Mbata atau Pemukulan Tambur dan Gong di Wolomboro |
|
|
|
| Ditulis oleh Isidorus Ndoi |
| Jumat, 02 Juli 2010 21:43 |
|
Kehidupan yang miskin tidak menghambatkan manusianya untuk meneruskan cerita atau sejarah kebudayan di daerahnya masing-masing, seperti yang dialami oleh setiap kampung di Manggarai timur, walaupun kehidupannya yang sederahana atau miskin namun mereka selalu berpegang teguh pada adat-istiadat, maka jangan heran pada setiap kampung di kabupaten itu selalu mengadakan pesta budaya setiap tahunnya. Ritual terbesar yang diadakan di kampung Wolomboro, desa Bamo, kecamatan Kota Komba, kabupaten Manggarai Timur yaitu acara peringatan kematian nenek moyang, dimana seluruh masyarakat dari tetangga kampung seperti Pandoa, Bamo, Mbero, Sere, Watu Nggong, Nanga Rawa, Wolobaga, Wae Soke, Wae Kutung, dan Wokopau, berkumpul dalam satu rumah adat dan masing-masing suku atau (kilo/clan) membawa hewan kurban, tuak atau arak, serta beras. Pada acara ini mengorbankan hewan yang banyak, dan pada malam hari diadakan "Mbata" yaitu acara pemukulan tambur dan gong dengan menyanyikan lagu-lagu tradisional sepanjang malam, dengan tujuan memohon restu kepada semua makhluk penjaga tanah agar acara pemotongan hewan berjalan lancar sekaligus sebagai simbol memberi makan kepada nenek moyangnya sehingga tidak ada halangan atau percecokan antar suku. Semua orang tua atau para tokoh adat duduk selengka (lonto leok) yaitu duduk membentuk lingkaran di atas tikar (te'e/loce = dalam bahasa daerah kami) dan para tokoh adat masing-masing memegang satu gendang dan yang lainnya memegang gong. Sebelum di adakan pemukulan gendang atau mbata ini, didahului dulu dengan pa'u manuk yaitu pemotongan ayam jantan yang diawali dengan membaca doa agar semua sepakat duduk semalaman sampai subuh yang ditandai dengan berkokoknya ayam. Menurut kepercayaan dari kampung ini, pada saat tambur dan gong dibunyikan pada malam hari, semua arwah orang yang telah meninggal mendengar, datang dan hadir pada malam itu. Pemukulan tambur pun tidak sembarang karena harus mengikuti irama Mbata dan Tetendere. Mbata yaitu irama pukulan pelan dengan menggunakan telapak tangan diiringi dengan nyanyian yang lambat didalam bahasa daerah oleh wanita dan pria. Lagu-lagu daerah ini kalau kita terjemahkan kedalam bahasa Indonesia kedengarannya sangat lucu karena susunan kalimatnya tidak beraturan, Singkatnya banyak menceritakan kegiatan-kegiatan dari nenek moyang mereka sejak dulu kala. Sedangkan Tetendere yaitu irama pukulannya cepat sebagai tanda kebahagiaan tanpa diiringi nyanyian dengan menggunakan tongkat atau kayu khusus untuk memukul tambur. Tetendere dilakukan pada waktu malam menjelang pagi sebagai penutup dari Mbata. Selesai melakukan tetendere ini tidak boleh lagi melakukan pemukulan mbata, jika ada yg melakukannya harus diadakan pemtongan ayam jantan atas kekhilafannya tadi. Akibat dari melanggar aturan ini kadang dapat mendatangkan malapetaka yang sangat besar bagi keluarganya tadi. Mereka sangat meyakini ini. Di kampung ini Tambur dibuat dari Kulit kambing atau kulit sapi yang sudah kering. Proses atau cara membuatnya membutuhkan waktu yang cukup lama, bisa 4-5 tahun menuggu kulit sapi atau kambing ini benar-benar kering sehingga menghasilkan tambur/gendang dengan suara yang nyaring. |




