|
Bentuk reaksi reflek seseorang atas stimulan yang ditangkap oleh fisik,
pikiran dan nalar tercermin dalam berbagai sikap dan tindakan. Ketika seekor
anjing menggonggong di dekat kita, mungkin saja secara reflek kita akan lari
tunggang langgang sambil mengumpat. Bisa juga kita spontan mengambil batu.
Kalau anjing itu tiba-tiba menggigit, walau ia milik kita sendiri, tak urung
kita akan bereaksi secara reflek karena kaget.
Kenapa kita kaget? Karena kita takut anjing! Kenapa kaget digigit anjing? Karena tak biasanya anjing kita
berlaku seperti itu! Kenapa kita kaget si anjing yang biasa kita ajak bermain
itu tiba-tiba menjadi ganas?
Karena kita berharap bisa bermain-main dengannya, tapi, lho kok tiba-tiba
ganas?
Kaget dan kaget, inilah gejala setiap hari yang sering kita rasakan sebagai
manusia. Secara psikologis, kaget termasuk pada gejala inderawi yang normal.
Artinya kita masih sebagai manusia normal bila masih memiliki rasa kaget.
Justru perlu kita pertanyakan apabila kita sudah kehilangan rasa kaget. Itu
sudah abnormal.
Seorang anggota DPR di jaman Orde Baru sempat membuat kaget rakyat
Indonesia ketika dalam sebuah sidang DPR/MPR ia mengangkat tangan mengajukan
interupsi. Anda tentu masih ingat peristiwa itu tatkala keesokan harinya
koran-koran memuat Sabam Sirait sebagai Mr Interupsi. Ia membuat kita kaget, ia
menjadi terkenal, bahkan pengamat-pengamat luar negeri yang sudah bisa
memprediksikan bahwa hal itu lambat/cepat pasti akan muncul di ruang sidang
yang biasa dipenuhi oleh lagu mars Setuju itu, ternyata kaget juga. Maklum kala
itu interupsi menjadi sesuatu yang langka di negeri kita yang justru menganggap
diri negara demokrasi, apapun namanya. Berita tentang peserta sidang yang
ternyata dipenuhi oleh kaum kerabat, dipenuhi orang-orang suka tidur saat
bicara nasib rakyat dan sebagainya, dan sebagainya malah tidak membuat kita
kaget.
Sekarang di masa reformasi ini mungkin justru kita memiliki kadar kekagetan
yang kian menipis. Kita tidak kaget lagi mendengar dan menyaksikan berita oknum
ini terlibat skandal ini, oknum itu terlibat sekandal itu, maklum setiap hari
televisi menyajikan berbagai skandal dengan berbagai aktor yang kian akrab bagi
kita. Apalagi kalau hanya sekedar anggota DPR/MPR yang interupsi, kita justru
sudah akrab dengan situasi itu. Yah, interupsi yang diperagakan kini mirip
kegaduhan anak sekolah yang belum tahu ABC. Bukan sesuatu yang mengagetkan
lagi.
Rekan-rekan wartawan kita di era kebebasan pers itu malah mengalami
kesulitan untuk bisa memuat berita yang surprice/mengagetkan. Maklum tak ada
lagi peristiwa sosial-poitik yang bisa membuat kita kaget. Tema-tema seperti; dalang/aktor
dibalik peristiwa…. adalah…., dana proyek…. di-markup hingga…, pelaku peledakan
di….. masih dalam pengejaran, terdakwa kasus korupsi…. hanya dijatuhi
hukuman….., belum tuntas peyelidikan keterlibatan oknum..... dalam kasus..... si
oknum sudah dimutasikan ke..... dan seterusnya….
Setiap ada berita-berita aktual, dalam benak kita sudah tergambar rekaan
skenario yang kita ciptakan. Kita jadi begitu canggih untuk bisa menyusun
skenario semu itu karena memang terlatih. Inilah yang memprihatinkan, kita jadi
kehilangan/jadi tidak peka terhadap rasa kaget. Kejadian-kejadian spetakuler
jadi hambar bagi kita. Kasarnya, ini semakin menuju pada gejala abnormal.
Digigit anjing tak kaget, digonggong anjing malah bengong, dibilang anjing pun
tak ambil pusing.
Wah celaka…. tanpa rasa kaget akhirnya kita menjadi manusia tanpa greget. Kita menjadi manusia super yang
kebal terhadap gejala-gejala sosial, tapi untunglah kita masih tidak kebal
terhadap rasa lapar. Tapi repot juga bila hanya itu yang tersisa. Tak ubahnya
kita menjadi manusia idiot dengan mulut menganga. Barangkali memang demikianlah
kita sekarang ini (kita disini bisa jadi saya, mereka dan atau anda yang rela
membaca tulisan ini). “Kaget? Anda tidak kaget?”
“Aduh. Mungkin lebih baik kita singkirkan dulu anjing-anjing yang ada
disekitar kita, agar rasa kaget kita pulih kembali bila kelak kita
dikencingi-digigit-digonggong-dijilat anjing” Waingapu, 13 September 2003. CATATAN: Tulisan ini
pernah dipublikasikan di : Tabloid Wunang.
|