Lupa Password? Lupa Username? Buat akun
Anda berada di >
Jum 10 Februari 2012

Kehidupan Sumba dari Dua Sudut Berbeda

PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Admin   
Jumat, 18 Juni 2010 11:34

Teks Siaran Pers, Foto Ari Antoni

Dua fotografer, satu dari Perancis dan satu dari Bali, memamerkan karya-karya foto mereka tentang Sumba di galeri Alliance Francaise Denpasar. Pameran berjudul Mort A Sumba, Images de Vie atau Kematian di Sumba: Potret Kehidupan itu memperlihatkan foto-foto tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Sumba.

Menggunakan dua sudut pandang berbeda, Andre Graff dari Perancis dan Ari Antoni dari Bali merekam keseharian warga pulau di bagian timur Indonesia tersebut. Andre, warga negara Perancis, telah menempuh berpuluh ribu jalan di seluruh dunia. Dia meninggalkan kehidupan yang mewah di Perancis lalu pindah ke Timur.

Setelah bepergian pertama di tahun 2004, dia kembali lagi di tahun 2005 untuk menyerahkan lebih dari 3500 foto kepada orang-orang yang telah dipotret. Dia menetap di Nusa Tenggara Timur untuk melimpahkan air bersih di Sumba dan Savu, selama tiga tahun dia telah membuat 12 sumur. Sumur ketigabelas baru saja selesai tanggal 8 Juni yang lalu.

Foto-foto yang dia pamerkan merupakan ringkasan dari kumpulan fotonya yang berjumlah sekitar 25.000 foto! Dia berusaha menyenangkan tiap orang-orang yang difotonya dengan memperlihatkan kembali foto-foto itu pada orang-orang di atas sampan, dalam, gubuk bambu, di rawa-rawa, dan sebagainya.

Andre memang punya misi untuk menyenangkan orang dengan foto-fotonya. Selain dengan menunjukkan foto di laptopnya pada orang yang dia foto, Andre juga mencetak foto orang yang dia foto lalu diperlihatkan ke orang yang difoto. Dia lakukan itu kepada orang-orang di Pulau Sumba, Sabu, Alor.

Sedangkan Ari Antoni adalah mahasiswa Fakultas Sastra Jurusan Antroplogi yang beberapa kali mengunjungi dan tinggal di Sumba. Selain melakukan penelitian bersama dosen maupun untuk tugas akhirnya, Antoni menyalurkan hobi fotografinya. Dia merekam anak-anak bermain ayunan, bangunan gereja, perempuan mengambil air, nenek merajut jala, dan seterusnya.

Salah satu karya Antoni memperlihatkan empat orang memegang kerbau dan satu orang mengayunkan pedang menebas leher kerbau tersebut. Bagi masyarakat Sumba, kerbau biasa dipakai sebagai perayaan ketika ada kematian di keluarga mereka. Foto ini terlihat dramatis karena kerbau tersebut berdiri dengan leher menganga akibat ditebas. Melalui foto ini, Antoni memperlihatkan bahwa kematian bagi orang Sumba justru sebuah perayaan.

Di foto lain, Toni memperlihatkan foto di dalam sebuah gua. Ada aroma mistis dalam fotonya yang cenderung gelap tersebut.

Tiga puluh foto karya dua fotografer ini telah dipamerkan pada 11 Juli hingga 2 Agustus 2009.

Pameran yang dibuka pada Sabtu, 11 Juli 2009 lalu oleh Bupati Sumba Barat Daya, Dr Cornelius Kodi Mete, ini mempertemukan dua sudut pandang tentang Sumba. Tidak hanya karena secara geografis, Andre memotret di sebagian besar di Sumba Barat sedangkan Antoni di Sumba Timur.

Melalui foto-fotonya, Andre dan Antoni, memperlihatkan bahwa kematian di Sumba yang bagi banyak orang adalah akhir kehidupan, ternyata justru jadi perayaan tentang kehidupan.

Sumber: http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2009/07/12/kehidupan-sumba-dari-dua-sudut-berbeda.html

 

Komentar  

 
+3 #1 Kamarru 2010-06-22 15:48
Dilihat dari sudut apapun juga SUMBA SELALU EXCELENT - Sebab Sumba juga adalah NEGERI PARA DEWA, tempat para tunggangan (Kuda) para Dewa turun menggemuruh dari bukit-bukit yang jauh.
 
 
+2 #2 boy 2010-06-22 22:20
di mana2 org sumba slalu membanggakan diri.. padahal... apa yg mau dibanggakan... gak bener kl "dilihat dr sudut apapun juga SUMBA SELALU EXCELENT" cobalah tengok SDMnya yg secara umum msh jauh di bawah standar dibandingkan dgn daerah2 lain di negeri ini...

kebanggaan semu... jaman dah berubah bung... masa bangga jadi daerah yg memiliki tingkat korupsi tertinggi di NTT...
 
 
+2 #3 predhtz 2010-06-22 22:49
kebanggaan itu perlu bung, dan saya rasa tidak ada salahnya memiliki kebanggaan seperti yang dikatakan Bung Kamarru.
Masalah SDM, jangan juga kita sapu rata semua. Memang, kalau dilihat secera garis besar, akan seperti yang bung boy tuliskan.
Tapi coba dipersempit lagi, ada berapa banyak SDM Sumba yang punya reputasi hebat sampe ke tingkat Nasional bahkan mungkin dunia?
hanya saja SDM yang punya reputasi hebat ini, justru terkubur oleh sekian banyak SDM yang jauh di bawah standart itu. Dan jika ditanya kenapa SDM2 yang hebat-hebat itu tidak mau kembali dan "membangun" Sumba? Jawaban saya sederhana, apakah ada tempat buat mereka2 itu di sana? apakah kemampuan mereka bisa diterima dan dihargai secara layak di sana? yang pasti, SDM2 hebat yang memilih untuk tidak kembali ke Sumba, tetap memiliki kebanggaan sebagai Anahumba.
 
 
+2 #4 boy 2010-06-22 23:14
nah yg kayak gini nih... gue salut ma bung predhtz...anahumba yg berprestasi diluar sumba...

bagaimana dgn SDMnya yg gak mau balik ke sumba karena gak ada tempat buat mrk agar eksis dgn kompetensi yg dimilikinya...

trus siapa yg hrs menyediakan tempat tersebut?!

gue pikir... ya inilah mentalitas org sumba yg selalu ingin "dilayani" dlm konteks budaya keningratannya... hanya mau pulang kl dah disediakan "tempat" ha..ha.. kacian sumba...kapan majunya...
 
 
+2 #5 Kamarru 2010-06-23 12:50
Under estimate... suka atau tidak suka... apapun juga adanya SUMBA.... bagiku (entahlah dengan yang lain) SUMBAku adalah tetap SUMBAku sampai kapanpun... Sinyalemen Bung Boy... ada betulnya juga... tetapi tidak semuanya, lalu apakah kita terus menyangkali keSUMBAan kita. Tugas saya, kita, mereka adalah tetap menjaga agar SUMBA kedepan menjadi SUMBA yang tidak ketinggalan demgan daerah2 yang lain. Memang masalahnya adalah kefeodalan di SUMBA yang audzubillah. Jadi kadang. mungkin ada "tau ata" yang pintar, tapi mereka terkendala dengan status mereka, Inilah SUMBA kita. SUMBA tidak dibawah standar, tapi pola adat kita yang terlalu kaku
 
 
+2 #6 predhtz 2010-06-23 14:40
Quoting
gue pikir... ya inilah mentalitas org sumba yg selalu ingin "dilayani" dlm konteks budaya keningratannya... hanya mau pulang kl dah disediakan "tempat" ha..ha.. kacian sumba...kapan majunya...


Gini bung boy... bukan masalah siapa yang menyediakan tempat... maaf ini masalah perut bung... dan kembali lagi... ini masalah pilihan.... bagaimanapun orang menginginkan penghargaan yang layak atas kompetensi yang dia punya.... ketika kompetensi dia bisa dihargai dengan layak, orang itu tidak butuh dilayani... tapi dengan senang hati akan melayani... tidak peduli ningrat atau bukan....
Dan sudah bukan rahasia lagi bung, kebanyakan orang kita sulit untuk mengapresiasi secara baik hasil karya orang-orang kita sendiri...
 
 
+1 #7 DJIPENK_sky 2010-06-29 06:19
pesan buat abang2 sekalian...

JANGAN PERNAH PIKIRKAN APA YANG AKAN DI BERIKAN SUMBA PADA KITA TETAPI PIKIRKAN APA YANG BISA KITA BERIKAN PADA SUMBA...


** di kutip dari penggalan pidato abraham lincoln....
 
 
+1 #8 Asnafri 2010-07-31 16:44
saya setuju dengan anda ketika anda mengatakan ..."SDM Sumba yang punya reputasi hebat sampe ke tingkat Nasional bahkan mungkin dunia" tetapi ketika anda sampai pada urusan perut, saya kurang setuju.Menurut saya , kaum intelektual yang terus brediam diri dalam keadaan yang mendesak dalam keadaan yang mendesak, telah melunturkan semangat kemanusiaan.keadaan Sumba saat ini sedang mendesak dan menunggu sentuhan hangat kaun intelektual yang bertanggungjawa b. masalah perut, adalah masalah yang penting tetapi yang terpenting adalah praksis yang berdampak transformatif. kalau anda hanya berpikir tidak ada peluang, sampai kapapun tidak akan pernah ada pelung karena peluang tidak datang dengan sendirinya. Ia diusahakan bukan ditunggu.
 
 
+2 #9 Asnafri 2010-07-31 16:51
Anda jangan begitu skeptis dengan situasi. yang terjadi sekarang adalah bagian dari proses dimana kita berpartisipasi secara aktif di dalamnya. sumba itu Excellent, harus kita jadikan sebagai utopia yang kongkrit. Agar utopia itu tidak abstrak, kita perlu semacam driving force. driving force dalam hal ini ialah kita, yang prihatin dengan Sumba. bukan malah melecahakan dan apada akhirnya menjadi apatis dan skeptis. SUMBA MENGUNGGU KARYA dan KARSA GENERASINYA.
 
 
+1 #10 q bukan idealis,umbu 2010-08-04 03:34
sumba kaya akan SDM & SDA, namun...
keduanya di kontrol oleh parasit budaya...mmg budaya adalah kebanggaan setiap daerah tp sayang para pelaku budaya(sbgian bsar di sumba)terlalu fanatik..
 

Tambah komentar


Kode keamanan
Refresh