Tampilan terbaik, gunakan pixel 1024 x 768 dan Firefox

           | 
Ludah
Kontributor: Yongky HS   
Kamis, 18 September 2008

"Dilarang meludah disembarang tempat!”

“Jangan meludah dipot bunga!”

“Jangan meludah sembarangan!”

Pernakah anda membaca larangan seperti itu. Paling tidak kita pernah mendengar nasihat-nasihat seperti itu dimasa kecil dulu. Orang tua kita selalu mengajarkan pada kita agar tidak meludah ditempat-tempat seperti: kamar tidur, ruang makan ataupun didalam rumah (bila rumah kita berubin, keramik dan berlantai semen).  Nasihat itu tentu lebih berkaitan dengan kebersihan, dan sopan santun.

Meludah adalah mengeluarkan air liur, dan cairan lain dalam tubuh kita lewat mulut, dengan sengaja. Perlu dicatat, “sengaja “ disini untuk membedakan dengan yang tidak disengaja alias “ngiler”. Cairan lain yang dimaksud disini adalah “ingus”. Ada kebiasaan sebagian orang yang lebih suka mengeluarkan ingus lewat mulut dan bukan lewat hidungnya. Sehingga kebiasaan itu kita sebut meludah, bukan bersin atau ”pres hidung” sekalipun ingus yang dikeluarkan.

Kebiasaan mengeluarkan ingus lewat hidung, kalau dicari alasannya bisa jadi karena ingin praktis saja. Sebab bila ingus kita keluarkan lewat hidung tentulah memerlukan peran tangan kita. Adakalanya juga kita harus menggunakan tisu atau saputangan. Lebih repot lagi bila ingusnya meleleh kemana-mana. Bila itu terjadi dimuka orang banyak tentu kita jadi kikuk dan malu. Makanya banyak orang lebih suka mengeluarkan ingus lewat mulut. Bagaimana jika kita balik mengeluarkan ludah lewat hidung? Tentu janggal bukan!

Dirumah sakit Lindimara ada larangan untuk “makan sirih” dan merokok dalam kawasan rumah sakit itu. Bahkan larangan merokok itu dikuatkan dengan kutiban bahwa itu himbauan menteri kesehatan. Tapi apa sangsinya? Paling Anda hanya akan diperingatkan oleh satpam dengan sopan. Bisa jadi juga berlagak sangar. Tapi bagaimana jika Anda merokok bersama teman-teman anda? Atau Anda lebih sangar dari satpamnya?

Bisa jadi justru satpamnya pura-pura tidak melihat Anda. Perlukah dibuat undang-undang khusus untuk itu?(mungkin)

Makan sirih adalah kebiasaan yang ada dalam masyarakat Sumba. Kebiasaan itu susah untuk dihentikan begitu saja. Salah satu sisi buruk dari kebiasaan makan sirih juga menyangkut tentang kebersihan. Ludah dari orang yang makan sirih (ilu mea) bila mengenai pakaian dan lantai susah untuk dibersihkan. Sehingga bila kita melihat bekas ludah (ilu mea) itu ada ditempat-tempat umum tentu akan merusak keindahan.

Ada hal lain dari ludah selain menyangkut kebersihan. Ludah bisa juga sebagai sarana penular penyakit. Ludah orang yang menderita asma akan mengandung bibit penyakit asma. Ludah orang berpenyakit flu mengandung virus influensa. Sehingga bisa saja ludah itu dihinggapi lalat, lalu lalat membawa kemana-mana bibit penyakit yang dikandung ludah.

Meludah adalah aktifitas kita mengeluarkan ludah. Setiap hari kita meludah, bahkan sampai detik ini tentu Anda tidak akan ingat dimana dan sudah berapa kali Anda meludah. Cobalah untuk mencatat: berapakali, kapan, dimana dan untuk apa serta karena apa Anda meludah?

Kalau Anda tertip mencatat (dari pagi hari ketika bangun tidur sampai sore hari setelah anda mandi) tentu Anda akan kaget sendiri terhadap cara, fungsi, tempat dan banyaknya Anda meludah. Barangkali Anda meludah dengan santai tanpa mengeluarkan tenaga. Barangkali juga Anda harus dengan mengerahkan tenaga penuh untuk meludah.

Misalnya, Anda sedang duduk diteras, kemudian Anda malas berdiri, tapi ingin meludah. Agar ludah Anda tidak mengenai lantai teras, pastilah butuh tenaga ekstra. Apalagi bila jarak duduk Anda cukup jauh dengan tanah.

Di Mexico ada satu festival yang unik. Festival meludah. Festival ini diadakan secara rutin tiap tahun. Peserta festival diberi tembakau kunyah. Tembakau ini untuk merangsang air liur dan dahak. Kemudian masing-masing diberi kesempatan menyemburkan ludah sejauh-jauhnya. Penilaiannya persis lomba tolak peluru dan lempar lembing yang terjauh yang menjadi pemenang.

Orang makan sirih tentu mempunyai air ludah yang banyak. Air liurnya terangsang oleh rasa “sirih pinang”. Air ludah pemakan sirih pinang berwarna merah. Bila disemburkan ke kertas putih akan nampak kontras dan unik persis lukisan abstrak. Sungguh menarik, bila di Sumba kita adakan festival meludah bagi pemakan sirih. Ayo siapa mau jadi sponsor?

Tempat Anda meludah. Biasanya bila kita hendak meludah selalu mencari tempat yang aman. Tanah sering jadi pilihan utama. Harapan kita ludah itu cepat kering dan tidak membekas. Toilet (kamar kecil) dan wastafel, juga menjadi pilihan yang baik. Karena kita bisa menyiram ludah kita. Keranjang sampah juga bisa kita jadikan salah satu pilihan.

Tapi bagaimana bila kita berada dalam ruangan yang tidak ada sarana seperti itu. Paling kita akan menahan ludah kita atau menelannya. Dalam keadaan terpaksa, asbak, pot bunga dan tisu kita jadikan pilihan. Lebih terpaksa lagi mungkin kita meludah secara sembunyi-sembunyi dibawah meja, disela-sela kursi bahkan meludah begitu saja.

Betapa joroknya! Makanya ada larangan, ”Dilarang meludah diruangan ini!” Pantas kan?

Sebab-sebab kita meludah. Sebab utama kita meludah karena limpahan air liur yang ada dalam mulut kita. Air liur itu kita buang dengan cara meludah. Namun sebab-sebab itu bisa kita bagi :

  • karena rangsangan indra kita misalnya rasa pahit, pedis dan asin .
  • bau busuk juga bisa membuat kita meludah.
  • karena kondisi biologis kita misalnya sakit batuk, sariawan, radang tenggorokan dan lain-lain .
  • karena emosi misalnya merasa jijik , muak, jengkel dan lain-lain.

Pepatah: Menjilat ludah. Bermakna, orang yang menarik kembali perkataannya. Meludah keatas maknanya perbuatan sia-sia yang hanya merugikan diri sendiri. Pepatah atau peribahasa dengan menggunakan kata ludah memang banyak. Aktifitas kita meludah juga banyak maknanya. Bila orang melintas dihadapan kita, lalu kita meludah dengan memalingkan muka. Perbuatan itu bisa diartikan sebagai penghinaan dan tantangan.

Meludahi orang lain dengan sengaja merupakan bentuk lain dari “memukul”

Orang yang diludahi memang tidak akan luka secara fisik namun luka bathinnya sangatlah dalam. Ia akan merasa terhina dan terinjak-injak harga dirinya .

Ludah bisa juga membawa manfaat dan masalah. Ludah dipercaya sebagai obat pengganti yodium (obat luka). Ketika tangan kita luka tergores, luka itu kita oles dengan air liur kita, dengan harapan luka itu bisa cepat kering. Tapi ingat, belum ada penyelidikan khusus tentang kebenaran ini. Contoh yang sering kita lihat, cara orang mengobati na’i. Pusar orang yang kena na’I disembur dengan sirih pinang yang sudah dikunyah. Istilah orang Sabu dikatakan “puppe”. Tentu sirih pinang itu sudah mengandung air ludah sipenyembur bukan?

Kalau Anda kebetulan penggemar olah raga sepak bola, ada satu cerita tentang ludah dari lapangan sepak bola. Rudi Voller bintang sepakbola dari Jerman, pernah apes gara-gara ludahnya. Dalam sebuah pertandingan Voller terlibat pertengkaran dengan pemain lawan. Ia meludahi lawannya. Ulahnya diketahui wasit. Kartu merah diangkat wasit, Voller diusir dari lapangan. Keesokan harinya diumumkan oleh komisi disiplin, bahwa Rudi Voller kena sangsi skorsing dan denda. Nah apes betul si RudiVoller. Diusir dari lapangan, kena skorsing didenda pula.

Sebelum Anda selesai membaca tulisan ini, saya ingin bertanya, berapa kali Anda meludah dalam sehari? Bingung? Cobalah sesekali Anda hitung! Apakah Anda membaca sambil meludah? Apakah anda sedang menahan ludah sampai selesai membaca? Bila benar Anda hendak meludah, ada baiknya kita dengar kembali petuah orang tua kita dulu:” Jangan meludah sembarangan!”

Waingapu, 04-04-2002.

CATATAN: Tulisan ini pernah dipublikasikan di: Tabloid Wunang.

Komentar
Tulis Komentar RSS
nelang  - Ludah...   |18-09-2008 18:07:33
avatar saya titip satu...:)
"kalau mau meludah jangan menantang arah angin... karena akan kena muka sendiri...."
Lovely girl   |19-09-2008 06:29:17
avatar Isso é bom,
i muitas vezes deitar meu r ldh
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
Silahkan masukan kode anti-spam yang Anda lihat di dalam gambar.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >