|
"Dilarang meludah disembarang tempat!”
“Jangan
meludah dipot bunga!”
“Jangan
meludah sembarangan!”
Pernakah anda membaca larangan
seperti itu. Paling tidak kita pernah mendengar nasihat-nasihat seperti itu
dimasa kecil dulu. Orang tua kita selalu mengajarkan pada kita agar tidak
meludah ditempat-tempat seperti: kamar tidur, ruang makan ataupun didalam rumah
(bila rumah kita berubin, keramik dan berlantai semen). Nasihat itu tentu lebih berkaitan dengan
kebersihan, dan sopan santun.
Meludah
adalah mengeluarkan air liur, dan cairan lain dalam tubuh kita lewat mulut, dengan
sengaja. Perlu dicatat, “sengaja “ disini untuk membedakan dengan yang tidak
disengaja alias “ngiler”. Cairan lain yang dimaksud disini adalah “ingus”. Ada
kebiasaan sebagian orang yang lebih suka mengeluarkan ingus lewat mulut dan
bukan lewat hidungnya. Sehingga kebiasaan itu kita sebut meludah, bukan bersin
atau ”pres hidung” sekalipun ingus yang dikeluarkan.
Kebiasaan mengeluarkan ingus lewat
hidung, kalau dicari alasannya bisa jadi karena ingin praktis saja. Sebab bila
ingus kita keluarkan lewat hidung tentulah memerlukan peran tangan kita.
Adakalanya juga kita harus menggunakan tisu atau saputangan. Lebih repot lagi
bila ingusnya meleleh kemana-mana. Bila itu terjadi dimuka orang banyak tentu
kita jadi kikuk dan malu. Makanya banyak orang lebih suka mengeluarkan ingus
lewat mulut. Bagaimana jika kita balik mengeluarkan ludah lewat hidung? Tentu
janggal bukan!
Dirumah sakit Lindimara ada larangan
untuk “makan sirih” dan merokok dalam kawasan rumah sakit itu. Bahkan larangan
merokok itu dikuatkan dengan kutiban bahwa itu himbauan menteri kesehatan. Tapi
apa sangsinya? Paling Anda hanya akan diperingatkan oleh satpam dengan sopan.
Bisa jadi juga berlagak sangar. Tapi bagaimana jika Anda merokok bersama
teman-teman anda? Atau Anda lebih sangar dari satpamnya?
Bisa
jadi justru satpamnya pura-pura tidak melihat Anda. Perlukah dibuat
undang-undang khusus untuk itu?(mungkin)
Makan sirih adalah kebiasaan yang
ada dalam masyarakat Sumba. Kebiasaan itu susah untuk dihentikan begitu saja.
Salah satu sisi buruk dari kebiasaan makan sirih juga menyangkut tentang
kebersihan. Ludah dari orang yang makan sirih (ilu mea) bila mengenai pakaian
dan lantai susah untuk dibersihkan. Sehingga bila kita melihat bekas ludah (ilu
mea) itu ada ditempat-tempat umum tentu akan merusak keindahan.
Ada hal lain dari ludah selain
menyangkut kebersihan. Ludah bisa juga sebagai sarana penular penyakit. Ludah
orang yang menderita asma akan mengandung bibit penyakit asma. Ludah orang
berpenyakit flu mengandung virus influensa. Sehingga bisa saja ludah itu
dihinggapi lalat, lalu lalat membawa kemana-mana bibit penyakit yang dikandung
ludah.
Meludah adalah aktifitas kita
mengeluarkan ludah. Setiap hari kita meludah, bahkan sampai detik ini tentu Anda
tidak akan ingat dimana dan sudah berapa kali Anda meludah. Cobalah untuk
mencatat: berapakali, kapan, dimana dan untuk apa serta karena apa Anda
meludah?
Kalau Anda tertip mencatat (dari
pagi hari ketika bangun tidur sampai sore hari setelah anda mandi) tentu Anda
akan kaget sendiri terhadap cara, fungsi, tempat dan banyaknya Anda meludah.
Barangkali Anda meludah dengan santai tanpa mengeluarkan tenaga. Barangkali
juga Anda harus dengan mengerahkan tenaga penuh untuk meludah.
Misalnya,
Anda sedang duduk diteras, kemudian Anda malas berdiri, tapi ingin meludah. Agar
ludah Anda tidak mengenai lantai teras, pastilah butuh tenaga ekstra. Apalagi
bila jarak duduk Anda cukup jauh dengan tanah.
Di Mexico ada satu
festival yang unik. Festival meludah. Festival ini diadakan secara rutin tiap
tahun. Peserta festival diberi tembakau kunyah. Tembakau ini untuk merangsang
air liur dan dahak. Kemudian masing-masing diberi kesempatan menyemburkan ludah
sejauh-jauhnya. Penilaiannya persis lomba tolak peluru dan lempar lembing yang
terjauh yang menjadi pemenang.
Orang makan sirih tentu mempunyai air ludah yang banyak. Air liurnya
terangsang oleh rasa “sirih pinang”. Air ludah pemakan sirih pinang berwarna
merah. Bila disemburkan ke kertas putih akan nampak kontras dan unik persis
lukisan abstrak. Sungguh menarik, bila di Sumba
kita adakan festival meludah bagi pemakan sirih. Ayo siapa mau jadi sponsor?
Tempat Anda meludah. Biasanya bila kita hendak meludah
selalu mencari tempat yang aman. Tanah sering jadi pilihan utama. Harapan kita
ludah itu cepat kering dan tidak membekas. Toilet (kamar kecil) dan wastafel,
juga menjadi pilihan yang baik. Karena kita bisa menyiram ludah kita. Keranjang
sampah juga bisa kita jadikan salah satu pilihan.
Tapi bagaimana bila kita berada dalam ruangan yang
tidak ada sarana seperti itu. Paling kita akan menahan ludah kita atau
menelannya. Dalam keadaan terpaksa, asbak, pot bunga dan tisu kita jadikan
pilihan. Lebih terpaksa lagi mungkin kita meludah secara sembunyi-sembunyi
dibawah meja, disela-sela kursi bahkan meludah begitu saja.
Betapa
joroknya! Makanya ada larangan, ”Dilarang meludah diruangan ini!” Pantas kan?
Sebab-sebab kita meludah. Sebab
utama kita meludah karena limpahan air liur yang ada dalam mulut kita. Air liur
itu kita buang dengan cara meludah. Namun sebab-sebab itu bisa kita bagi :
- karena rangsangan
indra kita misalnya rasa pahit, pedis dan asin .
- bau busuk juga bisa
membuat kita meludah.
- karena kondisi biologis kita misalnya sakit
batuk, sariawan, radang tenggorokan dan lain-lain .
- karena emosi
misalnya merasa jijik , muak, jengkel dan lain-lain.
Pepatah: Menjilat ludah. Bermakna,
orang yang menarik kembali perkataannya. Meludah
keatas maknanya perbuatan sia-sia yang hanya merugikan diri sendiri. Pepatah
atau peribahasa dengan menggunakan kata ludah memang banyak. Aktifitas kita
meludah juga banyak maknanya. Bila orang melintas dihadapan kita, lalu kita
meludah dengan memalingkan muka. Perbuatan itu bisa diartikan sebagai
penghinaan dan tantangan.
Meludahi orang lain
dengan sengaja merupakan bentuk lain dari “memukul”
Orang
yang diludahi memang tidak akan luka secara fisik namun luka bathinnya
sangatlah dalam. Ia akan merasa terhina dan terinjak-injak harga dirinya .
Ludah bisa juga membawa manfaat dan
masalah. Ludah dipercaya sebagai obat pengganti yodium (obat luka). Ketika
tangan kita luka tergores, luka itu kita oles dengan air liur kita, dengan harapan
luka itu bisa cepat kering. Tapi
ingat, belum ada penyelidikan khusus tentang kebenaran ini. Contoh yang sering
kita lihat, cara orang mengobati na’i. Pusar orang yang kena na’I disembur
dengan sirih pinang yang sudah dikunyah. Istilah orang Sabu dikatakan “puppe”.
Tentu sirih pinang itu sudah mengandung air ludah sipenyembur bukan?
Kalau Anda kebetulan penggemar olah raga sepak bola,
ada satu cerita tentang ludah dari lapangan sepak bola. Rudi Voller bintang
sepakbola dari Jerman, pernah apes gara-gara ludahnya. Dalam sebuah
pertandingan Voller terlibat pertengkaran dengan pemain lawan. Ia meludahi
lawannya. Ulahnya diketahui wasit. Kartu merah diangkat wasit, Voller diusir
dari lapangan. Keesokan harinya diumumkan oleh komisi disiplin, bahwa Rudi
Voller kena sangsi skorsing dan denda. Nah apes betul si RudiVoller. Diusir
dari lapangan, kena skorsing didenda pula.
Sebelum Anda selesai membaca tulisan
ini, saya ingin bertanya, berapa kali Anda meludah dalam sehari? Bingung?
Cobalah sesekali Anda hitung! Apakah Anda membaca sambil meludah? Apakah anda
sedang menahan ludah sampai selesai membaca? Bila benar Anda hendak meludah,
ada baiknya kita dengar kembali petuah orang tua kita dulu:” Jangan meludah
sembarangan!” Waingapu, 04-04-2002. CATATAN: Tulisan ini
pernah dipublikasikan di: Tabloid Wunang.
|