Lupa Password? Lupa Username? Buat akun
Anda berada di >
Kam 09 Februari 2012

Kasih Seorang Saudara

PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Bonefasius Sambo   
Sabtu, 26 Desember 2009 08:59

Di gubug tua itu aku mampir. Karena lelah dan haus aku ingin meminta segelas air. Tapi si penghuni gubug menawarkan lain, mungkin karena iba padaku ia menawarkan untuk inap semalam. Apalagi jam tanganku menunjukan angka 21.00 WITA, keadaan yang kurang mendukung tuk melanjutkan perjalanan. Suasana yang sepi dan sunyi juga memaksa hatiku untuk menerima tawaran itu.

Gubuk tua ini memang jauh dari perumahan penduduk di desaku. Penghuni gubug ini hanyalah seorang nenek renta dan cucunya. Seorang gadis cilik berusia tujuh tahun. Kata si nenek, cucunya itu adalah anak dari mendiang putrinya. Sudah sejak sembilan bulan, gadis cilik itu diasuh oleh neneknya.**

Di depan mataku hanya ada sebuah tungku kecil, beberapa buah piring karatan dan juga beberapa gelas yang tidak jauh beda dengan kondisi gubug itu. Aku duduk di sudut ruangan, aku tidak menyebutnya ruang tamu, karena hanya ada satu ruangan lepas. Si nenek memberikan aku segelas air putih, dengan ragu-ragu si nenek menanyakan keadaanku. Walaupun dengan bahasa Indonesianya yang lupa-lupa ingat aku cukup memahaminya. Akupun memberikan jawaban seadanya, dan kemana tujuanku sebenarnya. Nenek itu tersenyum, senyuman yang mampu menyembunyikan kerut-kerut kulit wajahnya itu.**

Malam itu aku kecewa. Sebab aku tak bisa bersama keluarga merayakan malam natal. Dan malam itu aku harus bersama keluarga baru di perjalanan yang baru kujumpai. "Entalah, apakah dibenak mereka ingat ataukah samasekali tak tahu apa-apa betapa istimewanya malam ini", gumamku dalam hati.

Nenek dan si gadis cilik itu kelihatan sibuk, aku tak begitu memperhatikan, sejak tadi pikiranku menerawang. Tiba-tiba si gadis cilik menyapaku, "Kak, malam ini malam natal, kami hanya punya ini saja", kata gadis cilik itu apa adanya. Tiga butir telur dan sepiring singkong rebus yang ada dihadapanku. Si nenek dengan antusiasnya membawa tiga gelas teh panas kelihatan dari uap air yang mengepul.

Nenek tua itu memohon agar aku yang memimpin doa. Akupun menganggukan kepala. Kami pun berdoa, setelah doa kami bersalam-salaman. Si gadis cilik mengajaku menyantapi hidang ala gubug tua. Kami sedikit bercengkrama. Gadis cilik ini kelihatan cerdas, ia mengajakku bercerita banyak hal, banyak bertanya sesuai kemampuannya. Aku memenuhi apa keinginannya, dan aku juga kagum padanya.**

Malam itu menjadi indah, persaudaraan-telah mengubah gubug tua menjadi gereja. Ya, gereja bagi kaum marginal, terlantar, dan terpinggirkan. Malam itu telah mempertemukan manusia dari warna yang berbeda. Saat itu aku teringat pertanyaan dari seorang sahabat, "Siapakah sesama-mu itu?".**

Aku melepaskan malam natal dalam kelelahan. Esok pagi jam 05.00 WITA aku harus melanjutkan perjalanan, aku harus bersama keluarga untuk misa natal di tempat kelahiranku. Di keluargaku aku amat bahagia, apalagi anggota keluargaku mereka pun turut bahagia dengan kehadiranku.

Tapi dalam kebahagiaanku, bayangan kedua saudara baru senantiasa menghampiri pikiranku. Merekalah yang memberikan makna hidup bagiku. Mereka memang bukan bunga mawar atau bunga jasmin, mereka hanyalah bunga rumput di tepi jalan. Yang ada namun tanpa makna. Hanya segelintir orang saja yang mampu memahaminya. Tapi mereka tegar, tangguh, dan juga kokoh

Bunga rumput juga bunga. Sudah selayaknya berada di taman impian. Sebenarnya mereka juga mampu menghiasi taman impian itu dalam kesederhanaan.**

Natal sebentar lagi akan berlalu. Sisa beberapa hari ini aku menemani keluargaku. Indah benar bila anggota keluarga sehati menyambut natal. Damailah keluargaku damailah tempat kelahiranku, i love you full.**

Kini saatnya aku kembali pada aktivitasku. Aku ingin pamit pada penghuni gubug tua itu. Aku keheranan, karena ada beberapa orang kampung ada di gubug tua itu. Dan aku mendekati gubug tua itu. Ternyata si nenek renta itu telah tiada. Pandanganku terarah pada sosok gadis cilik yang berderai air mata. Dalam hati, aku berkata, itulah hitam putih hidup ini. Gadis cilik ini sedang mengalami masa sulit. Tuhan, dimana ia harus bersandar kini? Ayah entah dimana rimbanya, ibunya telah tiada. Sekarang satu-satunya orang yang mengasuhnya sejak kecilpun juga tiada. Aku merasa sedih, bagaimana dengan masa depannya.

Aku harus membawanya pergi. Membawanya ke kehidupan yang lebih cerah dan bermakna. Tak satupun manusia di dunia ini tidak boleh mencederainya, tak boleh menyakitinya. Ia harus dilindungi, dìhormati seperti layaknya seorang manusia. Dialah bunga melati putih. Akulah penjaganya, berjanjilah hai diriku untuk membuktikan Kasih Seorang Saudara kepada Saudarinya. "Selamat Natal 2009 dan Tahun Baru 2010".

Catatan Seorang Pejuang
Ende, 24-12-2009

Penulis, guru tinggal di Mangili-Sumba Timur

 

Komentar  

 
0 #1 gw 2009-12-28 08:48
good.. ceritaya menarik
 
 
0 #2 joesephine 2009-12-28 18:47
menarik banget ceritanya makasih ya buat penulisnya,,
 
 
0 #3 idna gerina fauziah 2009-12-29 12:34
lahhhhhhhhhhhh
 
 
0 #4 donny 2009-12-29 12:38
menyentuh... :)
 

Tambah komentar


Kode keamanan
Refresh