| Kapihu |
|
|
| Kontributor: Yongky HS |
| Selasa, 01 September 2009 08:56 |
|
Palla termasuk orang yang jujur dan enak diajak diskusi berbagai macam hal. Namun karena kebiasaannya yang tak mampu menahan kentut, menjadikan Palla orang yang tak pernah diikutkan dalam pembicaraan adat. Praktis ia menjadi orang tersisih dalam pauhi (arena pembicaraan adat). Mengapa Palla selalu tersisih dalam forum adat, sekalipun itu dalam forum adat keluarganya sendiri? Rupanya kebiasaannya kentut yang tak bisa ditahannya itu telah menorehkan sejarah yang buruk bagi keluarganya. Alkisah suatu hari Umbu Kudu meminang Rambu Ana adik si Palla. Segala persiapan acara "masuk minta" hingga soal belis sudah disiapkan oleh pihak anakawini. Datanglah hari H saat acara pauhi maluri, Palla ikut duduk di pihak yera. Bicara berbalas bicara, kata bersambut kata, tibalah saat penentuan belis. Wunang dari pihak yera menyebut sejumlah hewan sebagai kelengkapan belis. Wunang anakawini mencoba menawar. “Lima!”, kata Wunang anakawini. “ Ndea!”, balas Wunang yera. “Hambulu!” “Ndea!” “Hambulu Lima!” “Brettt, bretttt..!”, gas buang Palla tak tertahankan lagi. Suaranya lumayan keras apalagi baunya, jauh lebih keras. Kedua Wunang terdiam dan kelabakan, sementara Palla hanya cengar-cengir tanpa dosa. Umbu kudu yang terkenal asrang hatinya gemas karena dianggap Palla telah melecehkan keluarganya. “Dua Kambulu!”, Umbu Kudu menyela para Wunang. “Bretttttttttt…..!”, Palla tak bisa tahan kentut. “Tailu Kambulu!” Umbu Kudu berang. “Brettttttttt……!”, Palla kapihu lagi. “Patu, lima, nomu, pihu,….hangahu “, Umbu Kudu makin berang. “Brettt….brettt…..brettt…………..!” Palla kapihu panjang. Umbu Kudu tak tahan menahan emosi, maka rombonganya meninggalkan acara dengan sumpah serapah. Batallah niatnya meminang Rambu Ana, kehormatan baginya jauh lebih besar daripada cintanya kepada dara jelita dambaannya itu. Batalnya pembicaraan adat ini menjadi bara pemicu permusuhan Umbu Kudu dan Umbu Ndunga ayah Rambu Ana. Tudingan dan cercaanpun dialamatkan pada Palla sebagai biang keladi batalnya pinangan. Bau busuk gas buang Palla menjadi petaka keluarga. Cap sebagai anak sial tak bisa lagi dielakkan, sejak itulah ia tak pernah lagi disertakan dalam pembicaraan adat. Kapihu adalah hak asasi manusia, tidak ada hukum yang melarang orang untuk kapihu. Si kapihu alias kentut datangnyapun tak bisa diduga apalagi ditunda. Tiap orang punya kadar keseringan, kekerasan suara dan bau yang berbeda-beda. Jenis makanan tertentu memang bisa mempengaruhi kentut. Tapi perkecualian bagi si Palla, biar tidak makan pete, jagung, dan telur asin atau bahkan puasa sekalipun kentut si Palla tetap kentut super. Super suaranya, super pula baunya dan selalu bertubi-tubi. Tahun berlalu, permusuhan keluarga Palla dan Umbu Kudu masih seperti Irak dan Iran beku dalam perang dingin. Umbu Kudu akhirnya meminang gadis lain, acara pernikahan segera dilaksanakan. Seluruh warga desa Awang awang mendapat undangan kecuali keluarga Umbu Ndunga termasuk si Palla. Api dendam itu masih ada. Permusuhan dengan Umbu Kudu sebenarnya sangat merugikan bagi si Palla. Karena diam-diam ia ada meraruh hati pada Rambu Kariri. Maka tatkala acara wuangu wili, meski tak diundang Palla ikut ambil pandulang dengan membawa banda tiga ekor kuda. Segala tekad sudah dirangkai, urat malupun sudah diputus, Palla menjadikan ini sebagai momen penebus kesalahan. Puasa dilakukan sebagai upaya membendung kebiasaan kapihu yang tak terkendali itu. Palla beserta wunangnya menuju rumah Umbu Kudu untuk mengantar hewan sebagai sumbangan. Wunang buka suara. “Kami datang dengan membawa bawaan ini karena Umbu Kudu adalah saudara saya, walau selama ini kita berselisih”. Setelah mendengar pesan sang wunang dari pihak Palla, maka wunang Umbu Kudu membalas sapaan tersebut. “Karena kami sudah mendengar niat baik dari Umbu Palla maka saya akan sampaikan pada Umbu Kudu”. Selanjutnya hewan diserahkan. Palla menemui Umbu Kudu untuk mohon diri. Suasana menjadi hening, semua orang juga tahu bahwa mereka berdua selama ini terlibat perselisihan yang hebat. Ketegangan melingkupi kedua insan ini, lalu Umbu Kudu menghampiri Palla dan memeluknya. Setelah berpelukan Palla membalikkan badan hendak berlalu, namun dengan tiba-tiba gas buang Palla meledak tak terkendali “Brettttt…….!”, Palla kapihu lagi. Umbu Kudu yang sedari tadi tampak tenang berubah muka merah dan menatap Palla penuh tanya. Pallapun menatap Umbu Kudu dengan seribu tanda tanya, ia mencoba tersenyum. Namun bukan senyum yang keluar “Bretttttttttttttttttttttttttttt!” Palla kapihu panjang. Umbu Kudu tersinggung, Palla dianggap melecehkan, orang-orang Umbu Kudu jadi kalap, maka dikeroyoklah si Palla tanpa pembelaan. Maksud hati ingin berdamai namun justru hancur badan yang didapat, sekujur badan Palla berdarah-darah, ia dilarikan ke rumah sakit. Kentut/kapihu adalah proses biologis manusia yang wajar, bahkan banyak orang yang kelabakan gara-gara tak bisa kapihu, pasti ada yang tidak beres dengan perutnya apabila seseorang tak bisa kentut. Tapi bagi Palla kapihunya telah membawa bencana beruntun dalam hidupnya. Adiknya gagal dipersunting Umbu Kudu, niatan berdamai dengan Umbu Kudu justru memperuncing permusuhan. Niat untuk menaksir dan mendapatkan Rambu Kariri jadi semakin mustahil. Di rumah sakit, para suster dan dokter sibuk menangani Palla, lukanya parah, ia koma. Sanak keluarga menanti pasrah di ruang UGD, dokter hampir putus asa. Tiba-tiba Palla mendesah “Uhhhhhhh…bret….bret…bretttttttttttt” Palla kapihu lagi baunya mengalahkan aroma obat di ruang UGD. Para suster, dokter dan sanak keluarga maklum, diam dan tak beranjak. Kemudian sejak itu Palla tak pernah lagi kapihu untuk selama-lamanya. Ia tidur dalam pelukan bumi berselimut wangi rampai. |




Komentar
di tunggu om, crita2 yang laen..wuahahaha
terus buat cerita2 lucu2 ya...klo dah banyak tulis di buku...kan seru tuh...biar yang lain jg bs baca....
RSS feed untuk komentar posting ini.