Lupa Password? Lupa Username? Buat akun
Anda berada di >
Sab 19 May 2012
Banner

Membangun Pendidikan Dalam Sebuah Kerangka Idealisme Guru

PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Bonefasius Sambo   
Selasa, 28 September 2010 21:07

Syallom, Salam Sejahtera….

Akun fb-Grup Guru-Guru di Sumba dalam beberapa bulan terakhir terlalu pasif , katanya, setelah hadir dim jagad maya. Dan hal ini kamipun mengakuinya. Setidaknya informasi ini menjadi api motifasi untuk mewujudukan misinya sebagai media komunikasi para guru.

Di awal hadirnya akun ini, diliputi rasa optimistis. Setidaknya dapat mengakomodir gagasan-gagasan atau ide-ide progresif-visioner dari guru-guru yang ada di pulau Sumba. Sebagai fitur jejaringan sosial kami tidak menutup diri bagi guru-guru Sumba yang mengajar di luar pulau Sumba, atau rekan-rekan guru yang memiliki simpati, empati atau kepedulian dengan masalah pendidikan di Pulau Sumba untuk bergabung dalam grup ini.

Pendidikan di pulau Sumba seperti daerah-daerah lainnya memiliki masalah yang sama yaitu mengenai mutu pendidikan. Pada perihal inilah kita perlu berbicara sekaligus membahas untuk menemukan solusinya yang terbaik. Kita dituntut berdiskusi karena kitalah pelaku-pelaku utama pendidikan (kalau boleh dikatakan demikian).

Menjadi pendidik atau berprofesi sebagai guru yang di emban oleh Saudara, Saya, kita semua terus akan melekat sepanjang hayat. Saudara akan selalu di sapa “GURU”. Menjadi guru tentunya ada konsekuensi moral. Yaitu sebuah tanggungjawab moral mengenai pencapaian peserta didiknya. Kita akan tertantang, bila kita ditanya sejauhmanakah dharmabaktinya untuk anak bangsa? Atau pada tingkat mana produktifitas kita dalam mengaktualisasikan elan kreatifitas dalam mendidik generasi muda kita? Itulah dua pertanyaan yang mewakili berbagai pertanyaan seputar perkembangan dunia pendidikan kita.

Ketika hasil UN dijadikan sebagai parameter ketercapaian proses pendidikan di suatu daerah, maka daerah kita perlu berbenah. Hasil UN beberapa tahun terakhir patut kita refleksikan bersama. Karena kita belum masuk pada kategori yang memuaskan. Kita juga belum mengkaji sejauhmana daya serap (siswa yang diterima) pada sekolah-sekolah terkenal, lulusan SMA/SMK/MA yang di terima di perguruan tinggi ternama. Hal ini bukan berarti memandang sebelah mata putra-putri kita yang yang menempuh pendidikan di sekolah/kampus yang dimaksudkan itu. Dan pada hal lain mampukah lulusan SMK diterima di perusahan, BUMN, atau di instansi pemerintah secara signifikan. Atau mampukah lulusan SMK berswakarya secara mantap dan mandiri? Disinilah letak peranan sebuah lembaga pendidikan, sekaligus tugas berat dari tenaga pendidik. Memang masalah ini tidak mutlak menjadi tanggung jawab pendidik. Peran pemerintah daerah, orang tua, dan juga masyarakat tidak bisa dipisahkan dari perkara ini. Maka dengan pertimbangan itu saya mengajak saudara, berpartisipasilah pada grup ini.

Grup ini memang memuat dan menampilkan pendapat (yang subyektif). Tapi ada baiknya kita menjunjung tinggi rasionalitas serta analitis ilmiah. Karena setiap pendapat yang termuat dalam grup ini bisa menjadi referensi berarti bagi partisipan dalam mengembangkan misi profesinya. Guru sekarang tidak hanya menjalani tugas dan fungsi saja tapi harus mampu mengembangkan inovasi pembelajaran secara komprehensif (mengaitkannya dengan keunikan peserta didik). Gurupun harus bersikap kritis terhadap semua keadaan dalam mendukung kegiatan KBM.

Dan pada kesempatan ini pula, saya menawarkan pada Saudara untuk berpartisipasi, dengan memberikan sumbang sarannya, atau memberikan energi kreatifitasnya dalam memecahkan masalah pendidikan di daerah kita.

Kita memang beda –aku-, tapi kita sama dalam profesi dan kita disamakan dalam sebuah persepsi: dalam konteks “anak bangsa”, lebih lanjutnya ketika memerankan tugas sebagai pendidik anak bangsa. Oleh karena itu Saudara, saya, dan kita semua perlu mengumpulkan energi untuk disatukan dalam sebuah kerangka idealisme guru yaitu bagaimana memajukan dan mencerdaskan anak Sumba yang juga anak Indonesia. Bagaimana guru?***

 

Komentar  

 
0 #4 ace 2010-11-05 16:20
bolehlah..guru Zaman sekarang memang sudah demam IT dan teknologi..itu sih bagus tapi saran saya jangan sampai gara2 FB guru2 sibuk comment sana-sini dan lupa menyusun bahan-bahan pembelajaran penting yang perlu dilakukan untuk kemajuan muridnya....
Hormatku bagi pahlawn tanda jasa...
 
 
0 #3 predhtz 2010-10-29 23:37
sebenarnya sudah ada, sayangnya pengelolaan dan distribusinya yang amat sangat tidak merata. pemerintah pusat sudah mengalokasikan dana segitu besarnya untuk membangun Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas) yang disebar ke sekolah2 dengan bandwith yang menurut saya sudah sangat mencukupi untuk ukuran 1 sekolah (sekitar 512 KBps per sekolah) dan fasilitas ini gratis karna sudah dibayar sama pemerintah pusat
Sayangnya, kembali lagi... distribusinya yang tidak merata. kebanyakan cuma sampai di ICT di diknas kabupaten dan tidak disebar ke sekolah2.
 
 
0 #2 Kaparrak 2010-10-25 17:14
Cuma numpang lewat...

Memang tidak mudah menjadi guru, apalagi dijaman dunia maya yang mulai merambah kemana-mana ini....
Apakah punya ide untuk memberikan fasilitas internet gratis kepada sekolah-sekolah yang berada di desa yang jauh? Kalau ya, gimana caranya? Biar guru-guru kita yang disana itu tidak ketinggalan informasi..... Mereka juga punya hak untuk mendapat akses informasi seluas-luasnya.. supaya bisa menularkan informasi yagn benar, kepada anak didiknya......
 
 
0 #1 predhtz 2010-09-29 10:51
bukan guru boleh ikutan?
 

Untuk mengirim komentar di situs ini, silahkan login dulu, atau gunakan layanan komentar dari facebook di atas :)

Berita Terkini

Drainase Wangga & Kambaniru: Telan Anggaran Lebih dari Rp. 3 Milyar
18 May 2012
article thumbnailWaingapu.com - Banjir yang sering melanda sejumlah wilayah di Kelurahan Wangga dan Kelurahan Kambaniru, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur ( Sumtim), NTT, setiap tahun, pada saat musim...
Banner