Lupa Password? Lupa Username? Buat akun
Anda berada di >
Sab 19 May 2012
Banner

Kehidupan Malam Kota Waingapu (Bagian I)

PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Dionisius Umbu Ana Lodu   
Minggu, 17 Agustus 2008 04:21

Waingapu terus menata diri sebagai gerbang Pulau Sumba, berbagai terobosan dan langkah inovatif terus dilakukan oleh Pemerintah kabupaten Sumba Timur (Sumtim). Berbagai hal positif terus dirasakan warga. Namun ibarat satelit yang terus menguntit, sisi negatif geliat kota Waingapu terus membayangi. Seiring dengan tumbuh kembangnya aktifitas ekonomi masyarakat kota, dunia malam kota Waingapu pun mulai bergelora, ada sesuatu yang perlu untuk disibak dan sesegera mungkin disikapi guna dibenahi. Beberapa tempat yang dulunya dilirik sebelah mata, ternyata kini  menyimpan sisi yang cukup kelam. Beberapa sudut Sabana Sumtim yang masih dalam wilayah kota Waingapu, bisa disulap oleh segelintir orang menjadi ‘Taman Eden’ tatkala aksi berbugil ria alias ‘ukur badan’ dipraktekan.

Mungkin menjadi rahasia umum para penikmat dan para petualang cinta dan asmara sesaat, beberapa tempat yang jika disiang hari nampak mempesona dan menjanjikan keindahan, malamnya ternyata penuh lenguhan dan desahan birahi dari oknum-oknum mengumbar hasrat birahi yang boleh jadi hanya sekelumit yang berlandaskan cinta sejati.

Beberapa tempat seperti sekitar patung Kuda  (Km.9 arah barat Kota Waingapu) yang sejatinya meruapakn pintu gerbang kota Waingapu dari arah barat, dibalik pesonanya juga menyimpan cukup banyak kisah. Dari kisah penemuan mayat yang hingga kini masih misteri sampai kisah berlariannya dua sejoli tanpa busana yang lagi menuntaskan libidonya tatkala terkena sorot lampu sepeda motor  Buser yang dalam suatu waktu tanpa sengaja melewati areal patung kuda tepatnya dijalan lama.

Penasaran dengan kenyataan ini, beberapa pekan kemudian Buser pun mulai menelusuri praktek liar para penikmat dan petualang  beberpa pekan lalu kembali menemukan hal yang sama juga pengakuan dari sejumlah pihak bahwa tempat tersebut meruapakn tempat yang memang menjadi langganan untuk menumpahkan hasrat, bercumbu, menghangatkan cinta, berpacaran hingga melakukan hal yang menyimpang. “Di patung kuda memang karena terang hanya ada beberapa pasangan saja dengan motor dan mobil kongkow-kongkow dan menghabiskan malam. Hal yang dilakukan juga masih tergolong wajar, yakni sebatas ciuman dan pelukan hangat. Namun disekitar tempat yang mulai remang dan tidak terjangkau cahaya lampu, kalau saja tiba-tiba disorot dengan lampu, bisa dengan mudah ditemui pasangan-pasangan yang lagi asyik batunggang dan berbuat mesum,” tandas seorang yang enggan identitasnya diekpos mewakili sejumlah komentar senada warga lainnya.

Tidak hanya di sekitar patung kuda, di sekitar sarana peribadatan umat Hindu tidak jauh dari tempat itu juga sering menjadi tempat berpacaran dan tempat mengumbar birahi pasangan-pasangan yang sebenarnya masih tergolong muda bahkan para remaja. “Di sekitar tempat sembayang umat hindu juga sering dipakai tempat gituan. Apalagi, tempat itu hanya dipakai pada saat ada upacara-upacara keagamaan umat Hindu saja, kalau tidak ada katifitas keagamaan maka tempat itu sepi dan yang meramaikan justru pasangan-pasangan muda dan pasangan remaja. Ada baiknya, jika Pol PP Sumtim merazia tempat-tempat itu, karena sangat meresahkan,” tandas sejumlah warga senada.

Malam di kota Waingapu, di padang sabana sekitar patung kuda mulai berlendir dan diramaikan dengan desahan dan lenguhan birahi, menemani sang jangkrik dan binatang lam lainnya.

Ternyata, bukan hanya patung kuda saja yang menjadi tempat favorit para petualang asmara yang diyakini sebagian besarnya terlarang itu. Wilayah pantai Kuta  Londa Lima dan Londa Empat, yang siang harinya cukup ramai dengan para pengunjung dan penikmat pasir putih, gelombang serta hawa laut, pada malam harinyapun mendapat teman yang mengiringi gelora ombaknya. Pasangan-pasangan yang dimabuk ‘dewa amor’, juga menuntaskan hasrat, mengiringi deburan omabk dengan desahan dan rintihan hangat dan mesra penuh arti. “Kalau bisa di pantai kuta Londa lima dan Londa empat juga di razia agar tidak menjadi tempat mesum,” tegas sejumlah warga yang ditemui dan menghubungi Buser beberapa waktu lalu menunjukan kepedulian dan keprihatinannya meski kembali lagi enggan identitasnya di expose.

Ini mungkin sekelumit sisi lain dari geliatnya kota Waingapu, kehidupan malamnyapun mulai bergelora. Masih ada yang mungkin belum terbaca dan masih menjadi rahasia yang hanya menunggu waktu untuk disibak dan terungkap. Tidak terkecuali, ‘Fenomena Dunia Gemerlap’ (Dugem) yang kini mulai menjamah kota Waingapu. Fenomena yang masih belum bisa diterima semua pihak, fenomena yang hingga kini masih terus bergelut dengan kontroversi. (bersambung)

Sumber: Mingguan Buser Timur-NTT

 

Komentar  

 
0 #13 Guest 2009-01-14 08:03
Artikel diatas ada bagusnya juga,menginform asihkan obyek-obyek wisata yang baru di sumba timur,karena obyek wisata yang lama didalam kota waingapu sudah jadi barang antik.masah ada lendir segalah ah...ingus kali ya...yang benar aja tuh...kalau liburan nanti mau ah...lihat-lihat yang namanya....tak perlu ditanggapi serius.Yang paling penting tangkap orang-orang yang suka makan beras RASKIN,atau yang tidak merata bagi SEMBAKO.Kasihan Masyarakat semakin lapar.
 
 
0 #12 Guest 2008-09-04 19:50
Yang aneh itu yang nulis artikelnya. Kl aku bilang \"bleguk\", tujuannya apa coba bikin tulisan kayak begitu. Kl menurut saya tulisan kayak gt justru ajakan utk berbuat mesum. Sediiihhhh
 
 
+1 #11 Guest 2008-09-04 18:44
Yang aneh itu yang nulis artikelnya. Kl aku bilang \"bleguk\", tujuannya apa coba bikin tulisan kayak begitu. Kl menurut saya tulisan kayak gt justru ajakan utk berbuat mesum. Sediiihhhh
 
 
0 #10 Guest 2008-09-03 16:45
memang g ada kata2 yg lbh baik utk menginfokan hal2 ky gini....
pilih kata2 yang berkualitas dong soalnya ini dibaca banyak org...
bisa malu sendirikan org sumbanya...
 
 
0 #9 Guest 2008-09-02 18:12
Soal Pacaran Sampe Lupa segala - galanya ya biasalah ( ng Perlu munafik dari anak SMP sampe yang tua Juga sama Walau tempatnya Yang Paling Aman sekalipun ) Cuman Yang paling penting Giman Bahasanya Enak Di baca Nga Malah Mengajak Kita BErpikiran Porno, waktu Baca Gua Malah Banyangkan Gimana Tu lendirnya.
 
 
+1 #8 Cinta De Angel 2008-08-27 12:17
Nyari sensasi maybe.
Bu\'ang syah,Bu\'ang ikaw who wrote this artikel,pangit.
 
 
0 #7 Cinta De Angel 2008-08-27 12:13
Saya ga setuju banget dengan kata2 artikel diatas yang bilang BERLENDIR,LENGU HAN dan segala macam bahasa yang norak.Yang anda maksud kan lendir apa?emang anda pernah menemukan lendir2 seperti itu? Kata2nya ga sopan sama sekali. Sekarang dari kesadaran pribadi masing2.waktu gue di sumba,malam2 sepi banget kok.ga usah terlalu munafik deh.
Dunia sekarang dah modern,
 
 
0 #6 Guest 2008-08-27 03:12
wah wap gw setju bgt sm UT
masa di artikel pake kata-kata gt
yg lht kn bkn org smba doank
kn malu..
 
 
0 #5 Guest 2008-08-27 02:42
Bagi aparat yang berwajib kLo ngeliat paSangan yG kayak gt,tangkep aje.g usah sungkan2.
Dari paDa dipelihara, merusak citRa kab.SumTim ja!!!
 
 
0 #4 Guest 2008-08-25 02:39
wah wgp dah mau jd kota metropolis ni
y wlpn pak polpp nya razia tiap hr jg kalo emg dr pelaku ada niat y bs penuh pnjr dr org mesum
mendingan para ortu yg diingtkan ank cwe y mbok diprhtkn prg sm sp
plg jgn mlm-mlm
ntar ada apa-apa kn klg jg yg malu
prbtn maksiat mah di semua blhn dunia pst ada
 

Untuk mengirim komentar di situs ini, silahkan login dulu, atau gunakan layanan komentar dari facebook di atas :)

Berita Terkini

Drainase Wangga & Kambaniru: Telan Anggaran Lebih dari Rp. 3 Milyar
18 May 2012
article thumbnailWaingapu.com - Banjir yang sering melanda sejumlah wilayah di Kelurahan Wangga dan Kelurahan Kambaniru, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur ( Sumtim), NTT, setiap tahun, pada saat musim...
Banner