John Elo: Dulu Kenek Truk, Kini Jadi ‘Raja’
Ditulis oleh ion  
Minggu, 17 Juni 2012 15:45

Waingapu.Com - Yohanis Elo Kaka (42) pemimpin grup usaha Surya Mekar, bukan lagi sosok yang asing bagi warga pulau Sumba, khususnya di Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT. Pria bersahaja asal Palla, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) yang lebih akrab disapa John Elo itu, dulunya memang sempat tak diperhitungkan oleh pelaku bisnis dan kontraktor di Sumba. Namun kini, seiring dengan semangat pantang menyerah yang selalu ditanamkan dalam kalbunya, pria yang dulu hanya sebagai ‘konjak’ (kenek,-red) kini tak lagi dipandang sebelah mata oleh para saingan dan kolega dunia bisnis di Sumba.

“Saya hanya tamat SMA jurusan IPS. Saya awalnya berjuang keras untuk hidup saya dan keluarga saya. Awalnya saya jadi konjak atau ikut truk proyek. Juga pernah jadi guru honor SMP. Uang yang saya dapat saya tabung dan kemudian saya pakai untuk membangun usaha dengan dana atau modal seadanya, namun saya tunjang dengan semangat dan doa pada Tuhan,” jelasnya kala di temui di kediamannya di bilangan Kelurahan Kambadjawa, pekan silam.

Siapa sangka? Kuku-kuku bisnis mulai ditancapkan di kota Waingapu bahkan seluruh Pulau Sumba. Diawali dari sebuah mesin foto copy bekas dan seunit sepeda motor tua, kini lebih dari empat puluh outlet foto copy dibangun di sejumlah titik strategis pada empat kabupaten yang ada di Pulau Sumba. Usahanya yang mana kemudian seakan menasbihkannya sebagai ‘Raja foto copy’ se-Sumba .

“Awalnya saya juga orang yang makan gaji di para pengusaha keturunan China. Lalu juga ikut keluarga yang juga seorang pengusaha. Dari merekalah saya belajar berbisnis dan memacu semangat saya. Dengan uang tabungan seadanya, saya kemudian menjual motor butut saya untuk menjadi modal awal saya membeli mesin foto copy bekas yang telah rusak dan biaya sewa tempat. Mesin itu saya perbaiki lalu mulai saya buka usaha, tepatnya pada tahun 2005 lalu,” urai John.

Tak cuma usaha foto copy yang dikembangkannnya. Usaha lainnya dalam bidang kontruksi dan pengadaan barang dan jasa juga digeluti pria yang merupakan ayah dari tiga orang putera dan juga tiga orang puteri buah perkawinannya dengan Magdalena Umbu Deta, isterinya tercinta. Usaha toko Alat Tulis Kantor (ATK) hingga jadi pembudidaya dan pemasok anakan tanaman produksi dan kehutanan itu juga terus dikembangkan pria yang pernah menjadi sales asuransi itu.

Usaha dalam bidang pembibitan dan penyediaaan anakan tanaman produktif dan kehutanan itu kini terus berkembang dan juga terus membersarkan namanya. “Saya seorang pencinta lingkungan dan tanaman, cara padang saya sangat sederhana. Dulu antara tahun 1970-an hingga akhir 1980-an, kita masih sering melihat pohon-pohon besar. Banyak pohon yang tumbuh dan hidup di hutan-hutan. Pohon cendana bukan hanya tumbuh di Pulau Timor, tapi di Sumba juga ada dan itu adalah salah satu jenis tanaman hutan yang menjadi kebanggaan orang Sumba. Curah hujan juga stabil dan tidak terlalu banyak daerah yang mengeluh kekeringan atau kekurangan air bersih. Kalau kita bandingkan dengan realitas yang terjadi sekarang, semuanya itu sudah tidak ada lagi. Alam Sumba kini kurang bersahabat lagi karena semuanya telah rusak. Udara yang dahulunya tidak terlalu panas dan sejuk sekarang berubah drastis dan sangat ekstrem. Idealnya luas hutan yang dimiliki oleh sebuah kabupaten itu minimal 30 persen dari total luas wilayah yang dimiliki,“ paparnya.

Namu sayang, demikian lanjut John, Sumtim yang merupakan daerah yang paling luas di Propinsi NTT dengan wilayah teritorial seluas kurang lebih 7000,5 km². Luas hutan yang dimiliki hanya enam persen. Kawasan hutan yang dimiliki 261.466,34 hektar dari total wilayah teritorial seluas 7000,5 km².

“Itulah nilah yang membuat saya prihatin dan terpanggil untuk bergerak dibidang lingkungan hidup. Melalui usaha seperti ini, sebagai orang Sumba, saya juga ingin menabung pohon untuk anak cucu dan generasi muda di daerah ini. Tiap tahun rata-rata bisa menangkar 500 hingga 600 ribu anakan pohon, kemudian dilempar ke pasar. Pemerintah dan swasta lewat berbagai program penghijauan yang dilaksanakan baik di bidang pertanian maupun kehutanan yang biasanya memanfaatkan anakan pohon dari lokasi penangkaran saya selama ini. Kalau ada kegiatan yang sifatnya untuk penghijauan, saya tidak pungut biaya dari anakan diambil. Namun harus ada jaminan anakan yang diambil harus ditanam, dirawat hingga tumbuh dan tidak diambil untuk dijual lagi. Selama ini yang saya semaikan, antara lain, Kaduru, Lubung, Inji Watu. Jati, Mahoni, Gamalina, Kadimbil, Kiru, Kelapa, Mete, Kakao, Pinang, Kopi dan Kemiri,” beber pria yang kini lewat usaha persemaian ini diakui para pelaku bisnis sebagai ‘maestro’ pengusaha pembibitan dan persemaian di Sumba. (ion)

Share