Kadumbul & Palakahembi Dilanda Banjir Bandang |
|
|
|
| Ditulis oleh ion |
| Sabtu, 02 April 2011 15:43 |
Bendungan Kadumbul
Lazimnya banjir terjadi karena intensitas hujan tinggi yang turun di suatu wilayah. Lantas bagaiamana kalau tidak hujan namun banjir? Demikian halnya di desa Kadumbul dan Palakahembi, Kecamatan Pandawai, Sumba Timur. Tidak turun hujan namun dilanda banjir bandang kiriman, yang dalam waktu sekejab saja menimbulkan kerugian warga. Awalnya warga menduga bendungan Kadumbul jebol atau tidak mampu membendung luapan air akibat hujan besar di hulu sungai, hingga berdampak luapan air yang sempat membuat warga panik dari malam hingga dini hari 31/03 hingga 01/04-2011 lalu. Luapan air memang tidak lama menggenangi pemukiman dan lahan pertanian warga. Namun arusnya yang cukup deras membawa lumpur dan kerusakan yang membuat warga sempat panik. Warga masih terlihat membereskan perabotan mereka ditengah kecemasan akan kembalinya banjir. Pasalnya warga berdalil, tidak hujan saja banjir telah membuat mereka kalang kabut, apalagi jika terjadi hujan. ”Saat saya lagi santai dengan keluarga, tiba-tiba saja ada bunyi menderu, dan anak-anak dari belakang teriak ada banjir datang. Saya sama sekali tidak menduga karena sebelumnya tidak hujan. Kami langsung menyelamatkan diri dan barang yang bisa dibawa. Kala itu air kurang lebih setinggi 80 cm,” jelas Flavianus.
Warga menjemur beras
Puluhan hektar lahan pertanian yang ditanami jagung dan padi rusak. Tak hanya itu stok pangan, ternak berupa babi dan ayam hanyut. Sambil menunggu bantuan darurat warga berusaha mengeringkan beras yang rusak dan berbau akibat terlanda banjir. Memang tidak ada korban jiwa yang ditimbulkan dari banjir itu, namun rusaknya lahan pertanian dan hanyutnya puluhan ternak babi dan ratusan ekor ayam milik warga serta kerusakan lainnya diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Warga juga berharap pemerintah setempat meneliti kembali kekuatan bendungan Kadumbul, karena adanya kekuatiran warga bendungan akan jebol karena sejak awal dibangun sejumlah pihak sempat meragukan kontruksinya yang dinilai tidak mampu menahan luapan air.(ion) |
Berita Terkini
18 May 2012
- 17 May 2012 Jembatan Darurat Payeti: Telah Dibangun dengan Model yang Lebih 'Akrab' dengan Kaum Perempuan
- 16 May 2012 Hujan Berkepanjangan: Cemaskan Warga Pengguna Jembatan Darurat Payeti
- 10 May 2012 MTQ NTT akan Diinkulturasi: Bentuk Dukungan, Usulan Tenun Sumba Jadi Warisan Dunia
- 09 May 2012 Sebrangi Sungai & Bukit Terjal: Siswa SD Bidipraing Akhirnya di Asramakan Selama Pelaksanaan UN
- 08 May 2012 Listrik Proyek PNPM hanya Pajangan: Anak Lai Hiding Belajar Pakai Pelita untuk Hadapi UN
- 03 May 2012 PLN Janji Bina & Tindak Pencatat Meter Nakal
- 27 April 2012 Tikus ‘Invasi’ Lahan Pertanian : Warga Kombapari Terancam Gagal Panen
- 26 April 2012 Warga Mengadu ke DPRD: Diduga Petugas Pencatat Meter PLN Kerja ‘Curi Tulang’
- 24 April 2012 Cara Siswa/i SMPN Nggoa Hadapi UN: Gunakan Lampu Pelita Saat Belajar, Jalan Kaki 7 KM ke Sekolah
- 16 April 2012 Diduga Karena Belum Terima Gaji, Staf Dispenduk Sumba Timur Mogok Berkantor
- 13 April 2012 Naskah Ujian Nasional di Sumba Timur Kurang
- 08 April 2012 18 Tahun Didera Hydrochepalus & Lumpuh: Walau Lirih, Zakarias Tetap Bersenandung
- 06 April 2012 Jemaat GKS Kambaniru Gelar Prosesi Jalan Salib
- 05 April 2012 Sekolah di Sumba Timur, 75% Dibawah Standart Mutu Nasional
- 04 April 2012 Apresiasi Perjuangan Anak Lai Hiding: Dinas PPO Sumba Timur Rencanakan Bangun Sekolah Paralel
- 03 April 2012 Belajar dari Agustinus: Sosok Sederhana di Balik Perjuangan Anak-Anak Lai Hiding
- 31 March 2012 ‘Uji Nyali’ Anak Dusun Lai Hiding: Ke Sekolah Bagaikan Terjun ke Arena Sabung Nyawa
- 29 March 2012 Bangunan Pasar Papuu dan Kiritana Mubazir: TPI & Pabrik Es Waingapu Bernasib Serupa
- 28 March 2012 Harga BBM Belum Resmi Naik: Harga Sejumlah Sembako Menang Satu Langkah!




