|
Umbu segera mencari angkota, begitu ia turun dari kapal laut di Pelabuhan Perak. Sesuai arahan kawannya yang sudah lama tinggal di Jawa; ‘Sebaiknya menggunakan Anguna (Angkutan Serbaguna), seperti Taxi tapi bisa ditawar’. Maklum, kawannya tak bisa menjemput dan ini pengalaman pertama bagi Umbu menginjak tanah Jawa. Berada di daerah asing sebaiknya selalu waspada, bila perlu pasang muka angker,begitulah semboyan hidupnya. Badan tegap kulit hitam, kumis tebal mulut dan gigi memerah bekas sirih pinang, maka lengkaplah kesan sangar yang ia ciptakan.
Ciri khas hampir di semua terminal, stasiun dan pelabuhan di Indonesia, penjual jasa selalu memperlakukan calon penumpang seperti bola yang sedang diperebutkan. Kenek/konjak, calo taxi liar dan abang becak berebut membujuk dan menanyakan daerah tujuan Umbu, sambil berebut jasa untuk menenteng 2 tas besar yang dipanggul Umbu. Mereka cenderung memaksa. “Gentengkali mas? Kapasan? Darmo? Dukuh? Pandaan? Gresik?“ “Tidak!“, jawab Umbu. “Murah mas, full AC!“ “Kijang baru maas, aman dan nyaman!“ Umbu menghentikan langkahnya, 6 orang yang menguntitnya semakin antusias menawarkan jasanya. Tas di letakan di aspal, Umbu menarik nafas dalam-dalam, alis matanya ikut tertarik ke atas. Sudah sangar pikirnya. E..para penjual jasa angkutan malah gencar menawarkan jasanya. “Keluar kota mas?“ “Tiiiidaaaak! Siapa suruh angkat itu tas?“, bentak Umbu pada dua orang yang sudah siap menenteng tas bawaannya. “Sabar mas....ngono wae moring-moring!” ”Apa kau bilang? Saya orang Indonesia dari Sumba, saya juga tahu jam 2 malam itu memang sudah morning-sudah pagi!” “Sabar mas, sabar…ojok moring-moring maksud’e jangan marah-marah! Orang Indonesia kan terkenal sabar?” “Sabar kau bilang? Apa paksa-paksa orang itu juga termasuk ciri sabarnya orang Indonesia?!” “Mas ini maunya yok opo se ?” “Jadi apa juga kau punya mau?”, bentak Umbu dengan muka dibuat sesangar-sangarnya pada konjak yang sudah siap menenteng tas milik Umbu. Ciut juga nyali para penjual jasa angkutan itu melihat sikap Umbu. Di antara orang-orang yang menguntit tadi, ada seorang pemuda yang nampak pasif namun mengikuti terus langkah Umbu. Dalam suasana yang sudah mulai tegang ia mengacungkan telunjuk sambil mendekat ke Umbu. “Angguna bung?”, suaranya ramah. Umbu hanya menganggukkan kepala tanda setuju, sekaligus sebagai upaya menghidari ketegangan yang mulai terasa. Sopir Angguna langsung mengangkat 2 tas milik Umbu, ia berjalan penuh kemenangan di depan rekan-rekannya. Jarak antara tempat mereka bicara dengan tempat parkir oto Angguna itu ternyata lumayan jauh juga. Sang sopir berjalan lincah menyelinap di antara kerumunan orang-orang yang baru turun dari kapal. Umbu mengikuti di belakangnya beberapa kali ia ketinggalan harus setengah berlari mengikuti sang sopir, kalau tidak bisa-bisa tasnya amblas dibawa kabur. Demi sopan-santun ia tak menegur, hanya mengejar ke mana arah sopir melangkah. “Abang baru pertama datang Surabaya?“ “Ya mas, perlu waspada di tempat yang baru” “Memang bang, banyak kejahatan di Pelabuhan“ “Itulah, saya hanya pura-pura sangar saja, biar dorang pikir-pikir kalau mau bikin sama saya“ “Tapi abang cukup berani tadi!“ “Ah, saya hanya main gertak saja. Pangganggar orang Sumba bilang” “O….dari Sumbawa, lagi ngungsi dari kerusuhan tho? Pantas bawaannya berat. Bawa madu ya?“ “Mas, saya dari Sumba-bukan Sumbawa. Saya bawa kain tenun-bukan madu. Saya mau jualan kain-bukan mengungsi!“ “Haha....“ sang sopir tertawa mewakili ketidak-tahuannya. Umbu menyorong kertas catatan alamat kawannya; Jl. Lapang No. 30 RT IX RW III- Bratang. “Siap Bosssssss!“ kelakar sopir Angguna. Pagi itu masih gelap, Surabaya baru menguap dari tidurnya-jalanan masih lengang sepagi itu. Maka tak lama Angguna sudah sampai di mulut Gang Lapang. Angguna terpaksa tak sampai masuk karena sepanjang gang masih banyak tumpukan sampah yang belum terangkut. Sopir menurunkan barang bawaan Umbu. “Berapa mas?“, tanya Umbu hendak membayar. “Lima Puluh!” “Hah? Lima Puluh Ribu?” “Betul bang!” “Mana lima puluh ribu memang, di Kupang sa tak semahal ini mas!” “Terserah abang”, jawab sang sopir, kali justru si sopir yang pasang muka sangar. Umbu mikir-mikir juga untuk meladeni dengan gaya sangar, ia terlanjur mengaku bahwa tadi ia hanya pura-pura. Tapi tak urung ia protes juga dengan harga yang disebutkan sang sopir tersebut. “Hanya dekat saja ini mas!“ “Naiknya memang dekat, tapi pikul tas-mu itu yang jauh!“, sergah sang sopir. Ia tak menggunakan kata 'abang’ lagi untuk menyebut Umbu. “Saya kan tidak suruh kau angkat tas saya?“ “Saya juga tidak suruh kau naik mobil saya, sekarang ayo bayar!“ Sang sopir menyorongkan tangan pada Umbu. Cara menyorong tangan agak aneh-diluar kebiasaan orang meminta sesuatu, tangannya diangkat lebih tinggi sehingga dari balik jaketnya nyembul tangkai celurit. Umbu sempat melirik barang di balik jaket itu. Akhirnya Umbu mengalah ia tarik uang lima puluh ribuan. “Buang sial!“ desis Umbu sambil memberikan uangnya. “Tak usah main gertak! Ngaku-ngaku dari Kupang segala. Lihat di kaca mobil saya itu! Ada gambar kain dengan tulisan: Kain Tenun Ikat Sumba-NTB“! Kemudian sang sopir memacu mobilnya dengan meninggalkan sepenggal senyum buat Umbu. Waingapu, 30 September 2003 (Catatan: Sebuah iklan rokok di koran Nasional pernah salah menuliskan Sumba-NTB)
|