| Ka Te Pe (Parodi Birokrasi) |
|
|
| Kontributor: Yongky HS |
| Rabu, 06 May 2009 12:51 |
|
“Bayangkan berapa kita mesti keluar uang hanya untuk mau urus KTP Nasional? Memang murah, dorang bilang hanya lima belas ribu, tapi kita dari kampung mesti ke kota. Berapa ongkos otonya dan ongkos makan minumnya. Sudah begitu sampai di kota, baik kalau selesai memang, kadang mesti pulang balik lagi karena tidak bisa selesai satu hari. Itu saja kadang masih salah-salah ketik, padahal sudah pakai komputer yang canggih, fotonya juga sekali jepret jadi memang. Seharusnya kan bisa jadi memang dan tidak usah tunggu sampai berhari-hari. Tapi ini na, bisa bikin kita-kita yang di kampung jauh dari kota mesti jual ayam dulu untuk urus KTP”, comel Ina Anu di depan Kantor Dispenduk. “Begitu sudah Ina, kadang kita ini masih harus bersabar kalau berurusan dengan urusan-urusan begini ini. Harus kita maklumi, dorang itu juga sibuk melayani dengan berbagai pekerjaan, bukan cuma urus kita punya KTP saja. Kadang yang urus KTP juga banyak, makanya harus antri”, kata Mama Nona menanggapi. “Ah, kerja apa memang? Dorang sudah itu yang kerjanya cuma urus KTP, hari-hari ya itu sudah dia punya kerja. Dorang sendiri sudah yang bikin ini kerja macam tasibuk sekali. Biar kalau ada orang urus KTP terus pura-pura....”, gerutu Ina Anu. Nyang rupanya juga ikut hadir di sana untuk urusan yang sama. Mendengar obrolan mama-mama dorang, ia ikut komentar sambil tebar pesona seperti pengamat sosial yang sok peduli dengan rakyat. “Selamat siang mama-mama semuanya, perkenalkan saya Nyang. Memang benar apa yang Anda keluhkan itu sudah saatnya dibenahi. Birokrasi kita yang amburadul ini sudah waktunya direformasi agar rakyat tidak diperlakukan seperti bola pingpong kalau harus berurusan dengan birokrasi. Contohnya ya soal urusan KTP ini. Ini sebenarnya adalah urusan sepele yang tidak perlu lagi membebani rakyat dengan biaya yang mahal. Sudah seharusnya KTP itu menjadi pelayanan gratis yang menjadi hak rakyat. Kalau memang tidak bisa gratis, seharusnya biayanya bisa ditekan semurah mungkin. Mungkin saja bisa secara berkala pengadaan KTP dilaksanakan secara masal dengan mendatangi kampung-kampung kita. Sehingga tidak seperti kejadian seperti Anda ini, hanya urusan KTP saja habisnya puluhan ribu dan makan waktu pula”. “Saya akan usulkan biar kelak tidak ada lagi antrian tiap hari di kantor ini dan jangan lagi setiap orang yang mau urus KTP harus pulang balik berhari-hari. Biar kelak tidak ada lagi istilah uang rokok untuk memperoleh pelayanan khusus, hanya untuk pengen supaya tidak menunggu berhari-hari. Itu semua yang membuat birokrasi kita ini amburadul. Tapi sekali lagi saya tidak menjanjikan, tapi akan saya usahakan hal-hal seperti itu bakalan tidak terjadi lagi nanti”. Diam-diam Ina Anu terpesona juga dengan Nyang lalu bertanya sama Mama Nona, “Siapa ya dorang ini?”. Nyong yang sedari tadi di dalam kantor kini keluar dengan senyum puas karena urusan KTPnya si Nona sudah kelar. Ia menemui Mama Nona. Nyang tiba-tiba jadi geram mendengar jawaban sahabatnya itu. “ Inilah yang bikin rusak birokrasi kita. Kakak Nyong sudah memupuk kebusukan kinerja para pegawai kita dengan memberi tip yang seharusnya tidak perlu lagi. Berapa kakak kasih uang lebih buat dorang? Sepuluh ribu? Lima belas ribu? Dua puluh ribu? Atau dua puliuh lima ribu? Bagi kakak memang uang segitu tidak ada artinya, tapi bagaimana jika pegawai kita di kantor ini semua sudah terbiasa dengan tip atau uang rokok? Akibatnya semua akan diperlakukan sama, semua akan dibuat seolah-olah sulit dan perlu uang tip untuk mendapat pelayanan. Ini sudah terlalu, ini keterlaluan, saya harus labrak. Saya harus protes dengan praktek-praktek model begini. Berapa dorang minta biar cepat selesai?” Belum sempat Nyong menjawab, Nyang sudah nyerocos kembali. “Sebagai rakyat kita ini berhak dapat pelayanan yang sama. Urus KTP itu kewajiban kita, tapi mendapat pelayanan yang sama itu juga hak kita. Ini sudah tidak adil. Ini namanya diskriminasi. Dan kakak sudah termasuk orang yang membuat ini semua terjadi. Sama saja kakak telah menyuap walau dengan dalih sebagai tip/hadiah itu namanya sudah suap dan yang terima tip itu sudah termasuk korupsi kecil-kecilan. Ini harus diberantas, kita harus membersihkan negara kita dari praktek-praktek semacam ini!” Suara Nyang yang keras membuat semua orang yang antri menoleh kepadanya, dan Nyang justru semakin Pe-De ditonton banyak orang. Nyong memaklumi gaya sahabatnya itu yang punya cita-cita jadi politikus dan bermimpi jadi Anggota DPR. Sehingga Nyong membiarkan saja sahabatnya itu nyerocos mencela dirinya walau ocehannya tidak semuanya benar dan tidak semuanya salah. Saat Nyang lagi nyerocos, ponselnya berdering: “Halo Pak Nyang, Anda harus segera mengirim foto copy KTP hari ini juga. Karena semua caleg dari Partai Mumpung Sempat berkas-berkasnya mau dikirim ke pusat besok pagi. Bila besok berkasnya tidak lengkap, maka Anda akan kami coret dari daftar caleg!”, suara seseorang dari telpon. Ina Anu masih sempat bertanya sebelum Nyong dan Mama Nona berlalu. Catatan: |



Siang itu Mama Nona datang di Kantor Dispenduk bersama dengan Nyong suaminya, mereka mengurus KTP si Nona untuk urusan mau berangkat sekolah ke Kupang. Sementara suaminya sedang mengurus di dalam, Mama Nona menunggu di luar, pokrol dengan mama-mama yang juga lagi antri mau urus KTP.
Komentar
tapi KTP Nasional, kenapa di saya pung tempat di sini kalo mo urusan dengan bank, harus bikin ktp baru lagi? apa yg dimaksud dengan nasional dalam pengertian KTP kita?
Reformasi Birokrasi....
RSS feed untuk komentar posting ini.