Tampilan terbaik, gunakan pixel 1024 x 768 dan Firefox

           | 
Papanggang, Masih Perlukah?
Kontributor: Yohanes Kambaru Windi   
Jumat, 05 September 2008

Saya termotivasi dan merenung cukup lama sebelum menulis artikel ini. Setelah wafatnya Tamu Umbu Djaka di Prai Liu dan Umbu Mehang Kunda beberapa waktu yang lalu, teringat masa kecil saya di Prai Liu bila ada keluarga raja yang meninggal di adakan upacara "PAPANGGANG" beberapa minggu sebelum penguburan.

Yang menjadi pertanyaan saya apakah upacara ini masih pantaskah dilakukan, dihidupkan kembali atau diteruskan di era di mana banyak orang Sumba termasuk kaum bangsawan sudah memeluk agama Kristen atau agama lainnya?

Saya merasa perlu hal ini di diskusikan (bukan dipertentangkan) karena sadar atau tidak sadar sudah
banyak yang "hilang" dari orang Sumba.

Komentar
Tulis Komentar RSS
DA   |05-09-2008 12:27:48
saya kira sekarang tidak pantas di lakukan, primitif banget,kpn sumba maju?
Rachel   |05-09-2008 14:00:03
avatar u sangat g menghargai budaya asli u sendiri.
yang buat sumba g maju2 itu, orang2 yang punya mental berpikir kyk u.
u liat aja budaya bali yang masih di pegang erat sama orang bali.
emang nya mereka jadi g maju karena tetap jalanin budaya asli mereka?
DA   |05-09-2008 14:46:36
Bukannya g menghargai rachel, tapi seperti bukan orang kristen.
Kamu g tahu apa arti dari papanggang kan?
Rachel   |06-09-2008 01:20:20
avatar emang artinya apaan?
donny  - PAPANGGANG???   |05-09-2008 13:33:09
avatar apa itu?
kok gak pernah dengar ya?
hubungannya dengan org mata terutama dengan raja/bangsawan apa sich?

artikelnya gak lengkap nih?
Joni   |06-09-2008 06:00:45
Papanggang itu artinya apa sih?
harap di jawab dong, artinya apa nih Pak Yohanes?
Lovely girl   |05-09-2008 14:58:54
avatar Saya kira terserah dari keluarga.Kakek saya juga raja waktu penguburan ada papanggang,dan di kubur bersama Mas-mas dan luluamahu(seperti rantai emasnya orang2 Sumba jaman dahulu kala), yang bisa hidup kembali dan menjadi ular.
predhtz  - :)   |05-09-2008 16:42:54
avatar Menurut pandangan saya, warisan budaya tetap harus dipertahankan.
Yang melihat upacara seperti itu, juga harus bisa melihat secara benar, apakah itu upacara budaya ataukah upacara agama. Agama dan budaya jelas banyak pertentangannya, dan saya rasa itu tidak perlu dibahas, apalagi terus dipertentangkan. Contoh saja, acara belis, atau ihi kenoto untuk orang sabu, bukankah itu satu bentuk halus dari "Jual Beli Manusia"? Trus apakah harus dihapuskan?
deni   |06-09-2008 05:57:57
Kalau ihi kenoto untuk orang sabu ma tidak terlalu rumit,tidak terlalu mahal, tapi belisnya org sumba yang terlalu berat.bagus sih bagus tapi bisa jatuh miskin orang tuanya si umbu kalau di suruh bawa hewan 50 ekor.
nelang  - Budaya = Indentitas   |05-09-2008 20:34:34
avatar Byk yg tidak suka dgn budaya sumba krn primitif dan membuat org sumbanya tidak maju alias kolot

tp bayak juga yg bilang orang sumba itu unik ya, budayanya menarik dan eksotik

aku jadi bingung....
budayanya yg salah atau org sumbanya yg tidak berbudaya lagi??

pusing ah
Umbu Alombawa  - Budaya Sumba sudah membesi   |06-09-2008 13:04:34
Budaya is budaya you know?
Semakin tua suatu budaya semakin eksotik dan menarik.

Orang sumba tidak primitif-primitif amat. Wong si Amat juga sudah enggak primitif koq.

Sumba memiliki akar budaya yang sudah membesi. Jangan gitu ah, bilang orang sumba tidak berbudaya. Budayanya orang sumba lebih kental dari budaya-budaya suku lainnya.
ywindi   |08-09-2008 10:18:34
Wahhh jadi rame nih. Bagus juga mendengar pendapat orang2 muda sekalian. Bahkan sampe ada yang tidak tahu apa itu papanggang. papanggang adalah upacara menjelang penguburan kalangan bangsawan sebagai simbol untuk menemani atau mengantar alamarhum ke dunia marapu (Surga barangkali ya tepatnya. Orang2 yang ditunjuk untuk menjadi pengawal itu berasal dari suku2 dilingkungan raja dan menjadi kepercayaan raja. Ada yang di sebut "tidung Ngubi"; ada yang memegang kuda raja (Kaliti/kitang Ndjara dihalaman); ada yang membawakan tempat sirih pinang, dsb. Saya bahkan lupa dan maaf kalau ada yang lebih tahu tolong dikoreksi.
Banyak orang menganggap hal itu adalah "primitif" dan biaya tinggi. Tapi itulah kekayaan budaya sumba yang eksotis. Saya setuju Papanggang adalah upacara budaya dan bukan upacara keagamaan.
Mungkin adik2 tidak pernah mendengar sahdunya irama bunyi gong yang dipukul saat ada kematian di masyarakat sumba tempo dulu. Seingat saya.....ketika bunyi gong sudah terdengar dari balik bukit...para pelayat sudah pada mulai menangis iktu berbelangsungkawa dengan kelaurga almarhum. Terus terang aku termasuk yang sangat merindukan bunyi2 gong tersebut. Ayo mari kita hidupkan kembali budaya sumba.
ixs  - Sedikit di rubah   |09-09-2008 11:21:48
Saya rasa papanggang adalah bagian dari adat sumba yang sangat langka yg mungkin tidak ada di tempat lain, kl mau dihilangkan saya kurang setuju tapi mungkin kl sedikit di rubah mungkin ya sekedar tidak mengeliminir biaya. Adat perlu di lestarikan supaya Sumba tidak kehilangan jati dirinya , key....., itu pendapat saya, tapi kl ditanya ama orang tua atau keluarga raja tadi pasti menentang!!!!
ixs  - ralat   |09-09-2008 11:24:42
"sekedar tidak mengeliminir biaya" maksud saya "mengurangi biaya adatnya" atau "mengeliminir biaya"
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
Silahkan masukan kode anti-spam yang Anda lihat di dalam gambar.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >