Melahirkan kehidupan adalah suatu keputusan untuk menyatakan akan agungnya Sang Pencipta Kehidupan. Tapi itu telah raib dan musnah hanya karena perilaku manusia yang lebih mementingkan harga diri, yang orang Sumba bilang demi kaba mata.
Adalah suatu hal yang biasa di Sumba, khususnya di Waingapu kalau melihat single parent mengasuh anaknya sendirian dari hasil mencontoh 'perilaku' Adam dan Hawa. Hal ini menjadi peristiwa yang biasa karena kesakralannya pernikahan telah diijak-injak. Tidak ada lagi rasa tanggung jawab dari si penanam benih...dan pada akhirnya yang menanggung resiko adalah wanita. Ketika mengikuti kebaktian di salah satu gereja besar di Kota Waingapu saya merenungkan kejadian tersebut, di mana seorang ibu mengaku percaya di hadapan Tuhan dan disaksikan oleh jemaat, bahwa ia telah melahirkan kehidupan tanpa tanggung jawab dari leleki yang menabur benih di taman rahimnya. Suasananya sedih memang.... Lepas dari cerita di atas, saya mau berpendapat...bahwa masa lalu budaya Sumba yang sampai sekarang masih kuat melekat kalau bersinggunangan dengan kaba mata tadi. Prosesi untuk menikahkan dua cucu adam-hawa (yang telah berani memetik buah yang dilarang itu) tidak akan terjadi jika prosesi adat menurut budaya Sumba tidak ditempuh...dan jika dua keluarga saling mempertahankan pendapat maka jalan yang paling baik untuk kedua belah pihak adalah Wanita menjadi, selalu dan tetap mejadi korban. Sungguh kejam budaya ini.... Kebodohan manusia yang terlibat di dalamnnya tidak melihat akan proses penciptaan yang dilakukan oleh Sang Pemberi Hidup. Yang ada adalah kaba mata harus ditinggikan. Dengan perilaku yang tidak sadar (merasuknya budaya Sumba) Sang Pencipta dipersalahkan, diinjak-injak kekuasaanNya, dan....peran baikNya dalam setiap segi kehidupan manusia dimatikan... Akhirnya... Wanita yang melahirkan kehidupan menanggung malu....dan...bagaimana dengan lelaki si penanam benih kehidupan? Katanya...korban budaya (dalam kesemuan...) Tapi sungguh malang wahai kau lelaki.... Kelaki-lakianmu hanya berani kau gunakan hanya dalam kamar gelap ketika kau menabur benih ditaman rahim wanitamu... Kelaki-lakianmu menjadi kisut dan ciut ketika kau dimintai tanggung jawab saat benih yang kau tebar telah menjadi seonggok manusia... Masihkah kau memiliki keadilan yang dapat kau berikan untuk wanitamu?
|