banyak sebagai perantau yang sukses, dapat mencari uang yang begitu banyak untuk acara kuburan orang mati. Ada kerbau belang yang terpilih yang harganya ratusan juta seekor, dan biasanya ratusan ekor kerbau yang jadi tumbal pada saat acara kubur orang mati. Tetapi anak-anak mereka tetap sekolah sampai perguruan tinggi,hal ini yang perlu kita pelajari dan tiru, apa resep mereka? Sehingga mereka lebih banyak yang sekolah dan sukses. Mengapa kita di Sumba tidak bisa seperti itu? Kita lebih pentingkan kubur orang mati dari pada kasih sekolah anak! padahal keduanya sangat penting. Kalau anak di kasih harta, akan cepat habis. kalau dikasih pendidikan, tentunya akan semakin baik.
 

Tambah komentar


Kode keamanan
Refresh