Tampilan terbaik, gunakan pixel 1024 x 768 dan Firefox

           | 
Beberapa artikel di situs ini dilindungi. Untuk membaca lanjutannya, silahkan Login dulu

Dewie


Cinta


Yuni Rambu


lamongan

Apa Beda Orang Jawa dan Orang NTT?
Ditulis Oleh Oemboe Alombawa   
Selasa, 15 Januari 2008
Del.icio.us!

Google!
L
ima orang Jawa datang ke NTT
(Kupang), menumpang kapal laut dengan harga tiket yang murah. Setelah setahun, mereka kembali berlibur ke Jawa dengan menumpang pesawat, membawa sejumlah uang yang seharus berputar di NTT. Mereka datang dengan membawa sedikit modal, tapi banyak pengetahuan dan ketrampilan mengolah makanan. Contohnya bakso atau lebih sederhana jual gorengan, seperti di halte depan Bank Mandiri dan Telkom. Dalam semalam, mereka meraup keuntungan sampai ratusan ribu. Padahal hanya mengubah ubikayu dari Oesao, pisang dari Amarasi yang dibeli dengan harga murah, menjadi gorengan yang dilahap oleh orang Kupang yang kelihatan  konsumtif berat akan barang-barang seperti itu. Dalam setahun, terkumpul uang banyak, hidup mereka pun berubah. Datang dengan kemiskinan, pulang dengan kekayaan.

Sebaliknya orang NTT beda. Ini ada dua cerita dari tempat berbeda tapi sedikit menggambarkan mentalitas yang ada pada kita. Cerita pertama datang dari Maumere. Konon, ada seorang penjual moke alias arak Maumere yang terkenal itu, yang istilahnya bakar manyala. Dia datang ke pasar, menjual mokenya satu jergen seharga Rp.25.000, di sebuah rumah makan yang memang menjual juga moke sebagai minuman. Setelah menerima uang, pemilik rumah makan menawarkannya untuk makan di situ. Menunya khas kesukaan orang itu. Tergiur oleh menu itu, apalagi pemilik rumah makan bilang akan ada korting buat dia. Maka makanlah orang itu. Tentu saja dihidangkan juga arak yang baru dijualnya sebagai teman makan daging khas kesukaannya. Apa jadinya? Karena keasyikan makan, dan minum, dan mulai mabuk, dia minta tambah terus daging dan arak. Habislah uang hasil penjualan arak. Dia pulang dalam keadaan mabuk gara-gara arak yang tadi dijualnya. Tanpa uang sepeserpun. Datang dengan kemiskinan, pulang juga dengan kemiskinan.

Cerita kedua datang dari Kapan. Juga terjadi di pasar. Hari Kamis, pasar Kapan. Seorang dari Fatutasu datang membawa setandan pisang masak untuk dijual di pasar. Dijualnya ke penjual kue pisang molen dengan harga murah, karena banyak sekali yang jual pisang hari itu sehingga harga jatuh. Dia lalu berkeliling di pasar, melihat-lihat barang-barang. Tapi tidak dibelinya satu pun. Siang hari, dia mulai rasa lapar. Dia ke penjual kue tadi, dan membeli pisang molen untuk makan. Persis waktu itu penjual kue sedang menggoreng dari pisang yang dijual orang ini. Uangnya berkurang dan tidak cukup untuk beli beras. Datang dengan kemiskinan, pulang juga dengan kemiskinan.

Kita memang masih terbekap dalam mentalitas konsumtif, dan bukan spiritualitas produktif. Kapan berubah? Tanya pada rumput yang bergoyang? Barangkali angkatan ini yang telah mulai dengan sebuah Forum Academia akan berbuat sesuatu untuk perubahan di masa depan? Mengubah mimpi jadi kenyataan?

Rm. Sipri Senda

Komentar
Tulis Komentar RSS
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
Silahkan masukan kode anti-spam yang Anda lihat di dalam gambar.

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Gallery Member

[43]

43

[]


 

Total Member

260 Terdaftar
0 hari ini
0 minggu ini
13 bulan ini
Terakhir: Njara Miting

Ultah Member

5hari lagi - victor (18tahun)
6hari lagi - Marlo (34tahun)
7hari lagi - sepry (18tahun)
8hari lagi - riana (28tahun)
9hari lagi - persia (19tahun)

Polling

Mengambil Polling...
Mengambil Polling...

Yang Sedang Online

Saat ini ada 3 tamu dan 1 anggota online
 
 
 
Untuk mendapatkan tampilan terbaik, gunakan resolusi monitor 1024 x 768 pixel dan browser Firefox