 Belum kering peluh di dahi Yola, ibunya menyodorkan selembar catatan berisi daftar hafalan penjumlahan.
Sejam lalu murid SD kelas I
itu mendapat nilai jelek untuk pelajaran matematika di sekolah. “Kalau
tambah-tambahan saja enggak hafal, mana bisa mendapat ranking satu?”
kata ibunya. Si anak yang lelah cuma pasrah. “Memangnya, siapa yang tak
mau dapat ranking satu?” batinnya protes.
Kata ranking di dunia
sekolah memang lebih mewakili kepentingan orangtua ketimbang anak.
Ranking juga simbol, betapa kecerdasan intelektual (IQ) masih didewakan
sebagai satu-satunya ukuran kecerdasan. Kemampuan anak didik hanya
diukur dari nilai akademis. Jika nilai rapornya mencapai skala 8 - 10,
ia akan dianggap anak pandai, cerdas, pintar. Padahal “kepintaran” di
atas kertas itu bukanlah "kepintaran" sejati.
Sialnya, pemahaman salah
kaprah itu diyakini sebagian besar dari kita, orangtua. Siapa yang
ber-IQ tinggi kelak bakal sukses hidupnya ketimbang orang yang IQ-nya
rata-rata. Padahal dalam praktik, tidak selalu demikian. Misal, Tak
sedikit pemiliki IQ tinggi justru terpental dari ketatnya persaingan
memasuki dunia kerja.
"Mereka yang IQ-nya
biasa-biasa saja malah bisa menjadi selebriti,“ canda Prof. Dr.
Sarlito Wirawan Sarwono, guru besar Fakultas Psikologi, Universitas
Indonesia, Jakarta.
|