Kebanggaan Tersendiri |
|
|
|
| Ditulis oleh Intiyasasi |
| Rabu, 27 April 2011 10:47 |
|
Akhir tahun 1997 merupakan tahun yang amat istimewa dalam hidupku. Saat dimana aku diwisuda. Di antara para wisudan/wisudawati, aku duduk merenung. Seraya mengucapkan kata syukur, “Alhamdulillah”. Disaat itu pula akupun menyadari, ternyata hanya aku anak petani miskin. Ada kebahagian tersendiri buatku. Toh walaupun demikian keadaanku, aku bisa duduk sejajar dengan anak pegawai, anak bupati, bahkan anak dari konglemerat. Saat itu perasaanku campur baur, bangga dan terharu. Inilah buah jerih payah oramg tuaku. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Setelah wisuda, aku harus menghadapi kehidupan nyata. “Aku harus berjuang menghidupi diri sendiri dan orang-orang yang kucintai”, bisikku dalam hati. Setibaku di tempat kos, teman sekos-an menyiapkan syukuran kecil-kecilan “Syukuran ala kaum miskin”, begitu kataku. Serentak semua tertawa. “Betul,” kata salah seorang teman sambil bercanda gurau bersama, dalam hati aku bertanya, esok aku ke mana? Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan, waktu berlalu begitu cepat. Tak kusadari sudah dua bulan aku jadi penganggur. Kulewati hari-hariku sambil membaca iklan di koran yang kubeli di loakan. Namun tiada satupun iklan yang mau menerima tenaga pemula. Semua selalu mencari tenaga berpengalaman. “Nah kalau begini, terus siapa yang mempekerjakan serjana yang baru lulus?”Aku mendesah. Setelah masuk bulan ketiga, rasa-rasanya jenuh juga terus-terusan tinggal di rumah Budeku. Sebenarnya, aku ingin pulang ke rumah orang tuaku, tapi itu tak mungkin, karena aku tak punya banyak uang untuk membeli tiket. Walaupun aku dari suku Jawa, aku dilahirkan dan dibesarkan di salah satu pulau di NTT sedangkan aku kuliah di Jawa. Orang tuaku sudah puluhan tahun tinggal di sana. Jadi semasa kuliah, kalau libur aku hanya tinggal di rumah Budeku. Kabar tentang wisudaku pun hanya aku kirim lewat surat. Kejenuhan itu membuatku teringat pada kakakku di Pandaan. Akhirnya aku putuskan untuk ke sana. Aku tahu, kota itu adalah kawasan pabrik. “Sambil menyelam minum air” maksudku di samping silaturahmi, sambil melepas kejenuhan siapa tahu dapat pekerjaan. Akhirnya, pucuk dicinta ulam tiba. Setelah bercerita pajang lebar tentang pekerjaan, akhirnya kami pulang. Aku berpikir baik buruknya kerja di pabrik tersebut, yang pada akhirnya aku menulis lamaran. Waktu itu, hari Sabtu aku membuat lamaran itu. Dengan bantuan seorang satpam aku dipertemukan dengan kepala personalia. Ternyata aku langsung diwawancarai. Pada saat itu juga, aku langsung diterima sebagai karyawan diperusahaan itu. Dan hari Seninnya aku diminta untuk mulai bekerja. Pabrik tersebut memberikan seragam untuk dipakai pada hari Senin. Setelah menerima seragam itu aku pamit pulang. Tibalah hari yang menebarkan itu, aku naik angkot dan turun di Halte dekat pabrik. Halte itu berjarak kurang lebih 20 meter. Dengan langkah ragu-ragu aku menuju gerbang pabrik. Dengan langkah semangat aku masuk melewati lobi depan. Aku terhenyak ketika aku membaca sebuah tulisan di atas gambar panah itu. Sebuah tulisan yang mengharapkan agar para karyawan baru untuk berkumpul. Karena merasa sebagai karyawan baru aku berjalan sesuai tuntunan anak panah tadi. Di ruangan sudah ada dua karyawan. Ternyata karyawan baru ada lima orang termasuk aku. Jam 07.30 masuklah seseorang laki-laki berdasi. Aku tidak tahu siapa dia? Yang jelas dia menjelaskan tentang pekerjaan kami. Ia menjelaskan tugas utama kami seperti mencuci, mengeringkan dan menata botol. Setelah penjelasan itu, kami langsung bubar dan menuju ke tempat kerja masing-masing. Akupun menikmati pekerjaan itu. Suasana menjadi akrab setelah kami berkenalan satu sama lain. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Dua minggu bekerja tibalah giliran kelompok kami untuk bekerja pada ship malam, yaitu jam 00.00-07.00 pada saat itulah aku betul-betul merasakan betapa susahnya mengumpulkan rupiah. “Sudah tengah malam, ditambah udara dingin, aku harus berhadapan dengan air”, gerutuku dalam hati. Belum lagi perasaan yang harus was-was di jalan saat berangkat ke tempat kerja. Seminggu sudah bekerja untuk ship malam. Seperti biasa setiap akhir pekan, kami secara rutin menerima upah. Di perusahaan itu untuk karyawan baru gaji diterima perminggu. Minggu ke empat ini aku sudah menerima gaji yang keempat juga. Berarti sudah sebulan aku bekerja di perusahaan itu. Tibat-tiba aku teringat akan jerih payah orang tuaku. Seperti inikah cara orang tuaku mencari uang?, tanyaku dalam hati. Barangkali apa yang kualami ini seperti yang sering dialami kedua orangtuaku di kampung. Oh Tuhan lindungilah kedua orang tuaku di sana. Rasanya aku ingin sekali mengirim sedikit jerih payahku untuk mereka. Akhirnya kusisihkan sebagian penghasilanku yang tak seberapa, kemudian, pada waktu yang tepat uang tersebut kukirim ke kedua orangtuaku di sana. Setelah aku kirimkan uang itu, aku merasa bahagia karena walaupun tak seberapa aku telah membahagiakan kedua orang tuaku di kampung. Sesungguhnya karena perjuangan merekalah aku bisa seperti ini. Terima kasih Tuhan. {flike}{fcomment} |
Berita Terkini
18 May 2012
- 17 May 2012 Jembatan Darurat Payeti: Telah Dibangun dengan Model yang Lebih 'Akrab' dengan Kaum Perempuan
- 16 May 2012 Hujan Berkepanjangan: Cemaskan Warga Pengguna Jembatan Darurat Payeti
- 10 May 2012 MTQ NTT akan Diinkulturasi: Bentuk Dukungan, Usulan Tenun Sumba Jadi Warisan Dunia
- 09 May 2012 Sebrangi Sungai & Bukit Terjal: Siswa SD Bidipraing Akhirnya di Asramakan Selama Pelaksanaan UN
- 08 May 2012 Listrik Proyek PNPM hanya Pajangan: Anak Lai Hiding Belajar Pakai Pelita untuk Hadapi UN
- 03 May 2012 PLN Janji Bina & Tindak Pencatat Meter Nakal
- 27 April 2012 Tikus ‘Invasi’ Lahan Pertanian : Warga Kombapari Terancam Gagal Panen
- 26 April 2012 Warga Mengadu ke DPRD: Diduga Petugas Pencatat Meter PLN Kerja ‘Curi Tulang’
- 24 April 2012 Cara Siswa/i SMPN Nggoa Hadapi UN: Gunakan Lampu Pelita Saat Belajar, Jalan Kaki 7 KM ke Sekolah
- 16 April 2012 Diduga Karena Belum Terima Gaji, Staf Dispenduk Sumba Timur Mogok Berkantor
- 13 April 2012 Naskah Ujian Nasional di Sumba Timur Kurang
- 08 April 2012 18 Tahun Didera Hydrochepalus & Lumpuh: Walau Lirih, Zakarias Tetap Bersenandung
- 06 April 2012 Jemaat GKS Kambaniru Gelar Prosesi Jalan Salib
- 05 April 2012 Sekolah di Sumba Timur, 75% Dibawah Standart Mutu Nasional
- 04 April 2012 Apresiasi Perjuangan Anak Lai Hiding: Dinas PPO Sumba Timur Rencanakan Bangun Sekolah Paralel
- 03 April 2012 Belajar dari Agustinus: Sosok Sederhana di Balik Perjuangan Anak-Anak Lai Hiding
- 31 March 2012 ‘Uji Nyali’ Anak Dusun Lai Hiding: Ke Sekolah Bagaikan Terjun ke Arena Sabung Nyawa
- 29 March 2012 Bangunan Pasar Papuu dan Kiritana Mubazir: TPI & Pabrik Es Waingapu Bernasib Serupa
- 28 March 2012 Harga BBM Belum Resmi Naik: Harga Sejumlah Sembako Menang Satu Langkah!




