Tampilan terbaik, gunakan pixel 1024 x 768 dan Firefox

           | 
Hengado
Kontributor: Yongky HS   
Sabtu, 06 September 2008

Tahun1994 saya pertama kali mengikuti acara kenoto di tanah Sumba. Kebetulan yang punya hajat adalah seorang polisi kawan saya. Tunangannya seorang gadis keturunan Sabu. Maka digunakanlah adat Sabu -kenoto- untuk meminang gadis pujaan kawan saya itu. Setelah acara ihi kenoto/sambung tangan, rombongan pihak laki-laki menuju ke pihak wanita dipimpin oleh seorang juru bicara. Uang hasil ihi kenoto dan sirih pinang dibawa sebagai bawaan untuk meminang.

Di tengah acara pianangan terjadi sebuah ketegangan; juru bicara pihak wanita menuntut lebih uang ganti air susu, dengan berbagai alasan klise. Juru bicara pihak lelaki bersikukuh hanya bisa membawa bawaan seperti yang telah disebutkannya, itupun dengan berbagai alasan. Tidak adanya titik temu antara dua juru bicara telah merubah acara pinangan menjadi tegang dan membeku. Muka sahabat saya sudah merah padam. Dalam pikiran saya “Pasti pinangan ini ditolak”.

Di tengah-tengah kebekuan orang-orang disekitar saya mulai kasak-kusuk; “Hengado, hengado!”. Kemudian juru bicara dari pihak laki-laki bangkit dan menyampaikan sesuatu dalam bahasa Sabu, lalu ia memeluk dan mencium juru bicara pihak wanita. Saya bingung menyaksikan adegan itu, kawan saya lebih lagi, ia hanya bisa tolah-toleh kebingungan. Tapi setelah itu wajahnya kembali berseri karena pembicaraan langsung dilajutkan pada penentuan tanggal dan tempat pernikahan. Pernikahan pun terjadi.

Hengado (berciuman) bagi masyarakat Sabu ini sebenarnya mengandung sebuah simbol kesepakatan yang disertai ketulusan murni. Dalam kasus pinangan tadi, pihak laki-laki secara sadar dan tulus mengakui ke-tidak mampu-an-nya memenuhi tuntutan lebih uang ganti air susu. Dan pihak wanita secara tulus pula, menerima itu tanpa mempermasalahkan lagi. Di sini sebenarnya terjadi proses rekonsiliasi yang cantik terhadap sebuah permasalahan, satu pihak mengakui ketidak mapuannya dan di satu pihak secara suka rela menerima ketidak mampuan itu.

Apakah hengado sebagai sebuah penyelesaian masalah hanya terjadi dalam adat formal? Ternyata tidak!

Dalam kesempatan lain, saya pernah menyaksikan sebuah kecelakaan kecil; tabrakan motor dan sepeda. Walau kedua korban tidak mengalami luka yang berarti, sempat pula terjadi perkelahian karena masing-masing menganggap diri benar. Kebetulan si pengendara sepeda adalah orang Sabu dan nampak lebih tua dari si pengendara motor. Si pengendara motor itu tentulah bukan orang Sabu, karena saya tidak menyaksikan mereka berdialog dalam bahasa Sabu.

Beberapa orang melerai mereka, si pengendara motor lalu mengambil inisiatip hengado-mencium si pengendara sepeda disertai permintaan maaf. Adegan selanjutnya cukup mengharu-biru hati saya; Si pengendara sepeda membopong sepedanya dibonceng si pemilik motor. Mereka menuju toko sepeda. Dan inilah ending yang cantik; mereka patungan mengganti roda sepeda yang peyot.

Banyak drama kehidupan di dunia ini yang bisa kita saksikan sebagai sebuah cermin. Seperti kisah pinangan dan kecelakaan tadi. Dalam skala besar kita bisa tempatkan pula pihak-pihak yang berselisih ibarat si pengendara sepeda dan si pengendara motor. Tarulah contoh, tentang Kesepakatan Geneva antara RI-GAM. Pihak-pihak yang bertikai diwakili juru bicara, duduk semeja didampingi oleh mediator. Setelah kesepakatan tercapai mereka saling bersalaman bahkan berpelukan. Tapi apa yang terjadi setelah ada Kesepakatan Geneva? Ternyata Aceh sampai kini kian memanas.

Kesepakatan damai telah dilanggar dan dilupakan, maka kesepakatan itu tinggal sebagai sebuah formalitas belaka, beda dengan hengado. Dalam hengado faktor ketulusan sebagai pemegang peranan penting, kedua belah pihak secara suka rela melupakan kepentingan-kepentingan mereka. Sepakat berdamai dulu dan melebur kepentingan masing-masing, lalu menuju langkah pencarian solusi dengan semangat moralitas. Niat dan tindakan berjalan seiring. Sedang Kesepakatan Geneva RI-GAM, kepentingan-kepentingan kedua pihak dimunculkan, dipilah-pilah poin-poinnya yang bisa ditoleransi oleh kedua pihak-kemudian barulah terjadi kesepakatan. Niat untuk berdamai memang ada, tapi tidak seiring dengan tindakan.

Marilah kita sedikit berfilosopi. Hengado dilakukan oleh dua pihak yang saling menyentuhkan ujung hidung. Saat bersentuhan mulut tertutup rapat dan nafas tertahan sejenak. Di sini terjadi simbol proses penyatuan yang seutuhnya, walau hanya 1-2 detik, konsentrasi kita terpusat pada satu titik-ujung hidung lawan bicara. Mulut yang tertutup menggambarkan bahwa kita benar-benar telah sepakat untuk tidak lagi beradu argumentasi untuk mendukung keyakinan dan kepentingan masing-masing. Nafas yang tertahan sebagai simbol pematian diri sehingga ke-aku-an akan hilang, tidak ada lagi egoisme. Lebih dalam lagi, sebenarnya saat menahan nafas, sedang terjadi proses penjernihan pikiran. Artinya kesepakatan (hengado) kita lakukan benar-benar dengan hati dan pikiran yang jernih, bukan sekedar basa-basi.

Bila anda sedang menghadapi suatu masalah, cobalah menarik nafas dalam-dalam  kemudian keluarkan kembali dengan irama seperti saat anda menarik nafas. Udara yang anda tarik sebenarnya tidak kembali lurus seperti saat anda keluarkan. Terjadi pembelokan udara di pusat perut kita, seperti leter U. Nah saat berbelok itulah terjadi rehat sejenak(ibarat mobil pasti mengerem saat berbalik), dan terjadi proses penjernihan energi. Sehingga jangan heran usai menarik nafas dalam-dalam, anda akan memiliki sedikit kekuatan untuk berpikir lebih jernih menghadapi masalah.

Saya ingin berandai-andai.

Andai saja, kesepakatan Geneva RI-GAM adalah sebuah proses hengado, oh..alangkah indahnya. RI bisa kita simbolkan sebagai si pengendara motor yang membonceng si pengendara sepeda (Aceh) untuk sama-sama mengobati luka-luka si pengendara sepeda akibat “kecelakaan politis” yang tengah menimpa mereka. Tapi apa boleh buat, juru bicara RI-GAM di Geneva bukanlah si pengendara motor dan si pengendara sepeda. Mereka bukan pula seperti juru bicara pinangan sobat saya. Moral RI dan GAM bukan moral orang Sabu dan Kesepakatan Geneva bukanlah Hengado Geneva. Namun tak ada salahnya kita belajar dari orang Sabu. Hengado!

Waingapu, 13-05-2003

(Catatan: Tulisan ini pernah dipublikasikan di Tabloid Wunang)
Komentar
Tulis Komentar RSS
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
Silahkan masukan kode anti-spam yang Anda lihat di dalam gambar.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >