Home > Kalumbut > Mas Burjo - Mas Ongko
Mas Burjo - Mas Ongko Cetak Email
Kontributor: Yongky HS   
Selasa, 15 September 2009 14:59

Sambil menikmati bubur kacang hijau, tiba-tiba saja terkenang senyumnya yang lugu dan gaya bicaranya yang agak ke-banci-bancian. Terkenang sepeda dan kotak hijau di belakang sepedanya, serta terkenang nikmat bubur kacang hijau yang dijualnya. Tapi mengapa sulit sekali mengingat namanya? Ya mungkin saja memang tak pernah tahu namanya. Aku hanya mengingatnya sebagai Mas Burjo (bubur kacang hijau).

Kami di Sumba memang sering hanya memanggil setiap lelaki Jawa dengan sebutan Mas, bila tak tau namanya. Kata Mas itu sering pula disertai dengan embel-embel pekerjaannya. Sehingga muncullah sebutan; mas tukang, mas bakso, mas sate, mas ayam (penjual ayam), mas AC (tukang AC), mas sepatu (tukang sepatu), mas kredit, mas polisi, mas tentara dan macem-macem embel-embel nama pekerjaan.

Sedikit agak janggal kalau ada sebutan Mas Ongko. Ini sama saja janggalnya dengan sebutan Ibu Tante, Ibu Nyonya, Pak Mister dan Pak Umbu. Kalau yang disebut terakhir ini justru menjadi lazim karena Umbu telah biasa menjadi nama seseorang. Demikian juga dengan Rambu, menjadi biasa bila ada panggilan Ibu Rambu karena Umbu dan Rambu sebagai sebutan hormat bagi lelaki dan perempuan Sumba telah lazim menjadi nama seseorang.

Sebutan untuk siapa Mas Ongko ini? Sebutan ini sebenarnya hanyalah cara Mas Burjo memanggilku. Kok bisa?

Tahun 1996 aku pernah membuka kios di Kampung Baru (Waingapu) dan Mas Burjo adalah langgananku berbelanja bahan-bahan pembuat bubur kacang hijau. Ia biasa membeli gula, kacang hijau, vanili dan lain-lain. Tinggalnya tak jauh dari kiosku, tapi tepatnya di mana aku tak tahu persis. Aku juga menjadi langganan bubur kacang hijaunya. Sebagai lelaki yang menyandang embel-embel keturunan Tionghoa, aku pun sering disebut dengan panggilan ongko. Tapi teman-teman dan kenalan dari orang-orang Jawa , mereka lebih sering menyapaku dengan sebutan mas. Hanya Mas Burjo saja yang memanggilku dengan sebutan Mas Ongko. Agak janggal dan lucu, tapi aku enjoy saja dengan sebutan itu, karena kutahu itulah caranya menyapaku dengan akrab.

Waktu itu mungkin umurnya sudah mendekati angka 50-an, istrinya juga sudah kelihatan tua, tapi mereka berdua sungguh orang-orang yang giat bekerja dan ramah, murah senyum serta cepat akrab dengan orang lain.

Suatu sore, Mas Burjo tertatih-tatih mampir ke kiosku hendak membeli obat. Tapi di kiosku memang tak menjual obat. Mas Burjo bersikeras ingin minta obat dariku.

“Mas Ongko punya obat apa saja tulung aku nyuwun mas” pintanya sedikit memelas.

“Lho sampeyan loro opo to mas, kok nyuwun obat sembarang?, tanyaku padanya.

“Anu Mas Ongko, anu.....” , ia tak meneruskan jawabannya.

Sore itu mukanya memang kelihatan pucat dan sesekali mendesah menahan sakit. Kudesak terus untuk menanyakan sakitnya, tapi Mas Burjo nampak ragu-ragu menjawab.

“Sakjane sampeyan loro opo to mas, ojo sembrono ngombe sembarang obat lho?” Mas Burjo masih tak menjawab pertanyaanku, namun ia kembali mulai ke gaya aslinya yang suka senyum-senyum dan bicara agak kebanci-bancian. Tiba-tiba ia sedikit mendekat dan bicara setengah berbisik: “ Anu Mas Ongko......manukku”

“Hahhhhh? Hahahahaha!”

Mas Burjo jadi malu-malu karena aku terbelalak sambil tertawa mendengar jawabannya. Sungguh aku tak menyadari bahwa reaksiku mendengar jawabannya, sebenarnya sangat tidak pantas. Usiaku yang jauh lebih muda sungguh tak pantas bereaksi seperti itu terhadap orang tua yang nyata-nyata serius sedang dirundung sakit.

Sadar akan kesalahan reaksiku, segera kutawarkan untuk mengantarnya ke dokter agar Mas Burjo tak merasa tersinggung atas tawaku yang kurang ajar itu.

Ia rupanya paling ‘takut’ berurusan dengan dokter. Melihat pucat wajahnya aku jadi mengkwatirkan sakitnya dan mendesaknya untuk mau ke dokter. Siapa tahu ia mengalami sakit yang serius dan harus segera mendapat pertolongan dokter. Logikaku terus menerka-nerka terhadap apa yang tidak beres dengan manuk Mas Burjo.

“Ayo Mas sebaiknya cepat ke dokter dan biar kuantarkan!” aku mendesaknya.

“Matur suwun Mas Ongko, kersane mbenjing mawon kulo pados jamu. Larang ongkos doktere”, elak Mas Burjo.

Ya ampun, betapa bodohnya aku, niat baikku menghantarnya ke dokter tanpa kuimbangi dengan pertimbangan-pertimbangan lain. Seolah sok baik hatinya diriku, tapi bisa-bisa justru aku menambah bebannya, melukai perasaannya. Jawabannya ‘Larang ongkos doktere’ menyadarkanku betapa untuk seorang penjual bubur kacang hijau kelilingan seperti dia adalah sesuatu yang berat bila berurusan dengan dokter. Sesakit apa pun tentu ia akan berpikir sekian kali bila harus berobat ke dokter. Kenapa begitu gagi-nya aku menganjurkan ia untuk segera ke dokter. Aku jadi iba dan merasa bodoh.

Atas kebodohanku itulah aku coba menghiburnya dan mengajaknya untuk tetap mau ke dokter. Bahkan sedikit memaksa dan berbohong, kukatakan bahwa aku punya teman dokter yang selalu gratis bila aku berobat ke sana. Mas Burjo tetap mengelak dan aku terus membujuk. Akhirnya jadi juga kuantar ia ke dokter dengan berboncengan sepeda motor.

Di sudut Payeti, di tempat praktek dokter Nyoman, di situlah aku mengajak Mas Burjo memeriksakan kesehatannya. Sebelum Mas Burjo diperiksa, aku langsung nyelonong menemui dokter Nyoman yang fasih berbahasa Jawa, maklum aku memang sok kenal kepadanya dan kebetulan pula ia termasuk dokter yang sepi pasien jadi nggak perlu ngantri. Kepada dokter Nyoman kupesan jangan bicara ongkos pada Mas Burjo biar nanti aku yang membayar ongkosnya. Kemudian aku keluar ruang periksa lalu mempersilahkan Mas Burjo untuk diperiksa dan kutunggu di luar.

Agak lama dokter Nyoman memeriksa dan berbincang-bincang dengan Mas Burjo dan diam-diam aku menerka-nerka lagi. Ada apa dengan manuk Mas Burjo? Kalau sakitnya parah bagaimana? Berapa ongkosnya? Walau aku kenal dokter Nyoman karena sering bertemu dan bertegur sapa di warung makan, tentu takbisa berharap dapat korting atas jasanya. Kuperiksa dompet ada Rp. 45.000,- ah pasti cukup, kalau kurang, gawat, masak harus ngutang?

Selesai diperiksa Mas Burjo langsung berbisik kepadaku dengan senyum khasnya:

“Mas, doktere mboten purun disukani ongkos”

Aku tersenyum, kuminta ia menunggu sejenak di luar, lalu segera kutemui dokter Nyoman.

“Kuwi apamu Mas?” sambut dokter Nyoman.

“Tonggoku Pak”, jawabku

Lalu dokter Nyoman menjelaskan, rupanya Mas Burjo mengalami sakit yang serius kalau perlu harus segera dirujuk di rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Hernia, panjang lebar penyakit ini dijelaskan padaku oleh dokter Nyoman. Tapi terus terang pikiranku justru melayang ke isi dompetku, menerka-nerka cukup tidaknya untuk membayar ongkos dokter dan obat-obatan. Sampai akhirnya aku menyela dokter Nyoman dengan pertanyaan:

“Berapa Pak?”

“Tak usahlah, biar aja kapan-kapan”, jawabnya

“Kok kapan-kapan bagaimana Pak?” tanyaku lagi.

“Wis, sampeyan antar pulang pak’e, biar cepat bisa istirahat dan minum obatnya”

Plong.....ternyata gratis juga, lalu aku segera mohon diri.

Keesokan harinya, sebelum aku berangkat ke kantor, Mas Burjo singgah ke kiosku menghantar serantang bubur kacang hijau hangat. Aku kaget karena seharusnya ia istirahat demi kesehatannya. Tapi pagi itu ia tetap mengayuh sepedanya menjajakan bubur kacang hijau.

“Mas, bukankah pak dokter bilang sampeyan harus istirahat dulu?” tegurku.

“Golek sangu riyoyo Mas Ongko, kersane saget nyambangi sederek woten Jawi”  jawabnya terus berlalu mengayuh sepedanya.

Aku hanya bisa tanganga menyaksikan Mas Burjo tertatih-tatih mengayuh sepedanya, sambil membayangkan betapa sakitnya ia menahan sakit akibat ada yang tak beres dengan manuk-nya. Keinginan untuk bisa mudik diwaktu lebaran ternyata telah mengalahkan rasa sakitnya.

Setelah Lebaran 1997 aku tak pernah bertemu lagi dengan Mas Burjo karena aku pun cuma 1 tahun tinggal di Kampung Baru. Mungkin ia mudik ke Jawa dan tak pernah kembali lagi ke Sumba. Aku masih ingat betul wajahnya dan gayanya bicara tapi kucoba-coba mengingat namanya, sia-sia, karena memang aku hanya mengenalnya sebagai Mas Burjo dan tak pernah tahu namanya. Barangkali ia juga hanya mengenalku sebagai Mas Ongko.

 

Waingapu, 15 September 2009

(Menjelang Lebaran 1430 Hijriyah)

 

Catatan:

  1. 1.tulung aku nyuwun mas (Tolong aku minta, mas)
  2. 2.sampeyan loro opo to mas, kok nyuwun obat sembarang?(Anda sakit apa mas, kok minta obat sembarang?)
  3. 3.Sakjane sampeyan loro opo to mas, ojo sembrono ngombe sembarang obat lho?(Sebenarnya Anda sakit apa mas, jangan minum obat sembarangan)
  4. 4.Matur suwun Mas Ongko,kersane mbenjing mawon kulo pados jamu. Larang ongkos doktere. (Terimakasih Mas Ongko, biarlah besok saja aku cari jamu. Mahal ongkos dokternya)
  5. 5. Mas, doktere mboten purun disukani ongkos (Mas, dokternya tidak mau diberi ongkos)
  6. 6.Kuwi apamu Mas (Itu apamu Mas)
  7. 7. Tonggoku Pak (Tetanggaku Pak)
  8. 8. Golek sangu riyoyo Mas Ongko, kersane saget nyambangi sederek woten Jawi. (Cari modal hari raya Mas Ongko, biar bisa berkunjung saudara di Jawa)
  9. 9. Manuk (“burung”)
 

Komentar  

 
0 # Guest 2009-09-16 11:56
Mas Ongko (melu mas burjo le ngundang) aku ngguyu nganti watangku ngelih. Walah le...le...le urusan manuk nganti kaya ngono. Mestine manuke wis mari, napa nggolek manuk wedog malih teng jawi.

Mas Ongko he...he...he...nuwun nggih ceritanipun.
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # ONKY HS 2009-09-16 15:00
Ki....hahahha hussh awas kualat lho!..
Wah tambah siji maneh sing ngundang aku Mas Ongko, yoiku Mas Aya....hehehehehe
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 

Tambah komentar

Komentar harus disesuikan dengan isi atau tema artikel. Komentar yang tidak sesuai akan dihapus


Kode keamanan
Refresh