Jadikan Belajar Sebagai Hobi |
|
|
|
| Ditulis oleh Admin |
| Minggu, 29 Juli 2007 05:16 |
|
Waingapu.Com - Salim Umar hanya dikenal sebagian orang di kota Waingapu. Tidak banyak memang yang mengenal sosok Salim. Siswa lulusan SMA Negeri 1 Waingapu tahun 2006 ini kini sudah menduduki bangku kuliah di ITB jurusan Kimia. Waktu itu, namanya baru menjadi pembicaraan dikalangan para siswa dan guru setelah Salim kembali membawa pulang medali perunggu dari kota besar Jakarta dalam ajang bergengsi Lomba Olimpiade Sains Nasional. Siapa yang menduga kalau Salim mewakili NTT dalam Lomba Olimpiade Sains Nasional tersebut? Berikut ini hasil bincang-bincang waingapu.com dengan Salim Umar di rumah orangtunya yang sederhana yang berlamat di Jl. Juanda No 15 Waingapu. Salim, bagaimana ceritanya sehingga Anda bisa meraih prestasi yang mengharumkan Sumba Timur ditingkat nasional? Setelah sampai ditingkat nasional saya berada pada urutan 21 dari 30 peserta sehingga mendapat medali perunggu. Setelah itu kami yang 30 peserta tadi kembali ke daerah masing-masing dan 1 bulan kemudian dipanggil lagi ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan. Selama 1 bulan kami dilatih di Jakarta oleh dosen-dosen UI dan ITB. Setelah itu kami kembali lagi ke daerah masing-masing kemudian 3 minggu kemudian kami dipanggil lagi untuk mengikuti seleksi, dan dari hasil seleksi tersebut akan diambil 15 orang. Dari pelaksanaan seleksi tersebut saya berhasil naik dari urutan 21 menjadi urutan 12, kemudian pada seleksi berikutnya lagi saya menduduki peringkat 9.
Bagaimana proses penilaian lomba ditingkat nasional tersebut? Bagaimana proses belajar untuk mempersiapkan diri dalam dalam lomba tersebut? Salim mengikuti jejak kakak kandungnya, Sonia yang juga pernah mengikuti Lomba Olimpiade Sains Nasional tahun 2004 di Pekanbaru. Meski Sonia tidak berhasil membawa pulang medali, tapi sang kakak bangga memiliki adik seperti Salim. Sekarang Sonia sedang menempuh kuliah di Universitas Indonesia jurusan kimia. Perjuangan Salim mengikuti lomba olimpiade tersebut tidak lepas dari dukungan guru membimbing dan orang-orang terdekat terutama keluarganya. Ada cerita menarik dibalik perjuagan Salim untuk bisa berangkat ke Jakarta ketika dipanggil untuk mengikuti seleksi tersebut yang dilaksanakan di ITB. Cerita ini dikisahkan oleh ibunya. Waktu itu Salim ditelpon dari Jakarta agar besok sudah harus berada di Jakarta untuk mengikuti seleksi 15 besar. Saat itu kami tidak memiliki persiapan karena kami bukan orang berkecukupan. Tapi demi membawa nama sekolah dan kabupaten, kami mencari pinjaman uang ke sana kemari hari itu juga. Malamnya saya membeli kain 4 meter untuk menjahitkan pakaian yang akan dipakai Salim saat pelaksaan seleksi tersebut. Saya sendiri yang jahit karena kebetulan saya bisa menjahit. Besoknya, kami berangkat ke bandara dengan menumpangi ojek karena tidak diantar oleh pihak yang seharusnya berkepentingan dengan event tersebut. Tapi tidak apa-apalah, karena dalam keadaan kami yang berkekurangan ini, kami selaku orang tua, dan akak-kakaknya tetap mendukung Salim. Untunglah dengan prestasinya sekarang ini dia bisa membiayai kuliahnya karena adanya beasiswa unggulan yang disediakan dinas pendidikan pusat. Setelah selesai kuliah nanti di ITB, apakah masih ada keinginan pulang ke Waingapu untuk membangun daerah? Apa harapan Salim dalam bidang pendidikan di kabupaten Sumba Timur? |







Komentar
so aq jga pingin sama kayak ka2
RSS feed untuk komentar posting ini.