Tampilan terbaik, gunakan pixel 1024 x 768 dan Firefox

           | 
Lahu
Kontributor: Yongky HS   
Minggu, 21 September 2008

Dua orang sahabat bertemu di simpang jalan. Katakanlah yang satu bernama si A dan satunya si B.

Lahu, pi mana kau kemarin malam?”

“Saya pigi kau punya rumah, dorang bilang kau tidak ada lahu!” kata si A pada si B.

“Kau punya lahu. Orang bilang suruh datang sedu, kau pigi malam-malam!” jawab si B.

(Maaf saya rekam dialog ini secara lurus)

Mungkin Anda pernah mendengar dialog seperti dua orang sahabat tadi. Mungkin juga dalam dialog yang lain yang mirip itu.Terutama penyertaan atau adanya kata-kata makian dalam sebuah dialog.Bahkan mungkin Andalah aktor dari dua orang sahabat tadi? Maaf bila itu benar Anda, ataupun seperti itu. Saya tidak bermaksud sedang mengolok-olok Anda. (Sekali lagi maaf)

Sepuluh tahun lalu saya pernah terjebak dalam persepsi yang salah tentang kata lahu. Saya mensejajarkan kata itu dengan kata rek yang biasa digunakan arek-arek Surabaya. Sejajar dengan kata sam/kid (mas/dik) yang sering dipakai remaja kota Malang, sehingga kurang lebih dialog tadi saya persepsikan seperti ini;

“(Rek/mas/dik) kemana kamu kemarin”

“Saya kerumahmu, mereka bilang kamu tidak ada (rek/mas/dik)” , kata si A pada si B.

“Kamu (rek/mas/dik), disuruh datang sore malah datang malam”, jawab si B.

Itu adalah persepsi saya terhadap kata lahu, ketika saya belum genap satu bulan tinggal di Sumba.Untunglah kata itu tidak saya gunakan untuk sok berakrab-akrab dengan sahabat baru saya. Arti kata lahu sesungguhnya jauh berbeda dengan persepsi saya.

Dalam kamus Bahasa Sumba Kambera karangan Oe. H. Kapita, kata lahu diartikan sebagai alat kelamin laki-laki (penis). Makna harfiahnya memang seperti itu. Namun dalam kontek pembicaraan si A dan si B tadi artinya sama, tapi bermakna sebagai sebuah makian. Pertanyaan saya, ”Mengapa sebuah makian sering muncul dalam perbincangan-perbincangan biasa?”

Maki adalah bicara kotor, cacian, cerca dan umpatan sebagai ungkapan rasa dongkol benci bahkan marah. Maki dan makian berarti perbuatan dan benda yang ditabukan dalam masyarakat. Paling tidak dianggap sebagai hal yang tidak hormat dalam norma-norma sosial kita. Sehingga pemaki dianggap sebagai orang yang tidak hormat. Lebih ekstrim lagi dianggap sebagai asusila dan tak bermoral. Tapi mengapa kita masih suka maki-maki?”

Lepas dari arti buruk dan jelek bahkan amoral, makian dalam kontek bahasa tetaplah sebagai sebuah simbol. Simbol yang mewakili rasa, benda dan keadaan. Sehingga dalam kontek ini makian bisa kita setarakan dengan kata-kata lain seperti, aduh, wah, hebat, sakit, meja, kursi dan lain-lain.

Kembali ke pertanyaan saya semula, ”Mengapa makian sering muncul dalam perbincangan-perbincangan biasa?” Makian justru sering muncul dalam perbincangan yang bersifat kelakar, perbincangan yang akrab. Walaupun demikian kita tidak bisa mengklaim itu sebagai sebuah simbol keakraban. Bisa rancu sekali bahasa kita nanti!

Sesuatu yang janggal justru makian muncul dalam kalimat yang bersifat memuji. Contoh, “Lahu, kamu sudah jadi orang penting sekarang!” Anggap saja si A yg berkata pada si B.

Pembaca yang budiman, mari kita coba tela’ah kalimat tersebut. Benarkah si A sedang memuji si B yang punya kedudukan penting? Ataukah si A justru sedang melecehkan si B? Apakah si B akan tersinggung? Bila kita ada pada saat pembicaraan itu terjadi, mungkin kita anggap itu biasa, karena mereka bicara sebagai sahabat yang akrab. Mungkin juga kita anggap si A sebagai si mulut kotor. Kalaupun mereka sebagai dua sahabat yang akrab dan sedang bercanda, bagaimana jika itu didengar oleh anak-anak kita. Bukankah itu merupakan contoh sangat buruk bagi anak-anak kita? Tanpa kita sadari kita sudah mengajarkan keakraban yang salah pada mereka. Dalam kontek pembicaraan antara si A dan si B tadi, bagaimana jika si B justru merasa sedang dipuji sahabatnya? Apakah kita sudah benar-benar kehabisan kata yang lebih baik daripada sebuah makian, sekalipun itu hanya berkelakar?

Saat ini lembaga DPR pusat, POLRI, TNI dan Presiden sedang gencar didemo oleh para mahasiswa kita. Demikian juga dengan para elit politik kita. Dituding korup, hanya sibuk urus kepentingan pribadi dan golongan, tidak becus urus negara dan sebagainya dan sebagainya. Dalam aksi demo mahasiswa sering pula terlontar kata-kata kotor, hujatan dan makian. Sungguh celaka! Apabila para elit politik menganggap hujatan dan makian itu sebagai hal yang biasa. Lebih celaka lagi apabila justru itu dianggap sebagai sebuah pujian yang melegitimasi ke-elit-an mereka.

Seorang sahabat saya pernah berkelakar begini, “Siapa pemilik hewan terbanyak di pulau Sumba ini?

“Umbu Yadar” jawab saya.

“Salah!”, katanya.

“Justru kitalah pemilik hewan terbanyak!”

“Oh…ya..?”

Penjelasannya begini. Umbu Yadar mungkin punya ribuan hewan di padang. Tapi kita punya beribu-ribu hewan yang kita simpan dalam mulut kita. Ada hewan kecoa, jangkrik, tikus, anjing, babi, monyet, kerbau dll. Dalam satu hari barangkali puluhan yang kita keluarkan. Toh hewan itu (sbg.makian) tidak habis-habis juga, kecuali kita insaf. Saya pikir betul juga kelakar sahabat saya yang suka maki-maki ini.

Kebiasaan maki bukanlah monopoli orang-orang muda. Bukan pula monopoli orang-orang dengan latar belakang pendidikan rendah. Maki tidak mengenal strata sosial, usia, pendidikan bahkan status sosial, juga jenis kelamin. Dikalangan anak-anak pun sering terlontar kata-kata makian. Walaupun itu sekedar latah, namun ini adalah fakta yang cukup memprihatinkan. Lebih celaka lagi apabila kita anggap itu sebagai hal biasa.

Kebiasaan bicara kotor (maki) tetap dianggap kotor dan tabu, walau sering kita dengar. Kecuali norma-norma sosial kita yang bergeser. Atau kata makiannya yang mengalami pergeseran arti.

Kembali ke kata lahu. Tentu kata ini masih punya arti yang sama (jenis kelamin laki-laki). Berkonotasi negatif bila diucapkan. Norma sosial kitapun masih sama, bicara kotor adalah hal tak terpuji dan tabu.

Tidak munafik, sayapun kadang latah juga mengucapkan kata itu. Celakanya lagi justru kata inilah, kosa kata lokal Sumba yang pertama kali saya tahu. Tapi tentu saya tidak mau dianggap sebagai si mulut kotor. Lalu bagaimana caranya? Apakah seperti kelakar sahabat saya tadi? “Kecuali kita insaf!“ Mungkin ya, mungkin juga tidak. Kita bisa memulainya dengan mencoba untuk mengurangi “porsi makian” kita.

Kiatnya? “Sekalipun Anda sedang bicara dengan sahabat Anda anggap Anda sedang berbicara dengan Gus Dur” Bagaimana menurut Anda?

Waingapu, 28-03-2002

CATATAN: Tulisan ini pernah dipublikasikan di : Tabloid Wunang dengan Judul: MAKI

Komentar
Tulis Komentar RSS
donny  - didikan lingkungan   |22-09-2008 15:37:24
avatar iya sih...jd inget waktu masih di waingapu, disekolah tuh byk teman2 yg suka
melontarkan kata lahu ato puki mai....

kayaknya emang didikan lingkungan yg gak
sehat, apalagi ortu dr ank2 tsb cuek aja kl denger anknya ngucapin kata itu...
ini pengalaman wkt di sana sih
ONKY HS   |23-09-2008 17:26:36
avatar Satu lagi lucunya kalo anak-anak yang baru tahu ngomong terus terlontar
kata-kata makian, "kita" justru merasa lucu....
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
Silahkan masukan kode anti-spam yang Anda lihat di dalam gambar.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >