Kaget |
|
|
|
| Ditulis oleh Yongky HS |
| Minggu, 14 September 2008 07:00 |
|
Bentuk reaksi reflek seseorang atas stimulan yang ditangkap oleh fisik, pikiran dan nalar tercermin dalam berbagai sikap dan tindakan. Ketika seekor anjing menggonggong di dekat kita, mungkin saja secara reflek kita akan lari tunggang langgang sambil mengumpat. Bisa juga kita spontan mengambil batu. Kalau anjing itu tiba-tiba menggigit, walau ia milik kita sendiri, tak urung kita akan bereaksi secara reflek karena kaget. Kenapa kita kaget? Karena kita takut anjing! Kenapa kaget digigit anjing? Karena tak biasanya anjing kita berlaku seperti itu! Kenapa kita kaget si anjing yang biasa kita ajak bermain itu tiba-tiba menjadi ganas? Karena kita berharap bisa bermain-main dengannya, tapi, lho kok tiba-tiba ganas?Kaget dan kaget, inilah gejala setiap hari yang sering kita rasakan sebagai manusia. Secara psikologis, kaget termasuk pada gejala inderawi yang normal. Artinya kita masih sebagai manusia normal bila masih memiliki rasa kaget. Justru perlu kita pertanyakan apabila kita sudah kehilangan rasa kaget. Itu sudah abnormal. Seorang anggota DPR di jaman Orde Baru sempat membuat kaget rakyat Indonesia ketika dalam sebuah sidang DPR/MPR ia mengangkat tangan mengajukan interupsi. Anda tentu masih ingat peristiwa itu tatkala keesokan harinya koran-koran memuat Sabam Sirait sebagai Mr Interupsi. Ia membuat kita kaget, ia menjadi terkenal, bahkan pengamat-pengamat luar negeri yang sudah bisa memprediksikan bahwa hal itu lambat/cepat pasti akan muncul di ruang sidang yang biasa dipenuhi oleh lagu mars Setuju itu, ternyata kaget juga. Maklum kala itu interupsi menjadi sesuatu yang langka di negeri kita yang justru menganggap diri negara demokrasi, apapun namanya. Berita tentang peserta sidang yang ternyata dipenuhi oleh kaum kerabat, dipenuhi orang-orang suka tidur saat bicara nasib rakyat dan sebagainya, dan sebagainya malah tidak membuat kita kaget. Sekarang di masa reformasi ini mungkin justru kita memiliki kadar kekagetan yang kian menipis. Kita tidak kaget lagi mendengar dan menyaksikan berita oknum ini terlibat skandal ini, oknum itu terlibat sekandal itu, maklum setiap hari televisi menyajikan berbagai skandal dengan berbagai aktor yang kian akrab bagi kita. Apalagi kalau hanya sekedar anggota DPR/MPR yang interupsi, kita justru sudah akrab dengan situasi itu. Yah, interupsi yang diperagakan kini mirip kegaduhan anak sekolah yang belum tahu ABC. Bukan sesuatu yang mengagetkan lagi. Rekan-rekan wartawan kita di era kebebasan pers itu malah mengalami kesulitan untuk bisa memuat berita yang surprice/mengagetkan. Maklum tak ada lagi peristiwa sosial-poitik yang bisa membuat kita kaget. Tema-tema seperti; dalang/aktor dibalik peristiwa…. adalah…., dana proyek…. di-markup hingga…, pelaku peledakan di….. masih dalam pengejaran, terdakwa kasus korupsi…. hanya dijatuhi hukuman….., belum tuntas peyelidikan keterlibatan oknum..... dalam kasus..... si oknum sudah dimutasikan ke..... dan seterusnya…. Setiap ada berita-berita aktual, dalam benak kita sudah tergambar rekaan skenario yang kita ciptakan. Kita jadi begitu canggih untuk bisa menyusun skenario semu itu karena memang terlatih. Inilah yang memprihatinkan, kita jadi kehilangan/jadi tidak peka terhadap rasa kaget. Kejadian-kejadian spetakuler jadi hambar bagi kita. Kasarnya, ini semakin menuju pada gejala abnormal. Digigit anjing tak kaget, digonggong anjing malah bengong, dibilang anjing pun tak ambil pusing. Wah celaka…. tanpa rasa kaget akhirnya kita menjadi manusia tanpa greget. Kita menjadi manusia super yang kebal terhadap gejala-gejala sosial, tapi untunglah kita masih tidak kebal terhadap rasa lapar. Tapi repot juga bila hanya itu yang tersisa. Tak ubahnya kita menjadi manusia idiot dengan mulut menganga. Barangkali memang demikianlah kita sekarang ini (kita disini bisa jadi saya, mereka dan atau anda yang rela membaca tulisan ini). “Kaget? Anda tidak kaget?” “Aduh. Mungkin lebih baik kita singkirkan dulu anjing-anjing yang ada disekitar kita, agar rasa kaget kita pulih kembali bila kelak kita dikencingi-digigit-digonggong-dijilat anjing” Waingapu, 13 September 2003. CATATAN: Tulisan ini pernah dipublikasikan di : Tabloid Wunang. |
Berita Terkini
18 May 2012
- 17 May 2012 Jembatan Darurat Payeti: Telah Dibangun dengan Model yang Lebih 'Akrab' dengan Kaum Perempuan
- 16 May 2012 Hujan Berkepanjangan: Cemaskan Warga Pengguna Jembatan Darurat Payeti
- 10 May 2012 MTQ NTT akan Diinkulturasi: Bentuk Dukungan, Usulan Tenun Sumba Jadi Warisan Dunia
- 09 May 2012 Sebrangi Sungai & Bukit Terjal: Siswa SD Bidipraing Akhirnya di Asramakan Selama Pelaksanaan UN
- 08 May 2012 Listrik Proyek PNPM hanya Pajangan: Anak Lai Hiding Belajar Pakai Pelita untuk Hadapi UN
- 03 May 2012 PLN Janji Bina & Tindak Pencatat Meter Nakal
- 27 April 2012 Tikus ‘Invasi’ Lahan Pertanian : Warga Kombapari Terancam Gagal Panen
- 26 April 2012 Warga Mengadu ke DPRD: Diduga Petugas Pencatat Meter PLN Kerja ‘Curi Tulang’
- 24 April 2012 Cara Siswa/i SMPN Nggoa Hadapi UN: Gunakan Lampu Pelita Saat Belajar, Jalan Kaki 7 KM ke Sekolah
- 16 April 2012 Diduga Karena Belum Terima Gaji, Staf Dispenduk Sumba Timur Mogok Berkantor
- 13 April 2012 Naskah Ujian Nasional di Sumba Timur Kurang
- 08 April 2012 18 Tahun Didera Hydrochepalus & Lumpuh: Walau Lirih, Zakarias Tetap Bersenandung
- 06 April 2012 Jemaat GKS Kambaniru Gelar Prosesi Jalan Salib
- 05 April 2012 Sekolah di Sumba Timur, 75% Dibawah Standart Mutu Nasional
- 04 April 2012 Apresiasi Perjuangan Anak Lai Hiding: Dinas PPO Sumba Timur Rencanakan Bangun Sekolah Paralel
- 03 April 2012 Belajar dari Agustinus: Sosok Sederhana di Balik Perjuangan Anak-Anak Lai Hiding
- 31 March 2012 ‘Uji Nyali’ Anak Dusun Lai Hiding: Ke Sekolah Bagaikan Terjun ke Arena Sabung Nyawa
- 29 March 2012 Bangunan Pasar Papuu dan Kiritana Mubazir: TPI & Pabrik Es Waingapu Bernasib Serupa
- 28 March 2012 Harga BBM Belum Resmi Naik: Harga Sejumlah Sembako Menang Satu Langkah!





Komentar
Supaya cepat laku
RSS feed untuk komentar posting ini.