| Ketemu Kahlil |
|
|
| Kontributor: Yongky HS |
| Jumat, 24 Juli 2009 08:48 |
|
Aku ketemu Kahlil di simpang jalan di pinggiran Paris, ia menenteng sketsa lukisan insan-insan telanjang. "Cinta-kah yang sedang kau lukiskan?", tanyaku padanya. Kahlil: “No, aku tak melukis cinta, tapi cinta yang mengukirku kemudian aku menjadi etalasenya”. Aku: “Wah, kata-katamu jauh lebih fantastis dari semua sketsamu, ajarilah aku menemukan kata cinta yang memukau. Kahlil: ”Kalau kau jatuh cinta semua katamu pasti memukau”. Aku: “Tapi mengapa semua cinta selalu menjauh ketika ku mulai berkata-kata?" Kahlil: “Bicaralah lewat hati sebab di sana tempat cinta sejati”. Aku: ”Cinta sejati? Cinta macam apa itu?" Kahlil: “Bila cinta memanggilmu ikutlah walau jalanya terjal berliku dan ucapanya membuyarkan semua mimpimu. Jatuh cintalah, maka cinta akan menghampirimu dan kan kau temukan arti kesejatiannya”. Aku: “Aku telah dan sedang jatuh cinta, tapi mengapa cinta tak jua menghampiriku?” Kahlil: “Cape ahh tanya melulu. Lagian apa gak tau Gua Juga Jomblo nih!!!!!” Kemudian Kahlil menyelinap di antara keramaian Paris yang terasa sepi baginya. Ia meninggalkanku begitu saja, dan Paris tiba-tiba menjadi sunyi dalam kesendirianku.... Berpuluh-puluh hingga ratus tahun kemudian, aku kembali bertemu Kahlil dalam tumpukan buku “Tetralogi Masterpiece Kahlil Gibran”, ia sedang mendakwahiku tentang hidup dan cinta. Namun kututup telingaku rapat-rapat sambil kutitipkan selarik ayat cinta: “Cinta adalah realita yang bisa didefinisikan secara bebas, dan tiap orang berhak mendefinisikannya” Dan ketahuilah definisiku tentang cinta (saat ini): SIKSA Sambil terus berdakwah Kahlil melirikku, tersenyum, lalu ia pergi ketika dakwahnya belum usai. Kukejar pun sia-sia, pasti ia sedang bikin surat cinta, atau sedang meralat dakwahnya tentang cinta.
Waingapu, 23 Juli 2009 (Untuk semua yang sedang Jatuh Cinta) |



