|
Ayah itu Luar Biasa |
|
|
|
Kontributor: Roslinda Ringu Rambu Lodji
|
|
Kamis, 27 May 2010 00:00 |
|
Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun - dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya.
|
|
Perbuatan Yang Luar biasa dari Seorang Anak Kecil |
|
|
|
Kontributor: Herold
|
|
Senin, 26 April 2010 16:56 |
|
Seorang anak di China pada 27 Januari 2006 mendapat penghargaan tinggi dari pemerintahnya karena dinyatakan telah melakukan “PERBUATAN LUAR BIASA”. Diantara 9 orang peraih penghargaan itu, ia merupakan satu-satunya kanak-kanak yang terpilih dari 1,4 milyar penduduk China. Yang membuatnya dianggap luar biasa ternyata adalah perhatian dan pengabdian pada ayahnya, senantiasa kerja keras dan pantang menyerah, serta perilaku dan ucapannya yang menimbulkan rasa simpati.
|
|
Sangat Patut Jadi Renungan! |
|
|
|
Kontributor: nelang
|
|
Minggu, 11 April 2010 10:35 |
|
Tulisan ini bisa menjadi renungan untuk kita semua sebagai orang tua. Bahwa Anak adalah titipan Tuhan dan bahwa kesabaran (seharusnya) jangan pernah ada habisnya, karena ketidak sabaran atau habisnya kesabaran bisa berdampak sangat panjang dan menyakitkan serta akan menghasilkan buah penyesalan yang tiada akan ada habisnya. Sumber tulisan ini saya saya ambil dari salah situs tapi lupa alamatnya. Karena menarik saya publish di sini. Berikut ceritanya.
|
|
|
Catatan Seorang Pejuang |
|
|
|
Kontributor: Bonefasius Sambo
|
|
Kamis, 31 Desember 2009 06:58 |
|
Di bukit yang tinggi, di sanalah aku dilahirkan. Lahir dari seorang janda miskin. Kata ibu, ayah meninggal saat usiaku 9 bulan. Sedangkan kakak kandungku meninggal diusia 2 tahun sebelum aku dilahirkan. Aku lebih senang kalau dibilang anak tunggal. Mungkin saja cita-cita ibu ingin suatu saat anaknya bisa menjadi petani ulet, atau seorang buruh tangguh, sesuai kondisi saat itu. Apalagi memikirkan dirinya hanyalah seorang janda miskin.
|
|
Kasih Seorang Saudara |
|
|
|
Kontributor: Bonefasius Sambo
|
|
Sabtu, 26 Desember 2009 07:14 |
|
Di gubug tua itu aku mampir. Karena lelah dan haus aku ingin meminta segelas air. Tapi si penghuni gubug menawarkan lain, mungkin karena iba padaku ia menawarkan untuk inap semalam. Apalagi jam tanganku menunjukan angka 21.00 WITA, keadaan yang kurang mendukung tuk melanjutkan perjalanan. Suasana yang sepi dan sunyi juga memaksa hatiku untuk menerima tawaran itu.
|
|
Tawaran Kasih di Bulan Desember |
|
|
|
Kontributor: Bonefasius Sambo
|
|
Rabu, 02 Desember 2009 00:25 |
|
Pagi itu embun masih membasahi dedaunan. Sesekali kicauan burung Murai masih terdengar. Mungkin suatu isyarat mereka meminta pamit kepada sang fajar. Butiran-butiran embupun tak mau ketinggalan,dengan cahayanya yang mengkilau dan memesona.
|
|
|
|
|
Halaman 1 dari 12 |