Kehidupan Sumba dari Dua Sudut Berbeda |
|
|
|
| Ditulis oleh Admin |
| Jumat, 18 Juni 2010 11:34 |
|
Dua fotografer, satu dari Perancis dan satu dari Bali, memamerkan karya-karya foto mereka tentang Sumba di galeri Alliance Francaise Denpasar. Pameran berjudul Mort A Sumba, Images de Vie atau Kematian di Sumba: Potret Kehidupan itu memperlihatkan foto-foto tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Sumba. Menggunakan dua sudut pandang berbeda, Andre Graff dari Perancis dan Ari Antoni dari Bali merekam keseharian warga pulau di bagian timur Indonesia tersebut. Andre, warga negara Perancis, telah menempuh berpuluh ribu jalan di seluruh dunia. Dia meninggalkan kehidupan yang mewah di Perancis lalu pindah ke Timur. Setelah bepergian pertama di tahun 2004, dia kembali lagi di tahun 2005 untuk menyerahkan lebih dari 3500 foto kepada orang-orang yang telah dipotret. Dia menetap di Nusa Tenggara Timur untuk melimpahkan air bersih di Sumba dan Savu, selama tiga tahun dia telah membuat 12 sumur. Sumur ketigabelas baru saja selesai tanggal 8 Juni yang lalu. Foto-foto yang dia pamerkan merupakan ringkasan dari kumpulan fotonya yang berjumlah sekitar 25.000 foto! Dia berusaha menyenangkan tiap orang-orang yang difotonya dengan memperlihatkan kembali foto-foto itu pada orang-orang di atas sampan, dalam, gubuk bambu, di rawa-rawa, dan sebagainya. Andre memang punya misi untuk menyenangkan orang dengan foto-fotonya. Selain dengan menunjukkan foto di laptopnya pada orang yang dia foto, Andre juga mencetak foto orang yang dia foto lalu diperlihatkan ke orang yang difoto. Dia lakukan itu kepada orang-orang di Pulau Sumba, Sabu, Alor.
Sedangkan Ari Antoni adalah mahasiswa Fakultas Sastra Jurusan Antroplogi yang beberapa kali mengunjungi dan tinggal di Sumba. Selain melakukan penelitian bersama dosen maupun untuk tugas akhirnya, Antoni menyalurkan hobi fotografinya. Dia merekam anak-anak bermain ayunan, bangunan gereja, perempuan mengambil air, nenek merajut jala, dan seterusnya. Salah satu karya Antoni memperlihatkan empat orang memegang kerbau dan satu orang mengayunkan pedang menebas leher kerbau tersebut. Bagi masyarakat Sumba, kerbau biasa dipakai sebagai perayaan ketika ada kematian di keluarga mereka. Foto ini terlihat dramatis karena kerbau tersebut berdiri dengan leher menganga akibat ditebas. Melalui foto ini, Antoni memperlihatkan bahwa kematian bagi orang Sumba justru sebuah perayaan. Di foto lain, Toni memperlihatkan foto di dalam sebuah gua. Ada aroma mistis dalam fotonya yang cenderung gelap tersebut. Tiga puluh foto karya dua fotografer ini telah dipamerkan pada 11 Juli hingga 2 Agustus 2009. Pameran yang dibuka pada Sabtu, 11 Juli 2009 lalu oleh Bupati Sumba Barat Daya, Dr Cornelius Kodi Mete, ini mempertemukan dua sudut pandang tentang Sumba. Tidak hanya karena secara geografis, Andre memotret di sebagian besar di Sumba Barat sedangkan Antoni di Sumba Timur. Melalui foto-fotonya, Andre dan Antoni, memperlihatkan bahwa kematian di Sumba yang bagi banyak orang adalah akhir kehidupan, ternyata justru jadi perayaan tentang kehidupan. Sumber: http://www.balebengong.net/kabar-anyar/2009/07/12/kehidupan-sumba-dari-dua-sudut-berbeda.html |



Teks Siaran Pers, Foto Ari Antoni

Komentar
kebanggaan semu... jaman dah berubah bung... masa bangga jadi daerah yg memiliki tingkat korupsi tertinggi di NTT...
Masalah SDM, jangan juga kita sapu rata semua. Memang, kalau dilihat secera garis besar, akan seperti yang bung boy tuliskan.
Tapi coba dipersempit lagi, ada berapa banyak SDM Sumba yang punya reputasi hebat sampe ke tingkat Nasional bahkan mungkin dunia?
hanya saja SDM yang punya reputasi hebat ini, justru terkubur oleh sekian banyak SDM yang jauh di bawah standart itu. Dan jika ditanya kenapa SDM2 yang hebat-hebat itu tidak mau kembali dan "membangun" Sumba? Jawaban saya sederhana, apakah ada tempat buat mereka2 itu di sana? apakah kemampuan mereka bisa diterima dan dihargai secara layak di sana? yang pasti, SDM2 hebat yang memilih untuk tidak kembali ke Sumba, tetap memiliki kebanggaan sebagai Anahumba.
bagaimana dgn SDMnya yg gak mau balik ke sumba karena gak ada tempat buat mrk agar eksis dgn kompetensi yg dimilikinya...
trus siapa yg hrs menyediakan tempat tersebut?!
gue pikir... ya inilah mentalitas org sumba yg selalu ingin "dilayani" dlm konteks budaya keningratannya... hanya mau pulang kl dah disediakan "tempat" ha..ha.. kacian sumba...kapan majunya...
Gini bung boy... bukan masalah siapa yang menyediakan tempat... maaf ini masalah perut bung... dan kembali lagi... ini masalah pilihan.... bagaimanapun orang menginginkan penghargaan yang layak atas kompetensi yang dia punya.... ketika kompetensi dia bisa dihargai dengan layak, orang itu tidak butuh dilayani... tapi dengan senang hati akan melayani... tidak peduli ningrat atau bukan....
Dan sudah bukan rahasia lagi bung, kebanyakan orang kita sulit untuk mengapresiasi secara baik hasil karya orang-orang kita sendiri...
JANGAN PERNAH PIKIRKAN APA YANG AKAN DI BERIKAN SUMBA PADA KITA TETAPI PIKIRKAN APA YANG BISA KITA BERIKAN PADA SUMBA...
** di kutip dari penggalan pidato abraham lincoln....
keduanya di kontrol oleh parasit budaya...mmg budaya adalah kebanggaan setiap daerah tp sayang para pelaku budaya(sbgian bsar di sumba)terlalu fanatik..
RSS feed untuk komentar posting ini.