Suka/tidak suka, baik/jahat, keras/lemah, pintar/bodoh, hidup/mati, dan sederatan dualisme lainnya akan selalu menjadi wacana hidup. Mengapa tidak, karena kita berangkat dari dunia ide yang selalu atau mungkin lebih sering memberi penilaian pada sebuah peristiwa.
Adalah sebuah kemunafikan ketika saya, Anda, dia, atau mereka menganggap bahwa kematian seseorang adalah ulah dari tangan-tangan "gelap". Sadarkah bahwa tubuh kita adalah media untuk yang "terang" dan "gelap"? Lepas dari dua paragraf di atas, saya ingin menuliskan dalam benak saya bahwa, kepergian seorang pemimpin adalah:
Kepergian sebuah perlindungan bagi mereka yang berlindung dari kejahatan yang mereka buat,Kepergian sebuah masa depan bagi mereka yang menggantungkan masa depannya, Kepergian seorang lawan yang menganggapnya sebagai lawan, Kepergian sang kedamaian bagi mereka yang sudah hidup damai, Kepergian seorang sosok adalah keuntungan bagi mereka yang mencari uang dari kematian, Kepergian sebuah.... silahkan tambahkan sendiri.... Ketika kita menyadari bahwa hidup adalah sama seperti lilin, yang mana terangnya, walaupun tidak seberapa, cahaya lilin tersebut telah cukup menerangi yang gelap. Kemudian, walaupun pada akhirnya mati karena habis terbakar, setidaknya lilin tersebut telah mengorbankan dirinya demi memberi terang. Tinggalah kita yang masih hidup..... Harus berjuang membela diri dari keserakahan yang kita buat Harus berjuang karena tidak ada lagi yang memberi pertimbangan-pertimbangan positif Harus berjuang untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari penjualan, misalnya... krans bunga, hinggi atau lau... .......sekali lagi, tambahkan sendiri...... Akhirnya, siapkan diri kita, jalan sudah semakin dekat dengan Rumah Bapa. Tengoklah ke belakang...sudah berapa banyak kebaikkan yang kita buat... Selamat jalan Bpk. Umbu Mehang Kunda, kebaikanmu akan menjadi abadi disetiap hati rakyat Sumba Timur.
|