Lupa Password? Lupa Username? Buat akun
Anda berada di >
Sel 07 Februari 2012
Banner

Kain Sumba Hadapi Banyak Kendala

PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Admin   
Selasa, 06 Februari 2007 02:13

Kompas.Com - Kain tenun ikat Sumba memang sudah terkenal hingga mancanegara karena keindahan dan keunikannya. Bahkan proses pembuatannya pun unik, tidak cukup satu-dua hari untuk menghasilkan kain eksotik itu. Untuk mendapatkan satu lembar kain, bisa jadi perajin kain tenun ikat Sumba memerlukan waktu tiga hingga enam bulan, tergantung motif, lebar kain, dan kualitas yang dihasilkan.

Meski banyak orang mengakui dan mengagumi keindahan ciri khas kain dari wilayah yang terletak antara Pulau Sumbawa dan Pulau Timor itu, ternyata saat ini para perajin sedang menghadapi kesulitan serius. Mereka berusaha mempertahankan hasil budaya itu dan sekaligus memanfaatkannya sebagai pendorong pengembangan ekonomi keluarga.

Namun ternyata, seperti dikatakan perajin asal Prailiu, Waingapu, Sumba Timur, Umbu Remy Deta, kebanyakan perajin kain tenun ikat Sumba maupun kain songket kesulitan modal. Kain hasil tenunan juga sering dibeli murah oleh tengkulak. Harga yang diberikan tidak sebanding dengan lamanya waktu yang mereka perlukan untuk menghasilkan selembar kain.

"Selain itu, perhatian pemerintah daerah maupun lembaga donor juga kurang. Mereka hanya bantu dana yang kecil sekali jumlahnya, itu pun hanya pada sekelompok kecil masyarakat. Mereka juga kurang memberikan alternatif cara pemasaran," kata Umbu Remy Deta di Kampung Raja, Prailiu, Waingapu, Sumba Timur, 6 April lalu.

Umbu Remy berharap ke depannya pemerintah daerah lebih memerhatikan budaya masyarakat yang sangat potensial dikembangkan itu. Pemerintah daerah diharapkan dapat mempromosikan kekayaan budaya ini seluas mungkin. Menurut dia, kerajinan kain Sumba sangat menjanjikan jika dikelola secara profesional. Namun sayang, hingga kini belum ada investor yang melirik usaha tersebut.

Keluhan serupa juga diungkapkan Mama Yuli Emu Lindi Jawa, perajin yang sekaligus pendamping perajin kain tenun ikat Sumba. Perempuan aktif ini melihat, kain tenun ikat Sumba sebenarnya dapat bersaing di pasaran dalam negeri dan mancanegara. Namun, perajin terbentur ketiadaan modal usaha.

Pada umumnya perajin hanya mampu membuat beberapa lembar kain untuk kemudian dijual. Dengan harga bervariasi mulai dari Rp 60.000 untuk satu lembar kain kecil atau Rp 350.000 hingga Rp 5 juta untuk satu lembar kain lebar, itu belum cukup untuk mengembangkan usaha.

"Para perajin sejauh ini baru memperhitungkan asal balik modal saja. Mereka baru menghitung dari harga bahan baku dan tenaga, belum memasukkan perhitungan lamanya waktu yang dihabiskan untuk membuat kain tersebut," ujar Mama Yuli Emu di Lambanapu, Waingapu, Sumba Timur.

Banyak perempuan Sumba —juga kaum lelaki— yang membuat kain tenun ikat di sela-sela waktu luang mereka. Mereka belum menjadikan kegiatan itu sebagai profesi atau sebagai usaha yang harus ditekuni. Kerajinan kain khas daerah belum menjadi tren industri sehingga mereka masih enggan menggantungkan pendapatan pada usaha yang sebenarnya menjanjikan tersebut.

"Mereka masih ragu menggantungkan hidup pada usaha ini karena pemasaran memang belum berkembang. Terlebih saat ini kain hasil kerajinan masyarakat biasanya hanya dibeli murah, kemudian dijual mahal oleh tengkulak ke luar daerah atau turis yang datang ke sini. Dulu pernah ada kain yang dibeli dari tangan pertama seharga Rp 250.000, lalu di luar daerah ditawar Rp 25 juta," cerita Mama Yuli Emu.

Selain kendala pemasaran, saat ini para perajin di Sumba juga menghadapi permasalahan berkaitan dengan menurunnya wisatawan mancanegara. Menurut seorang perajin kain Sumba, Hendrik Pali, semenjak peristiwa peledakan bom di Bali tahun 2002 kedatangan wisatawan asing ke Sumba juga menurun.

"Dulu setiap minggu bisa datang turis empat kali. Mereka datang rombongan dalam jumlah banyak. Saat-saat seperti itu banyak kain hasil karya perajin di sini terbeli. Namun, sejak peristiwa bom tahun 2002 di Bali, kedatangan turis menurun. Tahun 2006 ini baru ada dua kali kedatangan turis," kata Hendrik.

Pemasaran ke luar juga menghadapi banyak masalah. Mereka sulit mencari partner dari luar daerah karena biaya transportasi mahal. Sementara jika ada tengkulak yang datang, mereka membelinya dengan harga yang murah.

Di luar permasalahan pemasaran itu, Mama Yuli Emu juga memprihatinkan perkembangan pembuatan kain khas Sumba dengan menggunakan bahan pewarna kimia. Pewarnaan dengan bahan kimia itu memang mempersingkat proses pembuatan kain tenun ikat. Jika menggunakan pewarna alami daun nila dan akar mengkudu, rata-rata diperlukan tiga hingga enam bulan untuk menghasilkan satu lembar kain. Padahal, dengan pewarna buatan hanya dibutuhkan waktu dua minggu.

Tentang awetnya warna pada kain Sumba yang menggunakan pewarna alami itu dikuatkan pernyataan Mama Tamu Rambu Margaretha dari Kampung Raja, Prailiu. Dengan ketekunan, para perajin kain tenun ikat Sumba memprosesnya hingga berbulan-bulan. Kekhasan yang merupakan hasil proses kebudayaan itu kini membutuhkan perhatian semua pihak agar tetap bertahan dan berkembang.

(Agnes Suharsiningsih)

Sumber: Kompas

 

Komentar  

 
0 #6 yorish 2010-07-23 18:32
supaya kain sumba jgn hilang di telan zaman.,,,,,,,,,,,,,,, ,,,
pejabat harus realistis!!
pejabat(Bupati) harus berani mengeluarkan Perda yang mewajibkan para PNS untuk memakai pakaian adat setidak nya sekali dalam seminggu!!
bila tidak,,,,,,,,ma ka kain sumba hanyalah kenangan yang apabila di ceritakan pada anak cucu kita dan mereka menganggap hanyalah sebuah dongeng belaka!
mari lah kita mencontohi daerah lain(contohnya Bali).
Di Bali,sejak kecil sudah di perkenalkan yang nama nya pakaian adat.sungguh jauh berbeda di sumba timur,bahkan peabat pun hanya memakai pakaian adat ketika "KAMPANYE"!!!
 
 
0 #5 Guest 2008-12-15 17:52
Saya sangat mendukung kalau pemerintah turut serta dalam memelihara Adat yg ada di Sumba timur.Tenun Kain adalah ADAT yg lazim disebut Traditionil org sumba sejak dulukala.Saya lihat disumba timur tradisi ini hanya dijalankan oleh org2 tertentu saja,(Sudah mulai berkurang dlm melaksanakan tenun ikat)Pemerintah harus memberi ilmu baru buat masyarakat dikampung agar proses pembuatan kain sumba itu harus pakai warna yg asli(Natural)Ba nyak kita jumpai kain2 sumba sekarang ini yg proses pembuatannya dari Wantex(Chemical )baru sekali cuci warnanya lansung hilang,tadinya dikain ada motif org tunggang kuda berubah jadi tunggang babi.Nah ini yg harus diperhatikan khusus oleh pemerintah setempat agar nama kain sumba tetap harum selamanya sekaligus nama kabupatenpun turut terharum.Marilah kita org sumba timur yg pengrajin tenun kain ikat agar warna itu tetap pakai dr yg Natural.Termasuk saya sendiri juga dulu waktu masih di sumba timur sering membohongi org barat.Kalau ditanya this is original colour?saya bilang yes saja biar dia beli,ternyata kain wantex.Tapi harganya tidak mahal cuman rp.150.000(Salendang kecil)Dgn adanya Web ini semua org sudah bisa buka mata lebar2. Waingapu.Com being the best forever.
 
 
0 #4 rindu 2008-12-09 05:19
saya tidak bisa membuat kain sumba. tetapi dari saya tau klw proses pembuatan kain ini sangatlah lama dan rumit. menurunnya peminat yang ingin belajar dan membuat kain ini, sangat disayangkan sekali. teapi, ini sangat di mengerti karena jerih payah yang di keluarkan tidak sebanding dengan penghargaan yang mereka terima. miris sekali jika kain tangan pertama di beli seharga rp.250.000 sedangkan dijual ke konsumen lain dengan harga Rp. 25 juta. duh...kesel sekali saya dengernya!!! saya jatuh hati dengan kain sumba bukan karena calonku dari sumba. tapi kain ini punya memang berbeda dari kain yang lain. kain sumba memiliki filosofi yang sangat indah ...so dari pemerintah apakah ada solusi untuk masalah ini? walaupun kain, tetapi itu sangat mencerminkan budaya sumba...apa ada musium khusus sumba?... enaknya kalau ada designer mode yang memakai kain sumba sebagai bahan dasar dari mode mereka... jgn2 dah pernah ada designer yang melakukan itu? saya aja kali yang kuper heheheh :-))
 
 
0 #3 ywindi 2008-09-08 17:23
Hebat kalau nkamu masih punya yang seperti itu. Bagusnya diphoto dan ditampilkan di galeri dan kalau bisa jangan dijual. Mudah2an kamu rela menyumbangkan di Museum Sumba (kalau ada)
 
 
0 #2 ywindi 2008-09-08 17:22
Saya termasuk bisa membuat kain Sumba sekalipun saya laki2. Di Prailiu dulu saya biasa membantu ibu saya untuk pamening sampe mengikat kain (hondu). Yang saya kecewakan adalah sistem pemasaran kaim sumba itu sendiri. Para pedagang kain sumba (dari berbagai suku: sumba, sabu, ende bahkan China) di Sumba sangat tidak sehat dalam berkompetisi. Saya ingat waktu liburan ke Prailau beberapa tahun yang lalu...para wisatawan di uber2 ke sana kemari..dipaksa2...dibujuk....dan pedagangnya pada rebutan semua. Akibatnya si calon pembeli memanfaatkan kesempatan itu menawar serendah2nya. Saya pikir Pemda sudah harus membuat centra jual beli kain Sumba (mudah2an sudah ada)dimana di situ di integrasikan demonstrasi pembuatan dan penjualan dan pertunjuukan budaya. Tapi kalau bisa yang bersifat permanent.
Sekali waktu di tahun 90an waktu kakak saya masih berjualan kain sumba ke Bali dan Jakarta, diadakan pameran di Jakarta kalau tidak salah. Tapi lucunya yang pergi ke sana bukan pengrajin tetapi \"pejabat\" dari Dinas Pariwisata atau perindustrian. Yang lebih celaka lagi pejabat tersebut bukan orang sumba (emangnya dia tahu seluk beluk kain Sumba?) Ayo pemerintah bersama masyarakat dan para pemudah marilah kita tetap hidupkan dan lestarikan kain sumba.
Salam hangat dari orang Sumba (Prailiu) di Melbourne
 
 
0 #1 Guest 2008-07-24 18:43
saya punya kain asli yang sudah lama. kain ini mungkin buatan pertama dan sudah mulai rusak dan kelihatan sudah usang sekali. bagi peminat bisa dapat melihat atau menghubungi saya di alamat ini.
 

Tambah komentar


Kode keamanan
Refresh