|
Judul di atas merupakan kata yang lazim disebut oleh seorang tukang bangunan yang tentunya ini berhubungan dengan bangunan rumah, hiasan, alat-alat rumah tangga dan sebagainya. Rumah yang dihiasi keramik dari berbagai warna akan menambah nilai kemegahannya dibandingkan dari rumah yang tidak berkeramik.
Keramik diproduksi oleh para seniman atau pabrik dan tanah liat atau kaolin menjadi bahan bakunya. Pada dasarnya tanah liat atau pun kaolin bukanlah benda yang berharga, benda tersebut hanyalah tanah. Akan tetapi ketika benda tersebut dibentuk oleh seorang seniman yang ahli, maka tanah itu berubah menjadi sebuah benda yang memiliki nilai. Tanah itu berubah menjadi sebuah benda yang berguna untuk alat-alat rumah tangga maupun hiasan-hiasan di rumah kita. Di Tiongkok ada sebuah kota yang bernama Jing Dezhen, sejak 2000 tahun yang lalu kota ini dikenal sebagai kota keramik yang menghasilkan karya-karya yang bermutu tinggi. Bahkan dari 20 seniman keramik terbaik di dunia, beberapa justru berasal dari kota ini. Percaya atau tidak Fung Sang So seorang seniman keramik yang berasal dari Jing Dezhen ini menciptakan sebuah karya yang bernama Bola Dunia dan karyanya dihargai sebesar Rp. 2 milyar dalam sebuah pameran keramik Cina di Surabaya. Coba Kita bayangkan, sebagai karya yang menggunakan tanah sebagai bahan bakunya dapat menghasilkan nilai yang begitu luar biasa, karena tanah itu berada di tangan seseorang yang sangat ahli. Tapi pernahkan kita mendengar seorang penjunan yang maha Ahli? Ia telah menciptakan manusia dari tanah liat, kemudia dihembusi dengan nafas-Nya sehingga menjadi makhluk hidup. Itu kita, Anda dan saya. Sang maha seniman itu telah menciptakan sebuah karya yang sangat indah yaitu manusia. Sebuah karya yang tidak ternilai harganya, bukan? Akan tetapi sangat disayangkan, manusia yang sangat unit itu kurang bisa saling menghargai seorang dengan yang lain. Tindakan pelecehan dan saling menindas sering terjadi. Tindakan penguguran kandungan atau aborsi dan tindakan pembunuhan pun sering diberitakan dalam surat-surat kabar. Bahkan banyak tidak menghargai hidupnya sendiri yang diberikan Tuhan, akibatnya banyak orang yang nekat mengakhiri hidupnya dengan cara nekat alias bunuh diri (kasus SMK Negeri 1 Waingapu seperti yang ditulis oleh saudara saya nelang). Pada hal Sang Pencipta itu sendiri begitu menghargai manusia termasuk Anda san saya, sebagai sebuah ciptaan-Nya yang tertinggi, namun kita sendiri justru yang merusaknya. Bukankah kita jau lebih berharga dari keramik-keramik pajangan yang mati dan kaku itu? Jika Sang Pencipta begitu menghargai kita, marilah kita pun saling menghargai seorang dengan yang lain. Jagalah dan peliharalah hidup ini sebagai sebuah kekayaan yang sangat bernilai tinggi.
|