|
Kawan, Hidup ini memang sulit, apalagi di masa krisis moneter seperti sekarang ini. Anehnya kita justru tak paham betul ‘apa itu krisis moneter?’, yang kita tahu, tiba-tiba saja harga-harga kebutuhan hidup begitu melambung tinggi. Tiba-tiba banyak perusahan jatuh bangkrut, banyak buruh di PHK dan tiba-tiba pula uang 50 ribu di saku kita tak cukup sekedar untuk membeli satu stel pakaian. Krisis moneter, krismon, ditambah lagi katanya ini jaman reformasi atau apa pun namanya, yang kita rasa tiba-tiba saja kita jadi miskin, kita jadi kere.
Kawan,
Haruskah kita bersedih jika kita miskin? Tentu tidak bukan? Ingat, guru sekolah minggu kita dulu pernah bercerita, ‘Ada seorang Guru Besar yang mengatakan begini; Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga’ Kawan,
Pasti engkau masih ingat, betapa bahaguanya kita waktu itu. Walau kita Kesekolah Minggu hanya dengan sandal jepit dan sekeping uang logam 5 rupiah untuk uang kolekte, tapi ternyata kita ini pemilik Kerajaan Sorga. Wow…betapa bahagianya. Kalau Kerajaan Sorga itu bersifat fisik, tentu betapa kayanya kerajaan itu, karena ia adalah milik Allah dan sekali lagi;kita ini pewarisnya. Tapi kawan, itu hanyalah bayangan masa kecil kita dulu. Sebenarnya miskin di hadapan Allah-sungguh beda dengan-miskin secara lahiriah. Kawan,
Yang dimaksud oleh Sang Guru Besar, miskin di hadapan Allah tak lain adalah menyadari segala keterbatasan kita di hadapan Allah yang Maha Tak Terbatas. Sekarang kita sadar kawan miskin di hadapan Allah juga berarti ‘Kita harus melepaskan rasa kepemilikan kita, karena sejatinya hidup kita ini adalah milik Allah. So, karena hidup kita saja menjadi milik dari pada Allah-maka miskin dihadapan Allah bisa pula kita maknakan sebagai kiasan bahwa kita perlu berserah sepenuhnya di hadapan Allah’ Jadi bukan mentang-mentang kita miskin otomatis kita dekat dengan Tuhan, Bukan kawan!. Wah... gawat kalau itu pemahamannya bisa-bisa orang akan rame-rame ingin jadi orang miskin. Kawan, Kawan kita si Gendut yang sok lugu itu sebenarnya sudah jadi pengusaha yang lumayan. Ia tinggalkan usahanya, kemudian sekolah di seminari Alkitab, katanya ingin mendekatkan diri pada Tuhan. Sekarang Gendut benar-benar telah jadi seorang hamba Tuhan-terjun di dunia pelayanan. Punya jemaat banyak, punya gereja besar, punya rumah pribadi dan mobil pribadi. Anehnya dia masih sering berdoa sama Tuhan minta diberi mobil yang bagus dan mewah. Saya jadi ingat, Gendut dulu cita-citanya ingin jadi pembalap kan? Tapi kawan, yah …sah-sah sajakan kalau pendeta ingin mobil mewah? Eh, untungnya doa itu terkabul. Si Gendut dapat mobil gressss.. seharga ratusan juta rupiah, katanya dapat dari seorang dermawan. Kawan, Betapa bangganya si Gendut dengan mobil barunya itu, setiap hari ia cuci dan lap sendiri, pokoknya setiap kali ia mau naik, mobil baru itu dalam kondisi cring.... bersih mati punya. Suatu kali, wakil ketua sidang jemaat hendak meminjam mobil itu untuk keperluan pelayanan. Astaga apa jawab si Gendut? ’Maaf ini mobil pribadi, sebaiknya pakai saja mobil gereja?’ Padahal kawan, Gendut juga tahu bahwa mobil gereja lagi mogok. Yah...itulah si Gendut kawan kita dulu...Masih ingatkan kalau ia punya gula-gula mana pernah berbagi dengan kita?Celakanya kawan, sejak Gendut punya mobil baru ia tak pernah lagi keliling berkunjung ke rumah jemaatnya, maklum sebagian besar jemaat-nya adalah orang-orang kecil yang tinggal di gang-gang sempit dan kampung yang belum beraspal. Astaga kawan! Inikah miskin di hadapan Allah itu? Sewaktu Gendut meninggalkan dunia bisnis dulu, mungkin ia beranggap ingin menjadi miskin dan dekat dengan Allah. Namun ketika ia sudah merasa dekat dengan Allah dan berlimpah berkat Gendut kembali menjadi Gendut yang dulu, sok lugu, kikir, sombong dan kelewat egois. Padahal guru Sekolah Minggu kita juga pernah bilang; Miskin di hadapan Allah itu ialah sadar akan keterbatasan kita di hadapan Allah, tidak angkuh, tidak sombong serta sadar bahwa segala sesuatu dan hidup ini adalah milik Allah. lalu bagaimana kita bisa miskin di hadapan Allah dan mewarisi kerajaan sorga, kalau ternyata kita tak bisa merelakan sedikit dari milik kita bagi umat Allah dan bagi kemuliaan Allah? Apalagi miskin di hadapan Allah? Nah kawan, ternyata miskin di hadapan Allah itu memang tak mudah, sebelum kita benar-benar menjadi miskin mari belajar menghargai dan mengasihi fakir miskin. Ayo belajar berderma, www.waingapu.com ini termasuk masih miskin makanya SUMBANGLAH hahaha (maksudnya: miskin fitur2 dan tulisan2 lho) Attachment: Ndilu bilang: Milla nda karrai.... Wullu nda karrai... Laku patundu Miri...
|