Tadi pagi saya sempat menonton siaran berita di televisi Indosiar tentang KM Kelud tidak mau berangkat selama 12 jam gara-gara penumpang yang membludak di Riau. Saya jadi teringat juga ketika hal yang sama terjadi dengan KM Awu yang menurunkan penumpang di Makasar sebanyak 4000 penumpang karena kapasitasnya hanya 2000 penumpang.
Masih teringat juga cerita dari orang tua saya tentang kebakaran kapal penumpang Tampomas beberapa tahun yang silam, dan karena begitu terkesan dengan kejadian itu Iwan Fals menciptakan lagu tentang kebakaran kapal tersebut. Nah, saya hanya mau bilang, bahwa keadaan ini telah menjadi pemandangan kita yang berada di Kota Waingapu. Setiap kali KM Awu bersandar di dermaga, banyak orang yang ke dermaga. Satu orang yang mau berangkat yang ngatar bisa satu kampung. Minggu sore, tanggal 6 Juli 2008 kemarin saya sempat mengambil gambarnya dari dermaga lama, gambarnya sih gak jelas2 amat cuman aku mo bilang bahwa biasanya KM Awu masuk hari Sabtu malam dari arah timur, tapi kemarin masuk terlambat dan hari Minggu jam 4 sore masih nangkring di pelabuhan...apa karena terlambat dr Makasar ya...(sempat diberitakan di TV) Ya, kita sebagai masyarakat yang membutuhkan pelayanan yang baik kadang harus protes karena sistem manajemen PELNI yang tidak tegas, sebab masih saja menerima pembelian tiket padahal kapasitas kapal sudah melebihi kuota yang ditentukan. Jadi jangan kaget kalau Anda pernah mendengar dan ini sudah menjadi rahasia umum bahwa ada calon penumpang yang membeli tiket di atas kapal....nah loe.... Apa gunanya ada loket penjualan tiket, atau mungkin masyarakat kita yang belum sadar tentang keselamatan, atau mungkin juga para oknum PELNI yang memberi peluang ke calon penumpang bahwa "tiket lebih murah kalo beli di atas kapal" Hah... ada apa dengan PELNI?!
|