Tampilan terbaik, gunakan pixel 1024 x 768 dan Firefox

           | 
Hanggulat
Kontributor: Yongky HS   
Kamis, 04 September 2008
Kalau rasa lapar sudah mendekati titik ekstrim, maka rasa lapar itu bisa berubah menjadi semacam energi atau power untuk mendapatkan makanan. Ketika rasa lapar masih memuncak dan tiba-tiba dihadapkan pada setumpuk makanan, maka bisa-bisa insting kerakusan yang muncul tanpa kompromi. Dan kerakusan yang tak terkendali mampu mengubah naluri manusia menjadi naluri hewani. Sehingga ada istilah membabibuta apa saja yang ada habok sa…[1]!

Karena takut ketinggalan bus dalam perjalanan Waingapu-Waikabubak, maka serba buru-buru Yon naik bus dalam keadaan perut belum terisi. Akibatnya di tengah perjalanan yang meliuk-liuk oleh banyaknya tikungan itu, perut Yon mengeluarkan irama keroncongan, krukkk….kuekkkkkk, perutnya melilit mengikuti alunan bus. Untunglah bus singgah sejenak di pasar sorong-Makamenggit. Seorang rambu manis menawarkan sekantong plastik telur rebus yang disorongkan lewat kaca jendela, itulah sebabnya pasar ini terkenal dengan istilah Pasar Sorong. Dasar perut semakin berkerut, maka tanpa tawar-tawar lai[2], Yon membayar sekantong telur rebus berisi 5 butir. Butir pertama dilahap tanpa hambatan, butir kedua dikunyah penuh kenikmatan, butir ketiga ditelan dengan badan keringatan.

Sementara Yon lagi asyik menikmati telur-telurnya, bus sudah bergerak kembali melanjutkan perjalanan. Dasar Yon juga termasuk lawora[3] maka butir keempat masih disikat. Tapi apa akibat? Telur taka’e[4] di leher, Yon kelenger, telur kelima jatuh dari genggamannya. Yon kelimpungan memegang lehernya, sambil teriak-teriak tanpa suara: “Ackhhh......uckh.......aaackh ...uckhhhhhhhhh“. penumpang satu bus geger Yon hanggulat[5].

Sebenarnya kalau Yon sadar dan bertindak secara arif, mestinya ia berhenti pada butir kedua. Pada saat kita sudah bisa memenuhi kebutuhan utama, mengatasi lapar pada butir kesatu, maka ibarat rasa lapar memperoleh haknya. Di dalam bekerja kita memperoleh hasil, hasil itulah hak dari kerja kita. Apabila hasil itu melebihi kebutuhan utama kita maka kita menikmatinya sebagai sebuah berkat. Namun ketika kita paksakan untuk menelan berkat secara berlebihan, sadarlah bahwa bisa jadi kita sedang masuk pada tahap rakus. Perilaku korup, arogan, sok kuasa, sok intelek sebenarnya serupa juga dengan insting rakus ini. Korusi misalnya, sebenarnya hanyalah tindakan dimana kita mengambil lebih dari apa yang seharusnya menjadi hak kita.

Misal; ’Sebuah instansi mendapat sejumlah dana bagi masyarakat miskin’.  Andai saja kita adalah orang-orang yang berwenang di instansi tersebut maka hak kita hanya menjalankan fungsi kita menyalurkan dana itu bagi kaum miskin. Kalau kita mengurangi, mengambil, atau menyikat semuanya, maka tak ubahnya si rakus yang membabi buta. Halal-tidak halal, gelap-tidak gelap, kita gelap mata habok sa! Yon.

Apakah salah jika karena lapar dia memborong 5 butir telur? Tentu tidak! Yang kurang pas adalah caranya memperlakukan 5 butir telur itu. Kalau bijak, mestinya ia bisa menyimpan sisanya untuk bekal di perjalanan, siapa tahu sampai di Waikabubak lapar lagi. Atau kalau ia berbaik hati apa salahnya berbagi dengan penumpang di sebelahnya. Tapi itulah Yon, dasar kake’e[6], apa yang ada dia ceke[7] semuanya hingga hanggulat!

Sekarang kita, apakah salah jika kita mengejar kekayaan? Kejar proyek? Kejar pangkat? Kejar jabatan? Kejar popularitas? Tidak! Tidak ada yang salah! Kejar maling pun tak ada salahnya! Asal kita tahu diri dan arif, untuk apa kita kejar kekayaan, proyek, pangkat, jabatan, dan popularitas? Serta dengan cara bagaimana kita mengejarnya? Jangan kita curi motor untuk mengejar pencuri ayam! Jangan sampai kerakusan melatarbelakangi diri kita untuk mendapatkan itu semua, kita bisa kehilangan nurani manusia. Akhirnya tak ubahnya seperti si Yon tadi, dasar rakus ketemu makanan membabibuta. Untunglah ia hanya ketemu telur rebus. Kalau ketemu proyek, jabatan, pangkat, dana ini dan itu, wah, pasti disikat habis. Apalagi yang siluman! Proyek siluman, pangkat siluman, jabatan siluman, dan dana siluman, itu dia paling doyan! Makan!!!

Yesus pernah membuat mujizat 5 ekor ikan dan 2 roti (maaf terbalik) 2 ekor ikan dan 5 roti untuk memberi makan 5000 orang lebih. Dari mana ikan dan roti itu? Dari seseorang! Mengapa orang itu rela memberikan makanannya pada Yesus, padahal pasti ia juga lapar kan? Karena ada kearifan dalam diri orang itu! Mengapa masih juga ada sisa hingga 12 bakul? Karena masing-masing menerima bagiannya dengan arif dan bijak! Dalam kisah ini tidak diceritakan tentang minumnya, tapi ternyata tidak diceritakan ada yang hanggulat, kenapa? Karena setiap orang menikmati berkatnya dengan rasa syukur dan bijak.

Bayangkan dalam keadaan lapar mereka masih bisa teratur tertib antri untuk menerima bagian. Kalau Yon ada di sana? Wah gawat, bisa-bisa tidak ada sisa, bisa-bisa semrawut. Jangankan lapar, dalam keadaan kenyang saja susah untuk diajar antri. Pasti dia hanggulat di sana!

Dalam kisah ini kita bisa petik pelajaran tentang kearifan. Dalam keadaan krisis sosial-ekonomi-moral, kearifan itulah yang kita perlukan sebagai sebuah jawaban. Dengan kearifan itulah kita songsong masa depan bangsa kita, walau betapa sulitnya kita temukan kearifan dalam hidup ini. Tapi apa boleh buat kita harus mengejarnya.

Bagaimana dengan kisah si Yon tadi? Apa dia juga tidak punya kearifan? O, ya jelas! Seharusnya, selapar apupun ia harus bisa bertindak arif dan bijak. Inilah yang terjadi; Karena su[8] terlalu lapar, dia sikat memang itu telur, sampai ia lupa membeli air minum. Waktu su hanggulat seluruh penumpang dibuat kalangkabut. Yon taputar[9] memegangi leher, mulutnya terbuka matanya melotot, sampai lemas. Terpaksa sopir menghentikan bus untuk urus sama si Yon. Untunglah ini hanya kisah si Yon yang hanggulat!

Bagaimana bisa arif, bijak kalau perut su melilit? Makanya ada pemeo-Jangan berfilosofi dengan perut kosong bisa hanggulat!. Apa jadinya bila yang rakus, tamak, dan korup itu adalah para pengendali suatu negeri? Gawat penumpang negeri itulah yang akan dibuat repot, sengsara dan hanggulat!

Anda tahu siapa itu Yon? Itulah nama kecil saya. Aduh, gawat, cilaka, ternyata; Sayalah yang rakus. Sayalah yang tamak. Sayalah yang korup. Sayalah yang harus sadar. Sayalah yang harus kejar kearifan. Saya hanggulat!!!!!!!!!!

Waingapu, 11 Oktober 2003



[1] Habok sa: Pukul saja-bisa dikonotasikan sikat/makan saja.
[2] Lai :berasal dari kata lagi (dialek Kupang)
[3] Lawora: rakus
[4] Taka’e: tersangkut
[5] Hanggulat: tersesak di leher (sereten-Jawa)
[6] Kake’e : sekikir
[7] Ceke: makan (ucapan kasar)
[8] Su; berasal dari kata sudah (dialek Kupang)

[9] Taputar : berputar-bisa dikonotasikan belingsatan

Komentar
Tulis Komentar RSS
Joice   |10-09-2008 00:43:46
avatar hehe...lucu tulisannya...keren pake logat2 sumba sehari2
ONKY HS  - Trims   |10-09-2008 09:58:45
avatar trimakasih bersedia baca coretanku
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
Silahkan masukan kode anti-spam yang Anda lihat di dalam gambar.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >