|
Mirror dari tulisan saya di sini . Saya harus bersyukur karena mengenal orang tua yang hebat ini. yang tadi pagi wafat, tanpa keterangan jelas apa yang menyebabkannya. helen dan heribertus mengirim sms, juga kemudian umbu manna mengabarkannya. setahun lalu, beliau menerima kami di karuni, laura, tempatnya wafat sekarang ini. agaknya, itu adalah tanah tumpah darahnya.
Ya setahun lalu, di bulan yang sama seperti kini, februari. di situ pula kami dulu menunggui ibu pak pieter yang juga tengah ‘menunggu waktu’ [begitu istilah rudi dulu untuk menyatakan bahwa waktunya sudah dekat dengan ajal]. jadi, rupanya sang anak menyusul sang ibu setahun kemudian. Mereka sekeluarga membangun sebuah bale, sebuah rumah dengan atap ilalang, berdinding gedheg dan berstruktur kayu+bambu sekujurnya. di situ mereka menyemayamkan ibu dari pak pieter. di situ pula saya tidur nyaman semalaman setelah dijamu oleh pak pieter masakan daging babi yang dibeli sorenya. [beliau membolehkan saya menyembelih babi itu setelah mengajari sebentar caranya]. Malam itu, pak pieter mengenakan kain sumba barat yang berwarna putih dengan garis-garis berwarna-warni di pinggirnya. kepada saya, diberikanlah kain yang sekarang saya kenakan untuk mengenang kebaikannya. malam itu beliau bercerita banyak mengenai usahanya menghijaukan tanah tandus di karuni, juga usahanya dalam mengubah mentalitas orang sumba di sekitarnya agar berpikir maju, dengan menanam tanaman yang lebih bernilai ekonomis. tidak sekadar menanam untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari belaka. Beliau sudah belajar banyak dari berbagai tempat. belajar dari keadaan gunungkidul, yogya, yang keadaan geografisnya mirip dengan sumba. sudah belajar juga hingga ke jepang tempatnya ia menemukan partner untuk mengembangkan program tahunan untuk penghijauan di sumba. dengan wafatnya, pasti banyak orang yang merasa kehilangannya. selamat jalan pak pieter, semoga rudi, jeanne, reni beserta ibu piet dikuatkan untuk melanjutkan cita-cita pak Piet!
|