Lelaki Ata |
|
|
|
| Ditulis oleh Yongky HS |
| Kamis, 11 September 2008 17:08 |
|
Seorang lelaki muda berseragam di temukan tewas di sungai Batu. Sungai yang mengalir di bawah tebing Mbata Kapidu, berkerumun orang untuk memuaskan rasa ingin tahu. Sebagian besar dari mereka adalah penduduk kampung Mbata Kapidu. Mereka bukan sekedar hadir sebagai penonton. Sudah kali kesekian kampung mereka menjadi tempat pementasan drama duka. Tahun lalu seorang lelaki berbau pinaraci di temukan tewas dengan luka tebasan parang di perutnya. Kali lain sebuah berita menyumbangkan lakon yang tak kalah seru; Seorang TKW yang berlibur di Sumba, melapor ke polisi bahwa ia baru saja diperkosa tukang ojek di pinggir sungai Batu. Di antara kerumunan orang, manusia-manusia berseragam turut hadir membawa sejumput bela sungkawa. Lelaki yang memerahkan sungai Batu dengan darahnya itu adalah rekan sejawat mereka. Habita, pegawai negeri baru golongan kolong yang baru saja di lantik. Pegawai rendahan golongan kolong kelas pesuruh, jabatan yang disandang Habita sebelum ia menjadi pemerah sungai Batu. Perangkat desa, polisi dan penduduk menyusur sungai untuk mencari jasad Habita di antara batu-batuan dan di balik belukar yang menjulur ke bibir sungai. Tangis pilu sanak keluarga menjadi soundtrack drama duka itu. Komat-kamit para tua-tua adat melengkapi jalinan cerita nan pilu. Habita adalah bagian dari mereka, ia penduduk kampung Mbata Kapidu . Habita juga bagian dari sungai yang menelannya itu. “Kita harus bikin upacara bersih desa”, gumam salah satu tua-tua adat. Sungai panjang penuh bebatuan besar, air mengalir meliuk-liuk di antara batu-batu cadas. Bila musim hujan bukit di balik kampung mengirim air keruh dalam jutaan liter. Kadang menggemuruh tak lagi meliuk-liuk di antara batu, namun menerjang segala penghalang dan mengirimkan lumpur pekat ke muara. Di sisi kiri sungai, hamparan padang luas tempat hewan-hewan piaraan menikmati surga Sabana Hijau. Segala sapi, kuda dan kambing menari-nari dalam tiupan Angin Rumput Savana. Bagian kanan sungai, tebing batu curam bagai benteng yang berbaris hingga ke kaki bukit dan menghilang di kaki langit sejauh mata bisa memandang. Di atas tebing itu nyali-nyali kecil tak pernah mampu menjamah. Keangkeran karena cerita-cerita seram; bahwa di sanalah tempat para arwah suanggi tinggal, membuat takut semua orang, walau penduduk setempat sekalipun. Di kampung Mbata Kapidu, Habita terlahir sebagai ata ndai, hamba secara turun-temurun yang mengabdi pada maramba (bangsawan) dari kabihu Anamburung. Golongan ata kasta terendah dalam masyarakat adat Sumba. Sejak dari buyut, kakek, bapak dan kini ia sendiri, status itu tak pernah berubah. Darah adalah kasta dan kasta tak pernah bisa menjauhi darah. Lelaki ata akan melahirkan anak ata, cucu ata, cicit ata....dan seterusnya. Demikianlah para leluhur Marapu telah menyepakati itu sebagai tatanan dalam adat mereka. Sebuah adat yang membedakan derajat manusia di mata sesama manusia. Benarkah tatanan ini terlahir dari sebuah kesepakatan? Bila benar, maka patrinialisme, egoisme dan kekuasaan adalah konseptor ulung pembentuk kesepatan itu. Menjadi seorang pegawai negeri adalah dambaan banyak orang, tapi tidak bagi Habita. Pilihan menjadi pegawai ini justru lahir dari ide sang tuan, maramba yang dilayani sepanjang hidupnya oleh keluarga Habita. Adalah Habita kecil, terlahir dengan tangis yang melengking. Bibirnya merah menggemaskan menghiasi pipinya yang montok. Tumbuh sebagai anak yang melebihi rata-rata anak kaum maramba. Di atas kuda sandel Habita kecil melesat bagai tanpa bayangan. Syair puja-puja pada marappu tersimpan rapi di kepalanya membentuk kidung-kidung yang dinyanyikan di pinggir sungai. Aljabar kali-bagi, tambah-kurang jadi mainannya. Sang tuan lalu tertarik menyekolahkan Habita kecil. Habita tumbuh sebagai remaja dengan darah seorang hamba. Ijasah SMA (SMU) di dapat dua tahun lalu dengan nilai terbilang lumayan. Maka setelah tamat sekolah kembali Habita mengabdi pada sang tuan. Melayani serta menjadi penggembala hewan. Ia juga memiliki tangan yang cekatan, sebatang kayu kepok diraut-raut menjadi jungga. Badan jungga membentuk buah hati, tangkai mengecil ke atas. Di ujung tangkai terukir kepala kakak tua. Dua utas tali nilon membentang antara kakak tua dan buah hati. Alat petik yang menimbulkan irama bossanova; thung... kreng... thung... kreng..... Thung... kreng.... thung... kreng..... di tepi sungai Batu Habita biasa menggubah syair-syairnya sambil mengawasi hewan-hewan mereguk air sungai. Dengan alat yang sama ia mampu mengiringi sesama gembala menyanyikan aku ini si gembala sapi........... Syair-syair cinta juga sering mengalir dari jungga yang mulai menguning mengkilat, karena bila tak dimainkan Habita menggosok-gosokkan sebilah tamiang ke seluruh kakak tuanya. Habita pula yang sering mencatat jumlah hewan-hewan dalam buku tebal bersampul batik. Tak jarang pula tangannya juga menghasilkan tongal, kabela serta patung-patung kecil. Habita bisa mengerjakan banyak hal. Satu hal yang tak bisa ia kerjakan adalah kapan ia harus mengerjakan sesuatu. Apa yang ia kerjakan selalu atas perintah sang tuan. Mencatat, menghitung, menjaga ternak, membuat patung, memperbaiki kandang, bahkan soal makan dan mandi semua atas perintah sang tuan. Apa yang tuannya perintahkan itu yang ia lakukan, kecuali menyanyi dan bersyair. Habita seorang ata, ata sejati. Bila sang tuan marah-marah bahkan sering dengan makian, Habita menganggap itu bentuk komunikasi antara maramba dengan ata. “Dasar tak punya otak. Goblok. Bahlul. Babi. Monyet”, dan banyak jenis makian sering lewat di telinganya. Habita hamba yang mengabdi, semua kata yang meluncur dari tuannya adalah sabda. Tak bisa di lawan, bahkan sekedar sanggahan sekalipun. Dituduh mencuri sesuatu dalam rumah besar adalah hal biasa yang sering ia terima. Darahnya tak pernah mengalir deras ke otak untuk membangkitkan amarah. Umpatan darah maramba tak pernah mengusik darah ata. Habita lelaki muda berdarah ata. Di kantor tempatnya bekerja Habita muda menemukan dunia baru. Bukan ata, pegawai baru golongan kolong kelas pesuruh. Secara administrasi kepegawaian di kelompokkan dengan inisial angka pertama dan hurub pertama 1A. Pegawai pertama, kebebasan pertama di dunia nyata bagi seorang Habita. Bangun pagi sebagai ata-berangkat kerja sebagai pegawai-pulang dan tidur sebagai ata. Dunia yang nyaris tak berbeda. Habita berdarah ata sebagai pegawai kelas pesuruh.“Kamu bisa ini. Kamu tahu itu”. Kata yang selalu mengawali perintah kepala kantor kepada pesuruh baru. Kata yang cenderung melecehkan. Kepala kantor seorang perantau yang bertugas setelah mendapatkan promosi jabatan. Daerah kecil seperti Sumba bagai ajang penggodokan eselon. Bertugas di Sumba, kemudian akan di tempatkan di lain daerah dengan jabatan serupa. Tak heran, maka keluarganya tak pernah diboyong ke Sumba. Paling satu atau dua tahun kemudian sudah pindah lagi. Hidup jauh dari keluarga di tempat terpencil dengan jabatan sebagai pemimpin. Kondisi emosi cenderung labil memimpinpun dengan gaya cenderung labil. Suatu kali, di siang yang panas, kepala kantor memanggil Habita, pegawai baru kelas pesuruh. Kepala kantor memanggil dan menyuruh pesuruh, hal biasa yang terlalu biasa. Sambil sibuk di depan komputer sang kepala meminta pesuruh mengambil kertas. “Kamu bisa ambil kertas? Kamu tahu quarto? Ambil di ruang sebelah!” Seperti biasa kata ‘kamu bisa-kamu tahu’ tak pernah lupa bertengger di depan kalimat perintahnya. Habita tak pernah menjawab pertanyaan pertama, itu tidak penting. Perintah sesungguhnya selalu jauh lebih penting. Perintah, perintah dan perintah inti kerja bagi seorang pesuruh. “Hai goblok. Bodoh! Kamu tahu quarto? Kamu tahu kertas quarto? Simpan itu, ambil kertas yang lain!”, mata kepala kantor melotot membentuk bola kristal. Habita memegang kertas, tak tahu apa itu quarto. Tangannya gemetaran meletakkan kertas di meja dekat kepala kantor. Bergegas ke ruang sebelah mengambil kertas jenis yang lain. Dengan membopong kertas berbagai ukuran Habita kembali menghadap kepala kantor. Kaki dan tangannya masih gemetaran darahnya berdesir lebih kencang. Bola kristal di wajah kepala kantor menyala lebih terang. “Goblok! Bodoh!”. Sang kepala menarik satu rim quarto dari tumpukan teratas dalam gendongan Habita. “Kamu orang Sumba ya?” Habita menjawab dengan anggukan yang nyaris tak bergerak. Tumpukan kertas membebani tubuhnya. Suara sang kepala membebani otaknya. “Goblok! Tidak ada otak! Kamu bikin malu orang Sumba, pakai seragam pegawai otak persis gembala. Kamu tahu? Ini yang namanya quarto! Dasar tidak ada otak”. Quarto ditempelkn di kepala Habita untuk direkam dalam otaknya. Habita lelaki ata pegawai rendahan kelas pesuruh. Makian dan cacian di telan dalam kesehariannya. Darahnya tak pernah mengalir sampai memanaskan otak untuk membangkitkan amarah dan dengki. Di kantor tempat kerja, Habita pegawai rendahan golongan kolong kelas pesuruh. Lelaki pegawai dengan inisial golongan 1A, bukan lelaki ata. Darahnya tidak beku. Otaknya bukan tak terjamah darah. Dan kepala kantor bukanlah maramba, mereka terikat hubungan dalam struktur jabatan. Bukan kasta. Atasan dan bawahan sebatas hormat-menghormati, bukan mengabdi. “Goblok. Bodoh. Tidak ada otak. Bikin malu orang Sumba”. Hari-hari pertama di terima tanpa beban. Minggu kedua, tiga, empat dan seterusnya. Darah di otak Habita memanas. Berontak. Tumpukan kertas berserakan di ruang kepala kantor. Kertas baru di pesan dari bagian logistik. Kertas kerja habis diperiksa kepala kantor. Kertas koran habis ludes di baca. Semua berserakan merusak pemandangan. “Hai kamu!” teriak kepala kantor saat Habita melintas ruang itu. “Kamu tahu?. Kamu bisa atur kertas-kertas ini?” Habita lelaki ata pegawai rendahan golongan kolong kelas pesuruh, tak menjawab pertanyaan sang kepala kantor namun melaksanakan perintah. Kertas-kertas dipilih dan dikumpulkan untuk ditata dalam rak kayu berwarna coklat jati. Mulutnya masih diam, desis keluh tak terdengar. Sang kepala kantor mengawasi gerak Habita, bola kristal di wajahnya bergerak-gerak liar. Kertas dikumpul dipilah-pilah menurut jenis dan bentuknya, kertas kerja, kertas koran, kertas sampah dan seterusnya. Setumpuk kertas di tangan Habita, jangankan sekedar mengatur kertas, merubah kertas itu menjadi tumpukan wajah sang kepala mampu ia lakukan. ‘Kamu bisa. Kamu tahu’ kalimat pembuka yang seharusnya menjadi semacam permohonan dan kehati-hatian. Namun kalimat itu selalu keluar dari mulut sang kepala kantor dalam nada yang jauh dari rasa hormat, apalagi permohonan. Kepala kantor pegawai eselon, perantau tanpa didampingi keluargannya, menatap lelaki ata pegawai baru golongan kolong kelas pesuruh. Sang kepala kantor masuk dalam strata sosial dengan takaran kasta; kasta kepala/eselon menghadapi kasta pesuruh/1A. Sebuah dunia baru yang dinikmatinya sejak dipromosikan menduduki jabatan kepala kantor. Sang pesuruh golongan terendah dalam balutan seragam yang sama; pegawai negeri. Dunia baru dalam hidupnya, kemerdekaan kecil yang coba dinikmatinya dalam hubungan struktural kepegawaian; golongan eselon atasan golongan 1A (bukan maramba eselon dan ata 1A). Kasta dan struktur dua jenis pemisahan tingkatan yang memiliki esensi sama; perbedaan. Namun kasta dan struktur adalah dua kutub yang bisa sangat berbeda dalam makna dan rasa perbedaan tingkatan. Habita lelaki ata pegawai rendahan golongan kolong kelas pesuruh, tapi bukan ata dari kepala kantor yang eselon. “Goblok. Bodoh. Bikin malu orang Sumba. Dasar tidak ada otak!” Habita biasanya akan tersenyum dengan merapatkan bibirnya, tangannya akan menggaruk-garuk kepalnya meraba-raba tempurung yang menutup otaknya. Lalu ia akan menuju ke sungai berbatu di bawah tebing. Kakak tua-nya akan selalu dibawa untuk berkicau bossanova pengiring syair-syair leluhur; nambera na mbumbi laka: pecah ijuk merah na mbata na kadu watu: patah tanduk batu mbubaru mambeni: melimpah geram nan marah njara hangga rapa: kuda memarahi kendali ka namburunda kadi mburu wua kambii: basahilah kami dulu dengan embun kacang ka nalodunda kadi lodu walakeri: panasilah kami dulu dengan matahari dedap namatu pandukaya :susul sampai perbatasan kapata pahandiaya :usut sampai perhinggaan Tapi itu ia lakukan jika cacian dan makian itu berasal dari Umbu maramba-nya.Sayang cacian itu keluar dari kepala kantor ; sang eselon. Habita lelaki ata tak pernah malu menjadi orang Sumba dari kasta terendah. Seminggu sudah -lelaki ata pegawai rendahan golongan kolong kelas pesuruh- tak muncul di kantor sang eselon. Terakhir kali di kantor Habita terlihat meraba-raba tempurung yang menutupi otaknya, bukan tersenyum. Habita mengerang sebab darah di otaknya mendidih, membarara. Kertas-kertas di tangannya dibuang memenuhi seisi ruang sang kepala kantor.Hanya satu lembar quarto kosong di tangannya.”Goblok.Bodoh.Bikin malu orang Sumba. Dasar tidak punya otak!” meluncur dari mulut sang eselon dan mengiang-ngiang di otak Habita. Di tebing sisi kanan sungai berbatu, tempat arwah suanggi bersemayam, polisi menemukan alat musik petik berbentuk buah hati dan kepala kakak tua.. Tebing tinggi, tempat tak terjamah nyali-nyali kecil di mana arwah para leluhur marapu dipuja dalam susunan doa-doa, dari tempat itulah Habita menyongsong sungai batunya menuju muara hati, jiwa dan roh nan abadi. Bayangan putih jatuh dari atas tebing, melayang-layang dimainkan angin. Secarik quarto antara langit dan bumi, ringan, seringan jiwa yang melayang-layang lalu jatuh.Kertas putih secarik quarto tak pernah ditemukan orang, ia jatuh luluh ditelan air sungai berbatu. Ada tulisan tangan yang tersusun indah pada secarik quarto yang dilumat air ; OTAKaKUOTAKaKU MELOMPAT-LOMPAT DI ATAS SUNGAI BERBATU, MELELEHJADI KATAK TANPA KAKI LALU AIR MEMBAWA OTAKaKUKE BATU YANG LAIN NYUSUT BAGAI ULAR TANPA KEPALA BURUNG GAGAK HITAM MELINTAS DI ATAS SUNGAIaKU MEMATOK ULAR, MEMBAWA TERBANGOTAKaKU JATUH KEMBALI DI SUNGAI BERBATU HANYUT BAGAI IKAN TANPA SIRIP DI HILIR SUNGAI BERBATUKUPEGANG KEPALAaKU AH..OTAKaKU MASIH SEGUMPAL DAGINGCAMPUR DARAH TANPA BENTUK BASAH KAKI DI SUNGAI BERBATU DI MANA-KATAK-ULAR-IKAN-aKU? LUPAKAN KATAK TANPA KAKI ULAR TANPA KEPALA IKAN TANPA SIRIP DI SUNGAI BERBATU MEREKA TAK BEDA DAUN KERING DITIMANG RIAK AIR. TANPA BENTUK, SEGUMPAL DAGING CAMPUR DARAHCAMPUR ZIGOT, BUTIRAN TEPUNG DAN KRISTAL RASA BERENANG BEBAS DI LAUTAN MINYAK PANAS. MASAK! OTAKKU, YANG HANYA GUMPALAN DAGING CAMPUR DARAH KUKIRIM DIAM DI BALIK PUSAR. LEGA. (HABITA ATA HAU) Mereka tak pernah tahu itu tulisan Habita. Ia mencari bentuk dan wujudnya sebagai manusia yang tak pernah sempurna, bahkan untuk menjadi katak, ular dan ikan juga tak pernah sempurna. Mereka tidak tahu. Umbu maramba-nya juga tidak tahu. Kepala kantor pegawai eselon itu tidak tahu juga. Habita lelaki Sumba dari kasta yang paling rendah, tak pernah malu menjadi orang Sumba. Habita tertawa. Di tepi sungai berbatu, sekian pasang mata redup dalam duka panjang. Jasad Habita ditemukan di balik rerimbunan belukar yang menjorok ke bibir sungai. Polisi belum tahu mengapa Habita mati setragis itu. Seperti syair-syairnya- namatu pandukaya- kapata pahandiaya. Tubuhnya pucat membusuk, matanya melotot tajam namun ada sebuah sisa senyum nyangkut di bibir memerah sirih pinang. Tempurung kepalanya hancur, isinya hanyut. Otak Habita lelaki Sumba dari kasta terendah telah dikirim oleh riak air sungai berbatu menuju ke muara abadi-tempat di mana kasta hanya ada satu ata/hamba. Seminggu berselang, polisi belum tuntas mengupas misteri kematian Habita. Di kantor tempat Habita bekerja, di ruang sang Eselon, bau busuk menyengat dari kamar kecil. Seluruh pegawai berkerumun menanti polisi mendobrak pintu. Aku ada di sana, tak kulihat sang Eselon di antara kerumunan orang. Kemarin, saat terakhir kali kukunci pintu WC, aku tersenyum, melihat wajah sang Eselon menyeruak dari bau busuk. Mengapa kenyataan tak pernah bisa berubah jadi sekedar mimpi? Aku bukan maramba. Aku bukan ata. Aku bukan Habita. Waingapu, 07 Pebruari 2003.(cerita berakhir 24 Maret 2003. thanks Frans) Catatan: Pernah Dipublikasikan di Harian Fajar Bali- Denpasar ata ; hamba sahaya, maramba; kaum bangsawan, suanggi; setan/roh pembunuh, pinaraci: minuman keras tradisional dari ramuan akar-akaran, kabihu : marga, tongal; tempat menyimpan uang koin dari kayu, kabela; parang, marapu; nenek moyang/kepercayaan asli Sumba, jungge: gitar kecil tiga snar** Dr. Oe.H. Kapita- lawiti luluku humba:pola peribahasa Sumba nomer; 1908, 1907, 1911,1922.
|




Di sungai berbatu segumpal daging campur darah menari-nari dimainkan riak air.
Komentar
Teringat akan keluarga bokap yang banyak hamba(ata).
Kasian, tapi ga pernah lakuin hal kayak gitu.
Hidup MaRamba, yang jelas jika tuannya yang bunuh baru ditindak secara hukum.
biar bagaimanapun kita hidup dalam masyarakat yang mengakui strata sosial dan bukan negara KOmunis.
buat para maramba jangan perlakukan hambamu seperti anjing krn mereka punya hati yang sama dengan kalian & Ba\'akul wua mata dan Mbalar rau kahilu
Yang penting Kaum bangsawan mau memperlakukan hambanya dengan tidak semena-mena. Mereka juga mempunyai perasaan.
Di mata Tuhan semua sama.
gak yangka dech....
jaman sekarang masih ada to?
Kemungkinan orang mengakat diri jadi maramba karena beberapa hal al :
1.diangkat penjajah menjadi maramba
2.kepala perampok yang menang perang trus angkat diri jadi maramba
trus anda yang sekarang maramba dari mana??tolong dicek.
Anda akan mendapat jawaban dari mereka.
puas?
Ngomong jangan sembarangan.
RSS feed untuk komentar posting ini.