|
Di terminal itu masih seperti biasa, ramai oleh hati-hati yang lengang, pikuk dalam kegaduhan nan diam. Matahari tak malu di sebut sebagai si panas yang menyiksa, mengintip manusia mencari mataharinya. Peluh lelaki-lelaki nestapa membentuk air mata tanpa akhir, mengalir datar memecah cermin yang tak pernah retak. Para kaum perempuan menggendong nafas dalam selendang yang membelit hidupnya. Secuil kehidupan yang hampir membatu.
“Kau tanya padaku?Ya, aku tak pernah lupa itu selalu kau tanyakan padaku! Tapi mengapa itu selalu kau tanyakan kalau jawabnya hanya ada di tanganmu? Kekejian macam apa sebenarnya yang kau tawarkan, Line?” Line tak menyahut sedikitpun mendengar ocehanku, kepalanya ditenggelamkan di antara kedua lututnya. Kulihat bahunya sedikit bergetar, tak ada suara. Aku tahu pasti ia menangis, selalu dan selalu begitu.
Dalam bis itu kulihat lelaki dan perempuan mulai jengah menanti kapan kehidupan akan dijalankan. Mulut mereka mengunyah sirih-pinang seperti mencomel pada waktu yang terasa lamban. Sementara matahari masih menyala sombong menelanjangi waktuku.
“Aku tahu, Line. Kamu pasti akan mengulang pertanyaanmu itu, besok, lusa dan entah sampai kapan. Jangan kau salah mengerti, bukan maksudku menawar pada sang waktu. Waktu kitalah yang memang tak pernah singgah untuk bisa kita nikmati”.
Line mengangkat kepalanya, mengusap sisa air matanya. Kutunggu suara apa yang akan keluar dari mulutnya, semuanya akan aku terima, walau umpatan sekalipun.
“Ko, aku...”, suaranya pelan berdesak-desakan dengan nafasnya yang coba hendak diaturnya. Kurapatkan dudukku untuk meraih tangannya, bening air mata masih menghias tatapannya.
“Katakan, Line. Katakan, aku siap menerima. Tapi tolong jangan tanyakan itu lagi. Kamu tahukan? Terlalu sulit bagiku untuk menentang kesombongan kehidupan ini. Kita memang hidup dalam ruang dan waktu yang sama. Namun kitapun terpisah oleh jurang yang dalam. Hanya satu yang bisa kita lakukan untuk tetap bergandeng tangan, kita harus masuk ke jurang itu”
“Tapi bukankah kau sudah punya.....” lagi-lagi Line tak mampu meneruskan kata-katanya. Dadaku ikut terasa sesak dengan kesalahan yang menggumpal. Aku memang terlalu pengecut untuk mengakui kesalahan ini.
Andai kau tahu Line, sengaja kukenalkan sepupuku itu sebagai tunanganku, agar kau membenciku. Agar kau hukum kelemahanku dengan kebencianmu. Aku tak tahu cara apa untuk mewujudkan janjiku itu? Haruskah aku berontak pada kehendak orang-orang yang mencintaiku? Aku bisa. Aku mampu. Tapi anehnya kamu selalu tak pernah setuju dengan cara itu. Jurang itu masih dalam Line, terlalu dalam untuk kita lalui. Kecuali kita terjun ke dalamnya. Andai kau tahu Line, pernah terlintas; Ingin kugandeng tanganmu lalu kita menyelam di kedalaman jurang itu. Ya, andai kau tahu. Kalau itu tak mungkin, aku akan tetap berdiri di bibir jurang itu, sambil menantimu di alam yang lain. Itulah tekadku, seandainya kau tahu, Line.
Matahari kian membakar dukaku, sorot-sorot tajam dari mata penuh curiga menelanjangiku. Aku tidak perduli. Sementara orang-orang dalam bis mulai gelisah menanti kehidupan ini dijalankan. Aku masih duduk di bangku terminal menanti Line untuk menggiring ke mana kehidupanku ini dijalankan.
“Ko, mengapa kau minta aku menemuimu? Apa tidak malu pada orang-orang yang mengenalmu? Ingat Ko, aku hanyalah seorang...”
“Line, tolong jangan kau katakan itu lagi! Aku tidak perduli apa kata orang, sudah terlalu lama kusimpan duka ini. Aku tak tak mau dukaku semakin dalam hanya karena menuruti kata orang. Kecuali kamu. Kecuali memang kamu sudah tak mau lagi mengenalku, maka akan kusempurnakan dukaku.”
“Maksudmu apa,Ko?”
“Aku akan berenang dalam jurang itu bersama dukaku, walau tanpa kamu!”
“Kau mau nekad, Ko?”
“Ya”
*** “Kamu tak tahu,Ko. Aku punya beban yang sama, orang-orangku menjadikan aku sebagai obyek untuk mengukuhkan gengsi dan harga diri mereka. Mereka menjodohkanku agar darah ningrat yang mengalir di tubuhku ini tetap terjaga keasliannya. Aku tak mengerti, aku berani melarikan diri terhadap perjodohan itu, tapi tak punya keberanian untuk nekad menyelam ke jurang yang menganga di depan kita. Aku takut kutuk akan menghantui keluargaku. Seandainya kau tahu, Ko. Ketika kuputuskan bekerja di tempatmu sebagai seorang A’a, sebenarnya aku tengah menyeberangi jurangku sendiri, aku lari. Celakanya di tempatmu kita dipertemukan untuk menghadapi jurang yang lain. Aku lelah, aku tak tahu lagi harus kemana? Tapi aku juga tak mau kita menyerah begitu saja dan menjeburkan diri ke jurang untuk meraih angan-angan kita. Tidak, kita tidak boleh senekad itu.”
“Apa yang kamu pikirkan, Line?”, kucoba mengusik lamunannya. Line pasti mengira aku hanya main-main. Aku memang terlahir sebagai pemuda keturunan China, tapi bagi sebuah cinta apa artinya China, Sumba, Sabu, Jawa dan sebagainya? Bukankah cinta pada hakekatnya adalah memadukan dua perbedaan? Bukan sekedar perbedaan laki-perempuan, tapi perbedaan suku, latar belakang, mungkin juga agama dan pendidikan. Namun semua itu akan kembali dan bermuara pada perbedaan yang hakiki : Dua jiwa yang berbeda!
Line masih diam, kembali ia menyembunyikan muka di antara lututnya. Aku semakin merasa bersalah. Aku pernah menawarkan janji-janji manis padanya. Dalam usia mudaku aku tak pernah berpikir bahwa dibalik janjiku, begitu besar jurang yang memisahkan angan-angan dan kenyataan untuk mewujudkannya.
Setelah kejadian tadi siang, aku yakin Line akan pergi dan tak pernah kembali. Maka kukejar ia di terminal ini, aku mau menebus kesalahanku, aku akan rela bila ia mencaci-maki di tengah terminal ini. Terlalu dalam luka yang sudah kutoreh di dadanya, aku tak mampu menebus kesalahanku.
Sejak Line kerja di rumahku, aku tak bisa menipu diriku sendiri; aku telah terjerat api cinta yang disembunyikan di balik matanya. Kuraih api itu dan Line membiarkanku meraihnya. Mamaku ternyata sangat peka dengan perubahan sikap putra satu-satunya. Sehingga aku dipindahkan untuk sekolah di Jawa. Tentu mama telah mempunyai sikap yang menyakitkanmu sepeninggalku ke Jawa. Aku tak tahu apa alasan mama memisahkan aku dengan Line. Perbedaan suku? Kehormatan? Ah, tentu bukan. Mendiang nenekku, mamanya mama adalah putri Sumba asli. Dulu kami memanggilnya Apu.
Aku juga tak mengerti mengapa justru mama yang begitu gigih memisahkan aku dari Line. Padahal separuh darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah Sumba. Mama juga memiliki sepupu-sepupu kaum maramba namun tak pernah dikenalkan kepada kami. Aku tak pernah mengerti apakah ada duka yang ingin disembunyikan, atau...ah aku tetap tak pernah mengeri.
“Maukah kau menyimpan anting ini, Line”, kusorong kotak kecil pemberianku dulu yang ditinggalkan diam-diam sebelum ia meninggalkan rumahku. Line menatap kotak itu, namun tangannya tetap mendekap lututnya. Ia menatapku dengan genangan tanda tanya yang tak pernah kumengerti.
“Aku tak bisa menerima, Ko. Aku sadar memang tidak pantas bagiku mewujudkan mimpi-mimpi ini. Kita beda, Ko. Sangat berbeda.”
“Cukup. Jangan kau singgung itu lagi! Terlalu menyakitkan bagiku. Aku lebih suka kamu memakiku atau memukulku sekalipun, tapi jangan kau singgung lagi perbedaan itu.”
“Tapi kenyataannya ...”
“Itu kenyataan mereka, bukan kenyataan kita. Kita bisa memadukan perbedaan ini untuk mewujudkan angan-angan kita membentuk persekutuan yang abadi. Aku siap menerima segala resiko. Maukah kamu mewujudkannya? Kita bisa minggat bersama, atau bila perlu kita lari ke alam lain yang tak pernah menanyakan perbedaan itu. Aku serius, serius Line”
Line menggenggam tanganku, lukisan haru tergambar di air matanya. Ia menatapku dengan linangan tanya yang tak pernah bisa kumengerti.
“Kau meragukan kesungguhanku, Line?”
Ia menggeleng tanpa sepatah katapun, air matanya semakin deras menelusuri pipinya yang memerah menahan beban deritanya.
Di terminal ini sebuah bis kecil melintas dan berhenti tepat di depan kami. Cerobong knalpot mengirim asap yang membuat sesak orang-orang yang menunggu kapan bis mereka bergerak menuju tujuan. Dadaku lebih sesak oleh waktu yang tersisa. Andai Line setuju, esok kami akan menyeberangi jurang pemisah ini dengan menumpang kapal untuk menggapai impian, entah dimana impian itu memabawa kami.
Aku tak pernah tahu kemana sebenarnya tujuan Line di terminal ini. Sejak mengenalnya aku tak pernah tanya dari mana sebenarnya asalnya. Aku memang telah bertekad untuk tidak mempersoalkan asal-usulnya. Itu hanya akan membuat Line semakin yakin terhadap perbedaan kami.
Di sisi kiri terminal, bis yang penuh penumpang itu belum juga diberangkatkan. Orang-orang dalam bis nampak mulai gelisah, mereka mengomel dalam bahasa daerah yang tak kumengerti. Di kaca depan bis itu tertulis Waingapu-Waikabubak PP . Tulisannya besar dan mencolok, pasti itu bis yang hendak ditumpangi Line. Aku masih punya waktu sebelum bis itu diberangkatkan.
“Kamu masih punya masa depan, Ko.” Aku hanya diam membiarkan ia menyeslesaikan kata-katanya.
“Kamu tidak boleh nekad, kamu lelaki satu-satunya dalam keluarga. Lupakan aku, aku hanya orang kecil yang pernah singgah di hatimu. Lupakan aku, Ko. Aku tak pantas menerima pengorbananmu, aku hanyalah seorang...” kembali Line tak mampu meneruskan kata-katanya. Kudekap erat tangannya di dadaku. Orang-orang di terminal menatap kami dalam pandangan mereka yang terasa ganjil.
“Aku sudah bertekad Line, bila kamu setuju akan kubuktikan sekarang juga. Aku akan mengikutimu kemana kamu pergi.”
“Tidak, Ko. Kamu tidak boleh senekad itu. Beri saya waktu.”
“Jadi kamu setuju kita kan menyeberang ?”, tanyaku menegaskan.
“Tidak, kita masih punya waktu untuk mewujudkan impian itu, Ko.” Line membuka kalung anahida yang dipakainya. Ada mamuli yang tergantung di antara untaian anahida. Ia menyerahkan kalung itu padaku.
“Apa maksudmu, Line?”
“Simpanlah ini, aku akan menyimpan anting perak itu.”
“Terus?”
“Kamu harus selesaikan sekolahmu, Ko. Aku akan menanti entah sampai kapan. Anting ini akan mengingatkanku, aku pernah memiliki Naga yang sejati. Dan semoga kalung itu juga bisa mengingatkanmu bahwa kamu pernah mencintai seorang A’a yang hina seperti aku ini. Waktuku sudah habis aku harus pergi sekarang!” Line langsung menuju bis yang mulai bergerak di depan kami.
Aku masih bengong melihat ia meninggalkanku begitu saja, baru kusadar ia menuju bis jurusan Timur, bukan bis di sisi kiri terminal yang menuju ke arah Barat. Aku berlari mencoba mengejar bis itu, tapi percuma ia sudah jauh meninggalkanku.
Kuamati kalung anahida itu, astaga mamuli asli dari emas. Terukir dengan huruf kecil Carroline Rambu Ngana. “Oh Carroline siapakah sebenarnya engkau? Kamu selalu merendahkan diri sebagai seorang A’a yang tak pernah mau mengaku siapa sejatinya dirimu. Mengapa kamu selalu bersembunyi di balik nama Yusmina Ngongo? Dan kepadaku kamu hanya mengaku bernama Carroline, mengapa Line? Apa yang sebenarnya kau sembunyikan?”
Asap yang ditinggalkan bis yang ditumpangi Line, mulai membumbung tinggi menyonsong matahari. Kemudian lenyap di telan udara panas. Suaraku terlalu keras memanggil-mangil nama Carroline. Orang-orang di terminal kembali memandangku dengan tatapan mata yang ganjil. Sementara orang-orang dalam bis di sisi kiri terminal, mereka melongok lewat jendela kaca saat bis mulai bergerak. Kehidupan mereka mulai dijalankan menuju tujuan, tatapannya melambai-lambai menertawaiku. “Kamu Naga yang lemah Lung, tak mampu mengejar Phoenix yang terbang meningggalkanmu.......” Terakhir kali di terminal itu, air mataku mengalir membentuk cermin yang memantulkan naga-naga kecil yang tertawa menelangjangiku. Kucoba memecahkan, namun aku tak pernah mampu. Di cermin air mataku, Carroline terbang bagai Phoenix yang melayang-layang tanpa arah. Aku tak mampu mengejar, bahkan aku tak mampu memecah kehidupan ini yang terasa membeku.
Sepuluh tahun yang lalu, aku : Lung si Naga Kecil terkulai di terminal kehidupan. Kini aku bukan lagi Lung si Naga Kecil, tapi aku masih terkulai mengejar Phoenix yang hilang menggedong nafas di sayap-sayapnya. Kehidupan ini terasa membatu bersama bayang-bayang Carroline......
Waingapu,15-03-2003
Baca juga Cerpen karya Yongky HS: A’a – Ura – Tari Getir Pinang CATATAN:
Ko/koko: panggilan untuk kakak laki-lakiA’a : kakak (Bhs. Sabu) populer digunakan untuk panggilan pembantu perempuanAnahida : untaian muti salakMaramba : kaum bangsawan
Naga dan Phoenix : dalam mitos China biasa di sebut Liong & Hong
Tulisan ini pernah dipublikasikan di : Tabloid Wunang
Onky HS/Yongky HS/Yonhs Wunang/YHS Rakasiwi: beberapa tulisannya (esay) pernah dibukukan dengan judul: CARA MUDAH MASUK SORGA-EDISI PERCOBAAN, Editor: FRANS W. HEBI, Dicetak terbatas untuk kalangan sendiri.
Beberapa tulisannya pernah dimuat di: Wunang, Waingapu Pos,Tambur, Sabana, Fajar Bali, Bangkit, Horizon.
Cerpennya : Suanggi (Cerpen dengan seting Budaya Sumba) Terpilih sebagai 15 Cerpen Terbaik Peraih Anugrah Sastra Majalah Horizon 2005.
|