Membangun Pendidikan Dalam Sebuah Kerangka Idealisme Guru |
|
|
|
| Ditulis oleh Bonefasius Sambo |
| Selasa, 28 September 2010 21:07 |
|
Syallom, Salam Sejahtera…. Akun fb-Grup Guru-Guru di Sumba dalam beberapa bulan terakhir terlalu pasif , katanya, setelah hadir dim jagad maya. Dan hal ini kamipun mengakuinya. Setidaknya informasi ini menjadi api motifasi untuk mewujudukan misinya sebagai media komunikasi para guru. Di awal hadirnya akun ini, diliputi rasa optimistis. Setidaknya dapat mengakomodir gagasan-gagasan atau ide-ide progresif-visioner dari guru-guru yang ada di pulau Sumba. Sebagai fitur jejaringan sosial kami tidak menutup diri bagi guru-guru Sumba yang mengajar di luar pulau Sumba, atau rekan-rekan guru yang memiliki simpati, empati atau kepedulian dengan masalah pendidikan di Pulau Sumba untuk bergabung dalam grup ini. Pendidikan di pulau Sumba seperti daerah-daerah lainnya memiliki masalah yang sama yaitu mengenai mutu pendidikan. Pada perihal inilah kita perlu berbicara sekaligus membahas untuk menemukan solusinya yang terbaik. Kita dituntut berdiskusi karena kitalah pelaku-pelaku utama pendidikan (kalau boleh dikatakan demikian). Menjadi pendidik atau berprofesi sebagai guru yang di emban oleh Saudara, Saya, kita semua terus akan melekat sepanjang hayat. Saudara akan selalu di sapa “GURU”. Menjadi guru tentunya ada konsekuensi moral. Yaitu sebuah tanggungjawab moral mengenai pencapaian peserta didiknya. Kita akan tertantang, bila kita ditanya sejauhmanakah dharmabaktinya untuk anak bangsa? Atau pada tingkat mana produktifitas kita dalam mengaktualisasikan elan kreatifitas dalam mendidik generasi muda kita? Itulah dua pertanyaan yang mewakili berbagai pertanyaan seputar perkembangan dunia pendidikan kita. Ketika hasil UN dijadikan sebagai parameter ketercapaian proses pendidikan di suatu daerah, maka daerah kita perlu berbenah. Hasil UN beberapa tahun terakhir patut kita refleksikan bersama. Karena kita belum masuk pada kategori yang memuaskan. Kita juga belum mengkaji sejauhmana daya serap (siswa yang diterima) pada sekolah-sekolah terkenal, lulusan SMA/SMK/MA yang di terima di perguruan tinggi ternama. Hal ini bukan berarti memandang sebelah mata putra-putri kita yang yang menempuh pendidikan di sekolah/kampus yang dimaksudkan itu. Dan pada hal lain mampukah lulusan SMK diterima di perusahan, BUMN, atau di instansi pemerintah secara signifikan. Atau mampukah lulusan SMK berswakarya secara mantap dan mandiri? Disinilah letak peranan sebuah lembaga pendidikan, sekaligus tugas berat dari tenaga pendidik. Memang masalah ini tidak mutlak menjadi tanggung jawab pendidik. Peran pemerintah daerah, orang tua, dan juga masyarakat tidak bisa dipisahkan dari perkara ini. Maka dengan pertimbangan itu saya mengajak saudara, berpartisipasilah pada grup ini. Grup ini memang memuat dan menampilkan pendapat (yang subyektif). Tapi ada baiknya kita menjunjung tinggi rasionalitas serta analitis ilmiah. Karena setiap pendapat yang termuat dalam grup ini bisa menjadi referensi berarti bagi partisipan dalam mengembangkan misi profesinya. Guru sekarang tidak hanya menjalani tugas dan fungsi saja tapi harus mampu mengembangkan inovasi pembelajaran secara komprehensif (mengaitkannya dengan keunikan peserta didik). Gurupun harus bersikap kritis terhadap semua keadaan dalam mendukung kegiatan KBM. Dan pada kesempatan ini pula, saya menawarkan pada Saudara untuk berpartisipasi, dengan memberikan sumbang sarannya, atau memberikan energi kreatifitasnya dalam memecahkan masalah pendidikan di daerah kita. Kita memang beda –aku-, tapi kita sama dalam profesi dan kita disamakan dalam sebuah persepsi: dalam konteks “anak bangsa”, lebih lanjutnya ketika memerankan tugas sebagai pendidik anak bangsa. Oleh karena itu Saudara, saya, dan kita semua perlu mengumpulkan energi untuk disatukan dalam sebuah kerangka idealisme guru yaitu bagaimana memajukan dan mencerdaskan anak Sumba yang juga anak Indonesia. Bagaimana guru?*** |
Berita Terkini
18 May 2012
- 17 May 2012 Jembatan Darurat Payeti: Telah Dibangun dengan Model yang Lebih 'Akrab' dengan Kaum Perempuan
- 16 May 2012 Hujan Berkepanjangan: Cemaskan Warga Pengguna Jembatan Darurat Payeti
- 10 May 2012 MTQ NTT akan Diinkulturasi: Bentuk Dukungan, Usulan Tenun Sumba Jadi Warisan Dunia
- 09 May 2012 Sebrangi Sungai & Bukit Terjal: Siswa SD Bidipraing Akhirnya di Asramakan Selama Pelaksanaan UN
- 08 May 2012 Listrik Proyek PNPM hanya Pajangan: Anak Lai Hiding Belajar Pakai Pelita untuk Hadapi UN
- 03 May 2012 PLN Janji Bina & Tindak Pencatat Meter Nakal
- 27 April 2012 Tikus ‘Invasi’ Lahan Pertanian : Warga Kombapari Terancam Gagal Panen
- 26 April 2012 Warga Mengadu ke DPRD: Diduga Petugas Pencatat Meter PLN Kerja ‘Curi Tulang’
- 24 April 2012 Cara Siswa/i SMPN Nggoa Hadapi UN: Gunakan Lampu Pelita Saat Belajar, Jalan Kaki 7 KM ke Sekolah
- 16 April 2012 Diduga Karena Belum Terima Gaji, Staf Dispenduk Sumba Timur Mogok Berkantor
- 13 April 2012 Naskah Ujian Nasional di Sumba Timur Kurang
- 08 April 2012 18 Tahun Didera Hydrochepalus & Lumpuh: Walau Lirih, Zakarias Tetap Bersenandung
- 06 April 2012 Jemaat GKS Kambaniru Gelar Prosesi Jalan Salib
- 05 April 2012 Sekolah di Sumba Timur, 75% Dibawah Standart Mutu Nasional
- 04 April 2012 Apresiasi Perjuangan Anak Lai Hiding: Dinas PPO Sumba Timur Rencanakan Bangun Sekolah Paralel
- 03 April 2012 Belajar dari Agustinus: Sosok Sederhana di Balik Perjuangan Anak-Anak Lai Hiding
- 31 March 2012 ‘Uji Nyali’ Anak Dusun Lai Hiding: Ke Sekolah Bagaikan Terjun ke Arena Sabung Nyawa
- 29 March 2012 Bangunan Pasar Papuu dan Kiritana Mubazir: TPI & Pabrik Es Waingapu Bernasib Serupa
- 28 March 2012 Harga BBM Belum Resmi Naik: Harga Sejumlah Sembako Menang Satu Langkah!





Komentar
Hormatku bagi pahlawn tanda jasa...
Sayangnya, kembali lagi... distribusinya yang tidak merata. kebanyakan cuma sampai di ICT di diknas kabupaten dan tidak disebar ke sekolah2.
Memang tidak mudah menjadi guru, apalagi dijaman dunia maya yang mulai merambah kemana-mana ini....
Apakah punya ide untuk memberikan fasilitas internet gratis kepada sekolah-sekolah yang berada di desa yang jauh? Kalau ya, gimana caranya? Biar guru-guru kita yang disana itu tidak ketinggalan informasi..... Mereka juga punya hak untuk mendapat akses informasi seluas-luasnya.. supaya bisa menularkan informasi yagn benar, kepada anak didiknya......
RSS feed untuk komentar posting ini.