Anda berada di >
Sel
07
Februari 2012
Jadi Tumbal |
|
|
|
| Ditulis oleh nelang |
| Minggu, 13 Januari 2008 23:27 |
|
Ironis memang, ketika pengorbanan hewan yang sudah tak terhitung jumlahnya, hingga saat ini tidak membawa perubahan apa-apa pada "anak marapu". Pesta adalah tujuan yang kamuflase dari kemirisihan tempo dulu. Siapa yang melihat itu sebagai keagugan? Siapa yang bilang itu adalah tindakan hebat? Yang ada hanyalah sumpah serapah para arwah hewan yang telah mati. Kita orang Sumba, kalo mo rayakan sesuatu harus potong hewan, itu baru namanya pesta. Kita pung pesta kan untuk basanang-sanang, apa lai itu Hinggi deng Lau Pahikung su jadi, ha..ha.. |



Telah banyak darah hewan besar yang tumpah di tanah Sumba. Telah banyak hewan yang tumbang dan berkorban mati dibantai untuk sebuah keagungan.

Komentar
inilah kehidupan budaya sumba yg sngat disyangkan, jka dilihat dri kcamata budaya hal tersebut adalh suatu keagungan n'kebanggaan tp jk dlihat dri sisi ekonomi, hal trsbut sgt mrugikan.
ada baiknya diadkan kspkatan dri tua-tua adat n'ahli budaya untuk mngurangi pembantaian hewan.
jgn jdkan ajang pembantaian hewan sbagai alat ungtuk menunjukkan prestise dalam masyarakat.
GBU
RSS feed untuk komentar posting ini.