Melolo Perlu Perubahan |
|
|
|
| Ditulis oleh Paulus Manno Raga |
| Selasa, 18 Oktober 2011 09:47 |
|
Perubahan demi perubahan terus bergulir seiring dengan perubahan waktu. Namun apapun adanya Melolo pernah mengukir sejarah sebagai sebuah ibu kota kerajaan. Sebelum kita mengerti akan maksud dari tulisan ini, terlebih dahulu saya gambarkan sedikit mengenai perjalanan kerajaan di daerah Sumba pada jaman penjajahan Belanda zaman dahulu. Pemerintah Militer dibawah Letnan Rijnders diserahkan kepada pemerintahan sipil di bawah A.J.L. Couvreur, mula-mula sebagai kontrolir kemudian sebagai Asisten Residen Sumba. Sebelum Couvreur menjalankan tugas penertiban pemerintahan ia melakukan penyelidikan kedaan susunan masyarakat seluruh Sumba. Akhirnya Sumba ditetapkan sebagai satu “afdeling” dalam keresidenan Timor dan pulau-pulaunya, yang dibagi atas empat ‘onderafdeling’:
Ia menetapkan wilayah-wilayah onderafdeling melingkupi beberapa kerajaan (Landschap), seperti dibawah ini: I. Onderafdeling Sumba Timur 1. Kerajaan Umalulu (Melolo) 2. Kerajaan Rindi-Mangili 3. Kerajaan Waijilu 4. Kerajaan Mahu-Karera II. Onderafdeling Sumba Tengah 1. Kerajaan Lewa-Kambera 2. Kerajaan Tabundungu 3. Kerajaan Kanatangu 4. Kerajaan Napu 5. Kerajaan Kapunduku Selanjutnya Onderafdeling Sumba Barat Utara yang terbagi oleh beberapa kerajaan yaitu Kerajaan Laura, Kerajaan Mamboru, Kerajaan Kodi, Kerajaan Mbangedo, Kerajaan Wewewa. Dan yang terakhir Onderafdeling Sumba Barat Selatan yang terbagi oleh beberapa kerajaan yaitu Kerajaan Lauli (Lolina), Kerajaan Wanukaka, Kerajaan Lamboya, Kerajaan Anakalangu, Kerajaan Lawonda. Dalam perkembangan kemudian terjadi perubahan-perubahan tentang penggabungan-penggabungan wilayah kerajaan (landschap/swapraja), demikian personalianya. Dalam tulisan ini, saya hanya memberikan sedikit gambaran mengenai Kerajaan Umalulu (Melolo). Dalam perkembangannya sejarah Melolo sudah merupakan dua wilayah kerajaan, yaitu Palaimalamba dan Watupelitu, terjadi sejak tahun 1912 kedua wilayah ini dipersatukan menjadi kerajaan (landschap/swapraja) Umalulu, dibawah seorang raja dari turunan Watupelitu yaitu Umbu Hia Hamataki alias Umbu Maramba. Ketika raja ini telah mencapai usia lanjut, pada tahun 1930 ia diganti oleh putera saudara sepupunya Umbu Hina Janggakadu, yang memerintah sampai dengan meninggalnya tahun 1946 ia diganti oleh puteranya. Almarhum diganti oleh puteranya Umbu Nggaba Haumara putera Umbu Hia Hamataki karena telah lanjut usia pada tahun 1959 ia diganti oleh puteranya Umbu Windi Tanangunju. Ialah yang menjadi raja yang terakhir bagi kerajaan/swapraja Umalulu, oleh karena tahun 1962 sistim pemerintahan swapraja telah berubah menjadi pemerintahan kecamatan. Setelah adanya perubahan tersebut maka terbentuklah Kecamatan Rindi Umalulu yakni gabungan dari dua kerajaan, yakni Kerajaan Rindi dan Kerajaan Umalulu. Kecamatan Rindi Umalulu bertahan sampai dengan tahun 1997 pada masa Bupati Sumba Timur, Ir. Umbu Mehang Kunda, karena pada saat itu, kecamatan Rindi Umalulu dimekarkan menjadi dua kecamatan yaitu kecamatan Rindi dengan ibu kota Tanaraing dan kecamatan Umalulu dengan ibukota Melolo. Setelah pemakaran kecamatan Umalalu beberapa tahun yang lalu belum ada perubahan yang berarti, hal ini mungkin diakibatkan lambannya pembangunan ke daerah ini, pemikir strategi wilayah lebih banyak berkonsentrasi bagaimana menjalankan mandat yang telah diembankan kepadanya, ketimbang apa yang harus diprioritaskan terkait sebuah janji untuk memekarkan kabupaten Sumba Timur. Sebenarnya, infrastruktur di daerah ini masih begitu parah, jalan, bangunan dan lain sebagainya belum tertata rapi, dan perlu adanya pembenahan secara signifikan. Sehingga keinginan untuk cepat keluar dari keterpurukan ekonomi, sosial, pedidikan, maupun budaya saat ini, kearah yang lebih baik dapat terwujud. Dilain pihak, banyak pengusaha atau pebisnis yang sejak kecil mereka di besarkan di Melolo hengkang dari daerah ini, karena menganggap bahwa Kota Melolo terlalu lamban untuk membawa sebuah perubahan. Namun sayang, anggapan inilah yang membuat Kota Melolo semakin kecil dari yang terkecil. Setelah mata mereka silau oleh kemewahan, mereka mulai beranggapan bahwa Kota Melolo terlalu lamban membawa mereka kepada sebuah perubahan. Timbul beberapa pertanyaan.
Sedikit saya memberikan gambaran mengenai kondisi Kota Melolo saat ini. Kota melolo di huni oleh penduduk yang majemuk, yakni penduduk asli orang Sumba Timur, pendatang yang terbagi dari orang sabu, orang cina, orang alor, timor, rote, folres, bugis dan lain sebagainya. Namun karena sebuah sejarah, maka yang nampak di pusat Kota Melolo hampir dihuni oleh penduduk dari pulau Sabu, Cina, Bugis, dan pendatang lainnya, dan selebihnya penduduk asli Sumba Timur sendiri. Dari semua pertanyaan tersebut di atas versinya sama saja yaitu sebuah perubahan, tinggal sekarang sebagai orang yang sama-sama hidup dan dibesarkan di negeri ini, kita sama-sama memikirkan, alternatif mana yang kita pakai, dan dengan cara apa yang kita buat guna mendatangkan perubahan didaerah Melolo. Ada tiga Konsep kebersamaan untuk membawa perubahan yaitu:
Dan perlu dipertegas, untuk mendatangkan perubahan di daerah Melolo harus datang dari warga Melolo sendiri (orang-orang yang tinggal menetap di Melolo). Timbul pertanyaan, kenapa perubahan itu harus datangnya dari orang melolo dan bukan dari pihak lain? Jawabannya enteng saja, kalau bukan kita, siapa lagi? Tidak mungkin orang lain yang kita tuntut untuk mendatangkan perubahan di daerah kita, sedangkan kita sebagi orang yang hidup dan dibesarkan di wilayah ini, hanya berpangku tangan dan berlagak masa bodoh. Kenapa demikian? Karena hanya orang melolo sendiri yang lebih memahami akan keinginan maupun kebutuhannya sendiri. Dengan melihat usaha kita yang begitu giat untuk maju, maka orang lain (Pengusaha dan lain sebagainya) akan melirik Melolo, dan bukan tidak mungkin mereka akan berubah pikiran untuk turut menanam saham di daerah ini. Dengan adanya tiga konsep ini, perlahan namun pasti Melolo akan menuju ke arah perubahan yang diharapkan. Kenapa demikian yakin akan ketiga konsep tersebut dapat membawa perubahan? Karena pekerjaan seberat apapun, apa bila di kerjakan secara gotong royong dan bersama-sama, niscaya akan membawa suatu keberhasilan yang memuaskan. Dan inilah konsep mendasar dan yang paling hakiki dalam tatanan hidup bermasyarakat. Disisi lain, Kota Melolo juga sangat membutuhkan perhatian yang khusus dari orang - orang yang begitu peduli akan sebuah perubahan dan nilai sejarah, karena di Kota Melolo banyak ditemukan beberapa peninggalan sejarah yang hingga saat ini mulai pudar termakan usia, seperti Kampung Raja Pau dengan stuktur budaya Sumba yang masih kental, Kampung Umalulu sebagai asal mulanya Kota Melolo, dan dermaga Melolo yang letaknya di belakang Kantor Polisi Umalulu yang lama, kini tinggal hanya puing-puing dan sedikit waktu hilang termakan usia. Masih banyak lagi peninggalan sejarah yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang terkubur bersama dengan mulai menipisnya arti sebuah sejarah bagi masyarakat di daerah ini. Kalau kita mau maju, dan kalau kita mau Kota Melolo cepat keluar dari keterpurukan ekonomi saat ini, masih banyak sektor-sektor yang sangat potensial seperti sektor pertanian, perikanan, peternakan, parawisata dan lain sebagainya, yang sangat membutuhkan sumbangsih pemikiran, kepedulian serta dapat mewujudkannya dengan tindakan nyata, tanpa mengharapkan yang muluk-muluk saja. Memang kita sadari, bahwa untuk mewujudkan sebuah perubahan, akan ada banyak kendala maupun hambatan yang dihadapi, namun inilah bagian dan keunikan dari sebuah perjuangan dalam mendatangkan perubahan. Tinggal sekarang, apakah kita mau mencoba ataukah kita terus terlarut dalam sebuah ketertinggalan? |
Berita Terkini
18 May 2012
- 17 May 2012 Jembatan Darurat Payeti: Telah Dibangun dengan Model yang Lebih 'Akrab' dengan Kaum Perempuan
- 16 May 2012 Hujan Berkepanjangan: Cemaskan Warga Pengguna Jembatan Darurat Payeti
- 10 May 2012 MTQ NTT akan Diinkulturasi: Bentuk Dukungan, Usulan Tenun Sumba Jadi Warisan Dunia
- 09 May 2012 Sebrangi Sungai & Bukit Terjal: Siswa SD Bidipraing Akhirnya di Asramakan Selama Pelaksanaan UN
- 08 May 2012 Listrik Proyek PNPM hanya Pajangan: Anak Lai Hiding Belajar Pakai Pelita untuk Hadapi UN
- 03 May 2012 PLN Janji Bina & Tindak Pencatat Meter Nakal
- 27 April 2012 Tikus ‘Invasi’ Lahan Pertanian : Warga Kombapari Terancam Gagal Panen
- 26 April 2012 Warga Mengadu ke DPRD: Diduga Petugas Pencatat Meter PLN Kerja ‘Curi Tulang’
- 24 April 2012 Cara Siswa/i SMPN Nggoa Hadapi UN: Gunakan Lampu Pelita Saat Belajar, Jalan Kaki 7 KM ke Sekolah
- 16 April 2012 Diduga Karena Belum Terima Gaji, Staf Dispenduk Sumba Timur Mogok Berkantor
- 13 April 2012 Naskah Ujian Nasional di Sumba Timur Kurang
- 08 April 2012 18 Tahun Didera Hydrochepalus & Lumpuh: Walau Lirih, Zakarias Tetap Bersenandung
- 06 April 2012 Jemaat GKS Kambaniru Gelar Prosesi Jalan Salib
- 05 April 2012 Sekolah di Sumba Timur, 75% Dibawah Standart Mutu Nasional
- 04 April 2012 Apresiasi Perjuangan Anak Lai Hiding: Dinas PPO Sumba Timur Rencanakan Bangun Sekolah Paralel
- 03 April 2012 Belajar dari Agustinus: Sosok Sederhana di Balik Perjuangan Anak-Anak Lai Hiding
- 31 March 2012 ‘Uji Nyali’ Anak Dusun Lai Hiding: Ke Sekolah Bagaikan Terjun ke Arena Sabung Nyawa
- 29 March 2012 Bangunan Pasar Papuu dan Kiritana Mubazir: TPI & Pabrik Es Waingapu Bernasib Serupa
- 28 March 2012 Harga BBM Belum Resmi Naik: Harga Sejumlah Sembako Menang Satu Langkah!




