 Cermin adalah benda yang sangat tidak asing dalam kehidupan harian kita. Cermin digunakan di kamar tidur, di toilet atau kamar mandi, di butik atau tempat -tempat yang menjual aneka fesyen, cermin juga dipakai pada kendaraan (kaca spion); di mana-mana dapat kita temukan cermin dengan mudah. Akan tetapi, pernahkah kita bercermin tentang hidup kita? Tentu tidak semata-mata dalam artian bercermin yang biasa (baca: mematut-matutkan diri di depan kaca).
 Yang dimaksud dengan bercermin tentang seluruh hidup kita di sini adalah melihat kembali pengalaman kita yang telah lewat. Bercermin di sini berarti kita sejenak berhenti untuk melihat kembali perjalanan hidup kita dan mengambil pesan untuk kehidupan kita di masa mendatang. Mereka yang biasa bicara soal kepribadian mengistilahkannya dengan refleksi. Dalam ilmu fisika, refleksi berarti pencerminan (bayangan). Memang, refleksi adalah pencerminan (dari kata kerja bahasa latin reflectare, dan dibendakan menjadi reflectio). Jika kita sering berefleksi, ibaratnya kita melihat kembali seluruh perjalanan hidup kita. Kita menghadirkan kembali bayang-bayang kejadian yang telah kita lalui. Langkah awal adalah mengingat-ingat, lalu lanjut sampai pemilahan serta pemaknaan. Sampai akhirnya kita menemukan hikmah dari setiap pengalaman yang telah kita lewati itu. Orang yang sering merefleksikan dirinya bukan berarti sekedar bernostalgia, tapi sesungguhnya yang bersangkutan ingin belajar dari pengalamannya sebelum mengambil keputusan untuk menjalankan sesuatu yang baru. Kata orang bijak, "Pengalaman adalah guru yang baik". Kalimat ini benar jika orang benar-benar belajar dari pengalamannya. Belajar dan mengambil nilai-nilai yang perlu bagi langkah selanjutnya. Pengalaman kegagalan mengajarkan orang untuk bisa memperbaiki diri dan memperhatikan segala sesuatu dengan baik sebelum bertindak. Pengalaman keberhasilan mengajarkan serta memberi semangat untuk menjadi lebih baik. Belajar dari pengalaman itu penting, untuk sampai kepadanya, perlu sejenak mengambil waktu untuk berefleksi di tengah-tengah rutinitas yang menyita banyak waktu kita. Akhirnya, Socrates sang filsuf pernah berkata, "Hidup yang tidak dilihat kembali (baca: direfleksikan) adalah hidup yang tidak layak dijalani", maka maknailah hidup kita sebab hidup kita tidak seperti air yang mengalir begitu saja. Setiap pengalaman berharga. Mungkin ada yang tidak setuju dengan pendapatnya, tapi cobalah bercermin hidup... Ciao arrivederci!
|