Lupa Password? Lupa Username? Buat akun
Anda berada di >
Jum 10 Februari 2012
Banner

Ketika Nilai Anak Manusia Lebih Rendah dari Ternak

PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Oskar Shaja   
Kamis, 20 Agustus 2009 15:54

Sore tanggal 10 Agustus 2009 saya bersama istri dan anak jalan-jalan keliling kota Waingapu, yang tadinya ingin melihat pembukaan Taman Hiburan Rakyat (THR), tapi berubah pikiran untuk ke Dermaga Lama menikmati senja di sana.

Dalam perjalanan, saya sempat melihat baliho di perempatan jalan menuju lapangan pahlawan Waingapu (mirip Tugu Pahlawan di Surabaya menurut bung Yongky HS, penulis buku Cara Mudah Masuk Sorga). Di baliho tersebut gambarnya menarik, tapi yang lebih menarik lagi adalah kalimat-kalimat yang tertulis di situ.

"Urus Akta Lahir Anak, Jangan Kalah Sama Ternak", demikian salah satu kalimat yang tertera di situ. Kalau disimak dengan seksama, muncul pertanyaan, "Siapa yang manusia dan siapa yang ternak?", atau "Apakah orang sumba adalah ternak/hewan?", sehingga hanya mereka (baca: pembuat iklan) yang disebut manusia?

Iklan adalah metode yang baik untuk membangun opini publik dalam rangka membawa perubahan dan untuk mencapai tujuan dari iklan tersebut. Tapi akan menjadi tidak baik ketika komponen dalam iklan terserbut (gambar maupun kalimat) membuat pembacanya menjadi rancu karena memahami informasi yang disampaikan tidak menuju pada arah positif.

Kembali ke kalimat "Urus Akta Lahir Anak, Jangan Kalah Sama Ternak". Di sini seolah-olah manusia (yang sudah memiliki anak) bersaing dengan ternak (yang juga dapat membuat akta lahirnya untuk anaknya), dan manusia berada pada pihak yang kalah. Betulkah demikian?

 

Komentar  

 
+1 #1 ONKY HS 2009-08-23 03:26
Bung oskar, santai dulu bung!!!! Ayo kita kupas iklan 'sembrono itu' dengan kepala dingin walau hati panas.

'URUS AKTA LAHIR ANAK, JANGAN KALAH SAMA TERNAK!"
Visi dibalik kalimat ini adalah, 'membandingkan antara Akta lahir Anak dan Akta Ternak/Surat hewan' fakta statistik (mungkin) menemukan bahwa para orang tua kita masih awam dan menganggap remeh akan arti pentingnya Akta Lahir Anak.Di sisi lain kewajiban mengurus Surat Hewan pasti lebih banyak dipenuhi oleh para peternak kita (maklum utk proses jual-jeli hewan ini jd keharusan yg tak terhindarkan)ap alagi memang dasarnya jumlah ternak kita memang jauh lebih banyak dr anak (manusia)

Dengan 'membandingkan' seperti itulah 'kita' diingatkan juga akan arti pentingnya Akta Lahir Anak. Jadi di balik iklan itu ; ingin membudayakan kebiasaan kita di Sumba untuk selalu mengurus Akta Lahir Anak, tidak menunggu bila ada urusan yg mengharuskan adanya Akta lahir anak, baru mengurus. Jadi tentu saja dibalik iklan itu menyimpan 'pesan' yang positif, bukan?

Namun di sisi lain, memang iklan itu terlalu sembrono(itu istilah saya saja!)

Ternak/hewan memang merupakan 'harta' orang Sumba yg memiliki arti penting dan prestisius. hampir semua upacAra yg menyangkut adat selalu menyertakan hewan/ternak. Walau memiliki arti prestisius bagi orang Sumba, sangatlah ‘sembrono bila membandingkan ‘aksi terhadap anak’ dibandingkan dengan ‘ aksi terhadap ternak,. Dalam kalimat ambigu: 'URUS AKTA LAHIR ANAK, JANGAN KALAH SAMA TERNAK!" ini, memang mengandung unsur ‘pelecehan’.

-kalimat ini bisa diartikan bahwa ternak juga ‘mengurus’ akta lahir untuk anaknya(ternak) dan kita manusia dianggap kalah dengan hewan bila tak mengurus Akta Lahir Anak.
-Arti lain: Bahwa urusan ‘surat hewan’ memang penting tapi mengurus Akta Lahir Anak juga penting
-Arti lain seperti yg disangsikan oleh Bung Oskar; Anak (manusia) kok kalah sama ternak.

Masih banyak arti dan makna di balik ‘bahasa iklan sembrono’ itu. Entah dengan pertimbangan apa sehingga kalimat itu bisa dijadikan pilihan? Mungkin saja akibat minimnya pengetahuan si “pembuat” terhadap aspek bahasa, dan hanya secara sembrono meminjam ‘budaya’ yg dekat dengan masyarakat setempat. Secara keseluruhan aksi pemilik iklan itu, saya angkat jempol. Tapi untuk kalimat: 'URUS AKTA LAHIR ANAK, JANGAN KALAH SAMA TERNAK!", maaf saya bilang ; SEMBRONO!!!

Mendingan kalimat ini saja:
"Ada ternak beranak-pinak, anak peternak urus anak-anak ternak, perut gak enak, berak seenaknya di ladang ternak sambil triak-triak; kakak..kakak...kita pu sapi su beranak!!!!”
(hahahaha bukan kalimat iklan lho sekedar guyon ajalah..)
 
 
+1 #2 oskarshaja 2009-08-23 04:31
ok bung yongky, saya setuju dengan anda karena apa yang anda pahami sama dengan yg sy pahami hanya saja perlu dipirkan dengan matang sebelum ditayangkan, ya.. biar "tidak asal bunyi" gitu...

dari sisi desain sy pikir desainnya tumpang tindih, karena konsepnya tidak mengena, kalau sekedar gambar yang dipajang tentunya untuk mendekatkan budaya org sumba, hanya saja bokongnya kuda kok ilang ya?! nah ini dia yg namanya komponen gambar yg tdk efektif, penggunaan white space komponen gambar perlu diperhatikan... jd tidak asal pajang gambar...

komponen kalimat yg membangun seharunsnya, "surat ternak penting, tp akta lahir anak lebih penting, su urus ko?"
 
 
+1 #3 Guest 2009-08-23 05:38
Bung Oskar, walaupun bunyi iklan itu agak mrendahkan martabat manusia namun ada sisi baiknya bagi kita orang Sumba dimana urus KTP (kartu tanda kepemilikan) ternak lebih diutamakan bagi mereka yang punya hewan apalagi hewan besar. Kalo urusan akta kelahiran anak dibiarkan sampe anak itu besar/mau sekolah baru diurus, kadang diurus sendiri oleh anak, tapi kalo KTP ternak biar harganya mahal tapi urusannya menjadi lebih diutamakan
 
 
+1 #4 oskarshaja 2009-08-23 06:20
Quoting
Bung Oskar, walaupun bunyi iklan itu agak mrendahkan martabat manusia

nah itu dia pak Marthen, artinya Pak setuju kan he..he.. masih ada bahasa yang lebih enak dan membangun karena, back to the topic, bukan soal tabiat org sumba yang saya persoalkan di sini tapi yang saya kritisi adalah sisi iklan/reklame pada baliho itu, terutama pada konsep agar pesan yang mau disampaikan benar2 sampai ke pambaca iklan, khusus tentang kalimat "URUS AKTA LAHIR ANAK, JANGAN KALAH SAMA TERNAK!" mengandung arti bahwa kita manusia bersaing dengan ternak yang mengurus akta buat anaknya...

maafkan sy yg bodoh ini jika salah memaknai kalimat di atas... tp yg jelas sy setuju dgn anda berdua, Bung Yongky dan Pak Marthen :)
 
 
+1 #5 Guest 2009-08-23 08:04
Saya sangat setuju dengan pendapat dik Oskar tentang iklan itu, memang iklan itu sangat tidak punya nilai edukasi, dan bahkan menyamakan derajat manusia dengan hewan, namun saya memandang dari sudut pandang yang berbeda bahwa iklan itu sarkasme bagi orang yang punya hewan karena kadang lebih mementingkan surat hewan dari akta kelahiran anak. Padahal urus KTP ternak itu mahal (Rp.100 ribu/lembar), sedangkan akta kelahiran anak mungkin gratis (di Kota Kupang gratis loh). Terima kasih atas tanggapan baliknya
 
 
+1 #6 umburesi 2010-06-08 19:18
Astaga betul juga ya.......perbandingan yang tidak sejajar.
 

Tambah komentar


Kode keamanan
Refresh