Tampilan terbaik, gunakan pixel 1024 x 768 dan Firefox

           | 
Ura
Kontributor: Yongky HS   
Selasa, 16 September 2008
URA Seorang kakek berjalan tanpa tongkat, rambutnya masih lebat walau telah memutih semua. Bajunya sedikit terbuka, membiarkan angin menerpa dadanya yang kian menipis. Jalannya masih lincah, meski sedikit membungkuk. Setiap hari ia selalu duduk di tepi pasar, menawarkan selai yang dirajutnya dari tali bekas, dan patung-patung kecil dari tulang-tulang hewan.. Giginya masih kuat mengunyah sirih-pinang dan sejumput tembakau selalu terselit di antara gusi dan bibir atasnya. Ia hidup sebatangkara, berjuang demi sisa hidupnya.

Lima belas tahun sudah aku tak pernah menengok tanah kelahiranku. Kubenci pulau Cendana ini seperti aku membenci sebuah takdir. Aku tak mau lagi menginjakkan kaki di tanah yang telah menumbuhkan duka dalam di hatiku. Di pulau ini aku dilahirkan, dipulau ini aku tumbuh sebagai seorang pemuda. Namun dipulau ini pula kehancuran masa mudaku di mulai.

Aku pernah mempunyai seorang kekasih,  kami menjalin kasih dalam situasi yang sangat sulit. Kami berpisah hanya karena orang tuaku tak menghendaki aku menjalin hubungan dengan wanita lain suku. Sejak itulah aku tak pernah lagi perduli dengan diriku, aku minggat sebagai protes terhadap sikap orang tuaku. Kemudian aku terdampar di kota Malang, di kota inilah aku tumbuh sebagai pemuda jalanan. Hidup di kota besar tanpa pengalaman dan tanpa kerja, membuatku sering terjerumus hal-hal yang negatif.

Beberapa kali aku pernah berurusan dengan polisi dan penjara. Aku tak punya modal untuk bisa bertahan hidup, maka kulakukan apapun demi sesuap nasi. Bahkan aku tak pernah merasa bersalah menjual tubuh demi uang. Apalah artinya harga diri, kalau diri ini sudah tak memiliki arti apa-apa lagi. Aku sudah kalah, aku sudah terbuang.

Hingga pada suatu ketika dalam pengembaraanku, aku ditemukan oleh seorang pendeta dalam keadaan koma. Aku terlibat perkelahian antar gang. Pendeta itu kemudian melarikan aku ke rumah sakit. Setelah sembuh kemudian aku di bawa pada sebuah seminary di Batu. Di situlah aku diijinkan untuk tinggal. Setiap hari aku memperoleh bimbingan rohani. Akhirnya aku bukan sekedar tinggal, tapi justru ikut menjadi siswa Sekolah Alkitab Batu-Malang.

Yohanes, itulah namaku setelah aku menjadi seorang pendeta.  Nama itu aku pilih sendiri sebagai penghormatan kepada pendeta yang menemukanku dan akhirnya kuangkat sebagai Ayah Angkatku. Pendeta itu memakai nama yang sama Yohanes. Nama asliku Lung.

“Engkau tak pernah bisa menjadi hamba Tuhan, apabila masih ada akar kepahitan di hatimu. Maka kembalilah ke Sumba, selesaikan sesuatu yang mengganjal di hatimu itu”, itulah nasihat ayah angkatku.

Kalau bukan karena sebagai seorang misionaris, pastilah aku akan menolak nasihat itu. Tapi kini aku harus melanggar sumpahku sendiri  –tidak menginjak pulau Sumba-, aku kembali ke pulau Sumba, tempat di mana kenangan luka sulit untuk kulupakan.

Sejak keluar Sumba aku tak pernah mengirim berita ke rumah orang tuaku, aku tak tahu dimana sekarang mereka berada. Aku dulu tinggal di sebuah rumah tingkat yang merangkap sebagai sebuah toko. Rumah yang menyimpan kenangan masa kecil itu kini telah menjadi milik orang lain. Khabarnya kedua kakak perempuanku telah menikah dengan orang luar pulau dan kedua orang tuaku ikut salah satu dari mereka. Aku memang masih memiliki keluarga di pulau ini, mereka tinggal di luar kota. Namun aku tidak punya niat untuk datang ke sana. Waktu kunyatakan aku benar-benar mencintai kekasihku dulu, mereka semua menganggapku sebagai anak durhaka. Maka lebih baik sementara waktu aku tidak mengunjungi mereka. Tapi aku akan tinggal di mana…. 

***

Aku mengenal kakek itu dalam sebuah perkenalan yang tak sengaja. Setiba di pulau Sumba ini, hal pertama yang aku kunjungi adalah tempat-tempat yang menyimpan kenangan  masa kecilku. Aku menuju tanah lapang tempat aku biasa bermain kuda, tapi tempat itu sudah berubah sama sekali. Tanah lapang tempatku bermain dulu, kini telah berubah menjadi sebuah pasar. Tempat di mana kakek tua itu menjajakan dagangannya.

“Murah ongko,” katanya sambil menujukkan seikat kerajinan ukir.

“Berapa ini?”iseng-iseng kutanyakan harga ukiran mamuli2 dari tulang sapi.

Selanjutnya aku duduk berbincang-bincang dengannya, ia mengenalkan diri sebagai Ura. Aku tak tahu apakah itu sebuah inisial atau sekedar nama panggilannya. Kemudian kukenalkan diriku sebagai seorang misionaris yang tengah merantau. Selanjutnya ia selalu memanggilku dengan sebutan Brur[i] , dan ia memintaku untuk memanggilnya cukup dengan sebutan Ura, tanpa embel-embel pak, om atau kakek.

“Panggil saja Ura,  cukup!”, katanya menegaskan.

“Sudikah Brur singgah di gubuk saya?”

“Dengan senang hati,” jawabku.

“Ya Tuhan Engkau telah mengirimku kembali ke tanah ini, atas kehendakmulah akan kupersembahkan ini sebagai buah pertamaku. Beri aku kekuatan dan kebijaksanaan agar lewat hambaMu ini NamaMu dipermuliakan.”

Kukabulkan keinginannya agar aku bukan singgah, namun juga sudi untuk menginap sementara di rumahnya. “Kebetulan”, pikirku, toh aku juga belum tahu hendak kemana memulai pelayananku ini.

Ura tinggal di sebuah rumah sederhana, dindingnya dari papan yang sudah mulai keropos dimakan ngengat. Atapnya dari seng tebal, karatan dan lubang di sana-sini. Di atas pintu rumahnya ada sebuah papan nama yang terbuat dari lempengan besi tertulis : Ura Toekang Poetret.

“Silahkan masuk, ini Ura punya gubug,” katanya padaku setelah ia membuka selot3 pintu rumah itu. Bau pengap segera menyeruak dari dalam rumah. Ura segera membuka dua jendela yang ada di kiri-kanan pintu masuk. Udara luar masuk, sedikit mengurangi bau pengap. Hanya ada satu bilik dalam rumah kecil itu. Bilik itu hanya tertutup dengan tirai lusuh yang sudah nampak kumal. Di pojok ruang dekat jendela ada sebuah meja kayu dan satu bangku panjang. Di sudut lain ada sebuah kompor minyak, beberapa periuk, mug, piring dan sendok-sendok yang diselipkan di dinding kayu. Lantainya terbuat dari pecahan traso yang disemen secara acak, model rumah-rumah orang kaya tempo dulu.

Bangunan ini berdiri tercepit di antara bangunan toko baru. Letaknya memang agak jauh dari tempat tinggalku dulu. Rasanya aku dulu sering melintas di daerah ini, tapi belum pernah kulihat bangunan tua ini. Kucoba-coba mengingat rumah ini dalam angan masa kecilku, namun sia-sia, aku tak ingat lagi.

Hampir semua dinding rumah tergantung foto-foto hitam putih dalam pigura kayu. Banyak foto yang sudah buram dan sulit untuk mengenali obyek dalam foto, namun sebagian masih bisa dilihat dengan jelas.  Kuamati foto-foto itu ada sebuah foto yang masih nampak jelas. ‘Seorang lelaki memakai kacamata hitam dan peci hitam, ia sedang tersenyum melepas dua ekor burung kakak tua beda warna.’ Di atas foto itu tertulis Boeng Karno 19574.

Ada foto lain, sebuah pekuburan dengan tanda salib disamping bangunan papan- Kirhkof Payeti 19565.  Di antara foto-foto yang tergantung di dinding itu, ada sebuah foto yang menyita perhatianku. Foto masih jelas dan bersih, obyeknya sangat unik; Seorang nenek tersenyum dalam pakaian adat Sumba, lengkap dengan kalung anahida6 dan mamuli, di atas rambutnya ada haikara jangga7. Di lengan nenek itu penuh dengan tato motif hewan-hewan gaya Sumba. Lucunya ia tengah menggendong seorang bayi yang didandani seperti  bangsawan China, lengkap dengan topi dan tauchang8. Pakaiannya jelas terlihat sulaman bergambar Naga. Tauchang itu pastilah palsu, karena terlihat miring mengikuti topinya yang miring hampir menutup sebelah mata bayi itu.

“Duduk dulu Brur”, Ura mengagetkanku.

“Ini semua hasil karya Ura?”

“Kala muda Ura ini juru potret Brur. Banyak orang puji Ura sebagi juru potret yang tak ada duanya di Sumba. Kala ada hajat besar Ura pula yang abadikan. Termasuk kala Presiden Soekarno kunjung ka Sumba.”

“Wah hebat juga.”

“Semuanya tinggal sebuah kenangan, yang terlalu indah untuk dilupakan. Brur mau minum apa? Ura ada masak air, Brur suka minum kopi apa teh?"

“Tak usah repot-repot.”

Kemudian Ura sibuk menyiapkan minuman buat kami. Aku masih berdiri mengamati foto seorang nenek dan bayinya itu.Ura sudah selesai menyediakan dua mug kopi, lalu mengajakku duduk di bangku panjang.

“Mari Brur, secangkir kopi bisa bikin kita orang punya badan segar kembali. Ura tidak ada sedia kue, kalau Brur mau, ada sirih pinang dan  repi minggit9.”

“Terima kasih.”

“Foto siapa ini pak?” tanyaku sekedar ingin tahu.

“Ura. Jangan panggil pak!”

“Maaf.”

“Coba bawa kemari”

Kuturunkan foto itu, lalu kuserahkan padanya, ia mengambil kacamatanya. Diamati foto itu, kemudian ia menarik nafas bersama asap yang membuat ruangan kembali terasa pengap. Lama ia terdiam, seakan meyelam pada sebuah kedalaman yang amat dalam.

“Brur mau dengar Ura punya cerita?”, katanya memecah kesunyian  hatinya sendiri. Aku hanya mengangguk sambil menunggu apa yang hendak diceritakan.

“Ia adalah saorang wanita yang Ura puji bagai saorang peri. Putri dari saorang maramba10 yang kaya raya. Cantik dan eilok rupawan. Bayi di gendongannya itu adalah cucunya.”

“Ura kenal dengan nenek itu?”

“Semua orang di tanah Sumba ini mengenal dia orang. Dia bersuamikan tau Hina11 saorang saudagar hewan. Saudagar hewan itu terkenal dengan sebutan babah saudagar, ia mengawini dengan belis10a12. Satelah dorang tinggal di kota, dorang menjadi pemeluk Nasrani. Semua tanggu marapu13 yang ada pada dia orang habis dibakar.

Bapa Raja ada sangat marah dengan ia punya putri punya tindakan. Dari kala itu dia tak mau kenal lagi dengan putrinya. Kemudian Bapa Raja dengan anak-anaknya yang lain ada atur siasat bikin penghukuman buat babah saudagar dan istrinya. Hewan-hewan babah saudagar yang ada pada orang kampung habis mereka curi. Dari itu sebab, babah saudagar terus merugi hingga jatuh miskin. Dorang hanya dapat satu anak perempuan dari buah perkawinannya. Sabenarnya itu putri ada mempunyai satu anak laki-laki sebelum ia menikah dengan babah saudagar….”

Ura menghentikan ceritanya, kulihat matanya, ada sesuatu yang terasa berat menggelayut di benaknya. Aku tak tega untuk memancingnya terus bercerita. Kubiarkan Ura tenggelam dalam asap rokok minggit.

“Brur, adakah Brur punya Tuhan ada sudi kasih ampun saorang yang bukan Nasrani?” Aku sempat terhenyak dengan pertanyaan ini.

“Ia yang kusembah adalah Tuhan segala bangsa, Ia juga Tuhan Ura, jikalau Ura mau mempercayainya sebagai Tuhan dan Juru Selamat Manusia.”

“Ura percaya, Brur!” Tak terasa kami sudah bercerita cukup lama, hari mulai gelap. Ura menyalakan lampu minyak, kemudian di taruh di atas meja tempat kami mengobrol.

“Brur masih mau dengar cerita soal foto ini?” Aku kembali hanya bisa mengangguk sebagai tanda setuju.

“Putri Raja itu punya nama Rambu Ngana, ia ada punya nama Nasrani, Carroline.”

“Adakah ini suatu kebetulan? Kekasihku dulu juga memiliki nama seperti itu. Ah pasti ini hanya sebuah kebetulan, aku tak mungkin hidup dalam dua waktu yang berbeda.”

Ura melanjutkan ceritanya. “Sabelum ia dikawin babah saudagar, Rambu Ngana ada memadu kasih dengan saorang dari golongan ata. Sebab dorang beda derajat, Bapa Raja tidak ijinkan dorang untuk menikah. Maka dipisahlah, hingga Rambu Ngana akhirnya berjodoh dengan Babah Saudagar itu.”

Aku semakin tertarik dengan cerita Ura, namun untuk memintanya melanjutkan cerita, aku tak tahu harus bagaimana. Ura mengambil sirih-pinang lalu mengunyah-ngunyah, kemudian menyelipkan tembakau di antara gusi dan bibir atas.

“Siapa nama Babah Saudagar itu, Ura?”, ia tidak menjawab pertanyaanku. Matanya mererawang jauh.

“Perihal Babah Saudagar itu. Setelah dianya jatuh miskin, dia menjadi saorang Nasrani Sejati. Dia berkeliling kampung untuk sebarkan itu ajaran Nasrani. Namun itu tiada lama, Babah Saudagar ditemukan tewas. Tubuhnya membiru ada bengkak-bengkak. Konon khabarnya dianya mati sebab ada kena obat14 orang kampung, yang tiada suka dengan dia punya ajaran.

”Ura menyalakan kembali rokok minggitnya. Kini giliran aku yang menarik nafas. Aku memang dilahirkan di tanah ini, namun aku tak pernah mendengar cerita-cerita sesadis itu. Sebagai seorang misionaris yang hendak berkarya di tanah ini, tentu ini sebuah cerita penting sekaligus sebagai peringatan bagiku. Aku harus lebih hati-hati, ditanah ini ada kepercayaan marapu yang dijunjung tinggi oleh masyarakat adat. Keselamatan dan ketentraman yang kubawa bisa justru menimbulkan petaka, bila aku salah langkah.

“Brur, adakah Brur punya Tuhan ada sudi kasih ampun saorang yang bukan Nasrani?”

Aneh, untuk yang kedua kali ia menanyakan pertanyaan yang sama ini. Ada sesuatu yang menggelayut di balik pertanyaannya, kujelaskan kembali apa yang sudah kujelaskan tadi.

“Tahun berapa kejadian itu, Ura?”, tanyaku mengalihkan topik pembicaraannya.

“Sudah lama sekali, kala Rambu Ngana habis melahirkan putrinya.”

“Foto ini dibuat tahun berapa?”

“Itu foto, Ura abadikan  kala cucu Rambu Ngana baru berumur satu tahun. Kala sebulan kemudian dari itu waktu, Rambu Ngana meninggal dunia.”

Lampu minyak di dalam gubug Ura berkedip-kedip ditiup angin. Ura membuka kacamatanya lalu diletakkan di atas meja. Ia mengusap matanya dengan ujung bahunya. Ada air mata menitik di bola matanya yang sayu.

“Brur…”, mungkin ia akan mengakhiri cerita, aku tak bereaksi menanti apa yang hendak diucapkan.

“Brur, adakah Brur punya Tuhan ada sudi kasih ampun saorang yang bukan Nasrani?”

“Tentu Ura, tentu!”

“Biar dia orang punya dosa sangat dalam?”

“Ya, asal ia mau mengakui dosanya dan memohon ampun.”

“Ura mau mengaku dosa di hadapan Brur..” Air matanya semakin nampak mengucur. Kupeluk kakek tua ini seperti seorang bocah yang menangis di pangkuan bapanya. Umurnya mungkin lebih dari tujuh puluh tahun.

Kuhibur Ura dengan siraman kata-kata rohani perihal pengampunan dosa. Aku menaikkan doa mohon pengampunan dosanya dan mohon kekuatan bagi jiwanya. Kemudian ia masih menceritakan sesuatu.

“Ura adalah kekasih Rambu Ngana sebelum ia menikah dengan Babah Saudagar, itu babah ada tewas oleh sebab Ura punya racun, bukan kena obat orang kampung. Nama itu babah ada di balik foto itu.”

Tangis Ura semakin keras di pelukanku. Aku masih memegang foto itu. Kubalik foto itu untuk mengetahui foto siapa ini sebenarnya. Ada tulisan dalam ejaan lama:

“Kenang-kenangan terachir Ramboe Ngana (Carroline) Istri dari Babah Ho. Ia ada mengokok14a dia poenya tjutju laki-laki: Loeng- 24 Oktober 1968”

Oh, ini foto ulang tahunku yang pertama. Jadi kakek di pelukanku ini adalah orang yang telah membunuh kakekku……

Ya Tuhan, ketulusan macam apakah yang terjadi di Golgota, Hingga Engkau ampuni orang yang menyalibMu itu untuk menemui Bapa di Sorga?. Ajarku untuk mengenal ketulusan itu.

Malam semakin larut, dan aku kian larut dalam pusaran angan yang tak kumengerti.

Lalu dentang lonceng lamat-lamat mengusik angan….. Seorang kakek membangunkan aku: “Maaf Pak silahkan masuk di dalam. Sebentar lagi di gereja ini ada doa pagi menyambut Minggu Advend.

Waingapu, 22 Maret 2002.

Beratus-ratus hewan ternak. Kemudian memboyongnya ke kota. Ayahnya adalah saorang Raja yang sangat tinggikan keluhuran marapu

Pernah Dipublikasikan di Tabloid Wunang

Baca juga Cerpen Karya Yongky HS: A,a – Naga Yang Terkulai – Tari Getir Pinang



i Sela: tali pengikat hewan

2 Mamuli: liontin khas Sumba biasa terbuat dari emas dan dipakai sebagai mas kawin

[i] Brur: Berasal dari bhs Belanda : saudara laki-laki (bung), panggilan ini populer di kalangan umat Nasrani
3 Selot: gembok
4 Tahun 1957 Presiden Ir Soekarno berkunjung ke Sumba, ia mendapat cideramata 2 ekor kakak tua Sumba        warna merah dan putih. Kemudian beliau melepas burung itu sebagai lambang kebebasan Indonesia.
5 Kirkhof; pekuburan gereja(kuburan Belanda) di Payeti, kini telah dibangun gedung pertemuan gerejawi/gedung MPL Pdt. Hapu Mbay
6 Anahida; Kalung dari untaian muti salak.
7 Haikara Jangga: hiasan rambut dari kulit penyu, biasa dipakai perempuan bangsawan Sumba
8 Tauchang: Rambut kucir lelaki China tempo dulu
9 Rokok minggit; rokok dari daun lontar

10 Maramba; bangsawan

11 Tau Hina : Orang China

10a Belis: mas kawin

12 Marapu: Dewa/leluhur, kepercayaan asli Sumba

13 Tanggu Marapu:Benda-benda keramat
14 Kena obat: kena teluh/santet

14a Mengokok: menggendong

Komentar
Tulis Komentar RSS
jenny  - tanya   |16-09-2008 12:47:54
Kalau boleh tau, rambu Ngana atau Caroline anak dari raja siapa,berkuasa di daerah mana di Sumba timur?
Terimakasih.
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
Silahkan masukan kode anti-spam yang Anda lihat di dalam gambar.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >