|
Dua orang sahabat bertemu
di simpang jalan. Katakanlah yang satu bernama si A dan satunya si B.
“Lahu, pi mana kau
kemarin malam?”
“Saya pigi kau punya rumah,
dorang bilang kau tidak ada lahu!” kata si A pada si B.
“Kau punya lahu.
Orang bilang suruh datang sedu, kau pigi malam-malam!” jawab si B.
(Maaf saya rekam dialog ini
secara lurus)
Mungkin
Anda pernah mendengar dialog seperti dua orang sahabat tadi. Mungkin juga dalam
dialog yang lain yang mirip itu.Terutama penyertaan atau adanya kata-kata
makian dalam sebuah dialog.Bahkan mungkin Andalah aktor dari dua orang sahabat
tadi? Maaf bila itu benar Anda, ataupun seperti itu. Saya tidak bermaksud
sedang mengolok-olok Anda. (Sekali lagi maaf)
Sepuluh tahun lalu saya
pernah terjebak dalam persepsi yang salah tentang kata lahu. Saya
mensejajarkan kata itu dengan kata rek yang biasa digunakan arek-arek Surabaya. Sejajar dengan kata sam/kid
(mas/dik) yang sering
dipakai remaja kota Malang, sehingga kurang lebih dialog tadi saya persepsikan
seperti ini;
“(Rek/mas/dik) kemana kamu kemarin”
“Saya kerumahmu, mereka
bilang kamu tidak ada (rek/mas/dik)” , kata si A pada si B.
“Kamu (rek/mas/dik), disuruh
datang sore malah datang malam”, jawab si B.
Itu adalah persepsi saya
terhadap kata lahu, ketika saya belum genap satu bulan tinggal di
Sumba.Untunglah kata itu tidak saya gunakan untuk sok berakrab-akrab dengan
sahabat baru saya. Arti kata lahu sesungguhnya
jauh berbeda dengan persepsi saya.
Dalam kamus Bahasa Sumba
Kambera karangan Oe. H. Kapita, kata lahu diartikan sebagai alat kelamin
laki-laki (penis). Makna harfiahnya memang seperti itu. Namun dalam kontek
pembicaraan si A dan si B tadi artinya sama, tapi bermakna sebagai sebuah
makian. Pertanyaan saya, ”Mengapa sebuah makian sering muncul dalam
perbincangan-perbincangan biasa?”
Maki adalah bicara kotor,
cacian, cerca dan umpatan sebagai ungkapan rasa dongkol benci bahkan marah.
Maki dan makian berarti perbuatan dan benda yang ditabukan dalam masyarakat.
Paling tidak dianggap sebagai hal yang tidak hormat dalam norma-norma sosial
kita. Sehingga pemaki dianggap sebagai orang yang tidak hormat. Lebih ekstrim
lagi dianggap sebagai asusila dan tak bermoral. Tapi mengapa kita masih suka
maki-maki?”
Lepas dari arti buruk dan
jelek bahkan amoral, makian dalam kontek bahasa tetaplah sebagai sebuah simbol.
Simbol yang mewakili rasa, benda dan keadaan. Sehingga dalam kontek ini makian
bisa kita setarakan dengan kata-kata lain seperti, aduh, wah, hebat, sakit,
meja, kursi dan lain-lain.
Kembali ke pertanyaan saya
semula, ”Mengapa makian sering muncul dalam perbincangan-perbincangan biasa?”
Makian justru sering muncul dalam perbincangan yang bersifat kelakar,
perbincangan yang akrab. Walaupun demikian kita tidak bisa mengklaim itu
sebagai sebuah simbol keakraban. Bisa rancu sekali bahasa kita nanti!
Sesuatu yang janggal justru
makian muncul dalam kalimat yang bersifat memuji. Contoh, “Lahu, kamu sudah jadi orang
penting sekarang!” Anggap saja si A yg berkata pada si B.
Pembaca yang budiman, mari
kita coba tela’ah kalimat tersebut. Benarkah si A sedang memuji si B yang punya kedudukan penting? Ataukah si A
justru sedang melecehkan si B? Apakah si B akan tersinggung? Bila kita ada pada
saat pembicaraan itu terjadi, mungkin kita anggap itu biasa, karena mereka
bicara sebagai sahabat yang akrab. Mungkin juga kita anggap si A sebagai si
mulut kotor. Kalaupun mereka sebagai dua sahabat yang akrab dan sedang
bercanda, bagaimana jika itu didengar oleh anak-anak kita. Bukankah itu
merupakan contoh sangat buruk bagi anak-anak kita? Tanpa kita sadari kita sudah
mengajarkan keakraban yang salah pada mereka. Dalam kontek pembicaraan antara si A dan si B tadi, bagaimana jika si B
justru merasa sedang dipuji sahabatnya? Apakah kita sudah benar-benar kehabisan
kata yang lebih baik daripada sebuah makian, sekalipun itu hanya berkelakar?
Saat ini lembaga DPR pusat,
POLRI, TNI dan Presiden sedang gencar didemo oleh para mahasiswa kita. Demikian
juga dengan para elit politik kita. Dituding korup, hanya sibuk urus
kepentingan pribadi dan golongan, tidak becus urus negara dan sebagainya dan
sebagainya. Dalam aksi demo
mahasiswa sering pula terlontar kata-kata kotor, hujatan dan makian. Sungguh
celaka! Apabila para elit politik menganggap hujatan dan makian itu sebagai hal
yang biasa. Lebih celaka lagi apabila justru itu dianggap sebagai sebuah pujian
yang melegitimasi ke-elit-an mereka.
Seorang sahabat saya pernah
berkelakar begini, “Siapa pemilik hewan terbanyak di pulau Sumba ini?
“Umbu Yadar” jawab saya.
“Salah!”, katanya.
“Justru kitalah pemilik
hewan terbanyak!”
“Oh…ya..?”
Penjelasannya begini. Umbu
Yadar mungkin punya ribuan hewan di padang. Tapi kita punya beribu-ribu hewan
yang kita simpan dalam mulut kita. Ada hewan kecoa, jangkrik, tikus, anjing,
babi, monyet, kerbau dll. Dalam satu hari barangkali puluhan yang kita
keluarkan. Toh hewan itu (sbg.makian) tidak habis-habis juga, kecuali kita insaf.
Saya pikir betul juga kelakar sahabat saya yang suka maki-maki ini.
Kebiasaan maki bukanlah
monopoli orang-orang muda. Bukan pula monopoli orang-orang dengan latar
belakang pendidikan rendah. Maki tidak mengenal strata sosial, usia, pendidikan
bahkan status sosial, juga jenis kelamin. Dikalangan anak-anak pun sering
terlontar kata-kata makian. Walaupun itu sekedar latah, namun ini adalah fakta
yang cukup memprihatinkan. Lebih celaka lagi apabila kita anggap itu sebagai
hal biasa.
Kebiasaan bicara kotor
(maki) tetap dianggap kotor dan tabu, walau sering kita dengar. Kecuali
norma-norma sosial kita yang bergeser. Atau kata makiannya yang mengalami
pergeseran arti.
Kembali ke kata lahu. Tentu kata ini masih punya arti
yang sama (jenis kelamin laki-laki). Berkonotasi negatif bila diucapkan. Norma
sosial kitapun masih sama, bicara kotor adalah hal tak terpuji dan tabu.
Tidak munafik, sayapun
kadang latah juga mengucapkan kata itu. Celakanya lagi justru kata inilah, kosa
kata lokal Sumba yang pertama kali saya tahu. Tapi tentu saya tidak mau
dianggap sebagai si mulut kotor. Lalu bagaimana caranya? Apakah seperti kelakar
sahabat saya tadi? “Kecuali kita insaf!“ Mungkin ya, mungkin juga tidak. Kita
bisa memulainya dengan mencoba untuk mengurangi “porsi makian” kita.
Kiatnya? “Sekalipun Anda
sedang bicara dengan sahabat Anda anggap Anda sedang berbicara dengan Gus Dur”
Bagaimana menurut Anda? Waingapu, 28-03-2002 CATATAN: Tulisan ini pernah dipublikasikan di : Tabloid
Wunang dengan Judul: MAKI
|