|
Mbata atau Pemukulan Tambur dan Gong di Wolomboro |
|
|
|
Kontributor: Isidorus Ndoi
|
|
Jumat, 02 Juli 2010 19:58 |
|
Kehidupan yang miskin tidak menghambatkan manusianya untuk meneruskan cerita atau sejarah kebudayan di daerahnya masing-masing, seperti yang dialami oleh setiap kampung di Manggarai timur, walaupun kehidupannya yang sederahana atau miskin namun mereka selalu berpegang teguh pada adat-istiadat, maka jangan heran pada setiap kampung di kabupaten itu selalu mengadakan pesta budaya setiap tahunnya.
|
|
PASOLA: Tradisi Kuno yang Masih Bertahan |
|
|
|
Kontributor: Admin
|
|
Minggu, 30 May 2010 14:17 |
|
Pulau Sumba sangat indah dengan padang rumput yang membentang luas, pulaunya gersang namun sangat bersahabat dengan binatang peliharaan mereka seperti, sapi, kerbau, kambing, kuda sandlwood dan dipadati oleh rumah-rumah adat disetiap perbukitan dan lembah. Pemandangan seperti ini selalu menarik perhatian bagi siapapun yang memandangnya dan mempunyai potensi yang sangat besar untuk para pemandu wisata yang ingin tinggal lama atau menetap di pulau ini.
|
|
Sumba Island, The Exotic and Mystic Herritage |
|
|
|
Kontributor: Yohanes Kambaru Windi
|
|
Selasa, 09 Desember 2008 19:47 |
|
If you’re flying over Sumba island, a long gray, treeless and brownish savanna welcomes you mysteriously. Is there any living? Sumba is a rocky, hot and dry place to live in. It stretches along the coast southeast of Sumbawa. In the colonialism period, Sumba was well-known as the land of “sandalwood”. It is now divided into two main administrative districts, east Sumba and west Sumba. Two thirds of the population inhibits the coast line of Waingapu, the capital of east Sumba district, and one third at waikabubak (the capital west Sumba district). However, Sumba is recently divided into three or four districts. The highlanders are known as “orang mahu” and “orang Kambiara or Kambare” for the coastline region inhabitants.
|
|
|
Sumba |
|
|
|
Kontributor: Cinta De Angel
|
|
Rabu, 24 September 2008 12:39 |
|
Sumba has a unique culture and their social life. Sumbanese are traditionally divided into three level of social life : (Raja/King) - Maramba, Customary Official - Kabihu, and Slaves - Ata. Sumbanese are living from farming, cattle breeding, rice-field farming and trading. Ones owns cattle will contribute to their social status such as if they had more cattle giving them a higher social status.
|
|
Budaya |
|
|
|
Kontributor: Cinta De Angel
|
|
Rabu, 24 September 2008 11:31 |
|
Pada hakekatnya, seni budaya yang asli dan indah , selalu terdapat didalam lingkungan istana Raja dan di daerah-daerah sekitarnya . Sebagai bekas suatu Kerajaan yang besar, maka Yogyakarta memiliki kesenian dan kebudayaan yang tinggi dan bahkan merupakan pusat serta sumber seni budaya Jawa. Banyak peninggalan seni-budaya yang masih dapat disaksikan di monumen dan candi-candi, istana Sultan yang masih berkaitan dengan kehidupan istana.
|
|
Papanggang, Masih Perlukah? |
|
|
|
Kontributor: Yohanes Kambaru Windi
|
|
Jumat, 05 September 2008 16:10 |
|
Saya termotivasi dan merenung cukup lama sebelum menulis artikel ini. Setelah wafatnya Tamu Umbu Djaka di Prai Liu dan Umbu Mehang Kunda beberapa waktu yang lalu, teringat masa kecil saya di Prai Liu bila ada keluarga raja yang meninggal di adakan upacara "PAPANGGANG" beberapa minggu sebelum penguburan.
|
|
|
|
|
Halaman 1 dari 2 |