Menjemput Asa di Daerah Aliran Sungai: Kambata Tana Tantang Kekeringan & Rawan Pangan dengan Optimisme |
|
|
|
| Ditulis oleh ion |
| Rabu, 02 November 2011 08:43 |
|
Dilatar belakangi bukit dengan padang sabana kering, warga Kambata Tana bahu membahu menjemput asa, agar tetap survive di tengah tantangan kekeringan dan ancaman rawan pangan. Puluhan hektar lahan di bantaran sungai atau DAS yang selama ini tidak dioptimalkan, kini perlahan menjanjikan asa kehidupan. Bermodalkan mesin pompa yang diadakan lewat dana kas desa, warga menyedot air dari satu-satunya sungai yang meliintasi desanya untuk mencukupi kebutuhan air bagi tanaman yang akan diusahakan. Air yang disedot dan dialirkan dengan selang melalui saluran sederhana diharapkan bisa mengantar warga untuk hidup lebih bermartabat, daripada sekedar mengharapkan bantuan pemerintah yang tidak pasti akan didapatkan. “Memang saat ini kekeringan dan rawan pangan sulit terhindarkan. Namun saya terus berupaya secara pribadi juga terus memotivasi warga untuk berusaha dan memaksimalkan potensi Das yang ada. Kita saat ini memang masih butuh bantuan dan dapat beras raskin.Namun janganlah terus kita berharap hanya pada bantuan raskin. Kita harus bisa keluar dari krisis dengan kemampuan kita, dengan cara panatang menyerah dan bekerja keras,” tandas Gerson Ngg. Harawandu, Kepala Desa Kamba Tana, di sela sela aktifitasnya di lahan DAS nbekerja mengolah tanah dan menyiangi tanaman bersama warga. Perlahan namun pasti, asa itu mulai menampakan diri seiring dengan mulai menghijaunya beberapa lahan yang sebelumnya kosong. Tanaman jagung dan cabe nampak tumbuh dengan subur. Jika tiada aral, beberapa bulan ke depan, warga sudah bisa memanen hasilnya, kemudian bisa dijual atau dikonsumsi dalam rumah tangga mereka. “Rencananya jika satu atau dua bulan kedepan panen ya nselain kami konsumsi sendiri juga bisa kami jual,” ujar Nggau Behar, salah seorang warga yang ditemui. Semangat warga ini tentunya layak mendapat apresiasi, Namun sayangnya, keterbatasan bibit dan pendampingan dari instansi terkait, hingga kini justru masih terus membelenggu. (ion)
|
Berita Terkini
18 May 2012
- 17 May 2012 Jembatan Darurat Payeti: Telah Dibangun dengan Model yang Lebih 'Akrab' dengan Kaum Perempuan
- 16 May 2012 Hujan Berkepanjangan: Cemaskan Warga Pengguna Jembatan Darurat Payeti
- 10 May 2012 MTQ NTT akan Diinkulturasi: Bentuk Dukungan, Usulan Tenun Sumba Jadi Warisan Dunia
- 09 May 2012 Sebrangi Sungai & Bukit Terjal: Siswa SD Bidipraing Akhirnya di Asramakan Selama Pelaksanaan UN
- 08 May 2012 Listrik Proyek PNPM hanya Pajangan: Anak Lai Hiding Belajar Pakai Pelita untuk Hadapi UN
- 03 May 2012 PLN Janji Bina & Tindak Pencatat Meter Nakal
- 27 April 2012 Tikus ‘Invasi’ Lahan Pertanian : Warga Kombapari Terancam Gagal Panen
- 26 April 2012 Warga Mengadu ke DPRD: Diduga Petugas Pencatat Meter PLN Kerja ‘Curi Tulang’
- 24 April 2012 Cara Siswa/i SMPN Nggoa Hadapi UN: Gunakan Lampu Pelita Saat Belajar, Jalan Kaki 7 KM ke Sekolah
- 16 April 2012 Diduga Karena Belum Terima Gaji, Staf Dispenduk Sumba Timur Mogok Berkantor
- 13 April 2012 Naskah Ujian Nasional di Sumba Timur Kurang
- 08 April 2012 18 Tahun Didera Hydrochepalus & Lumpuh: Walau Lirih, Zakarias Tetap Bersenandung
- 06 April 2012 Jemaat GKS Kambaniru Gelar Prosesi Jalan Salib
- 05 April 2012 Sekolah di Sumba Timur, 75% Dibawah Standart Mutu Nasional
- 04 April 2012 Apresiasi Perjuangan Anak Lai Hiding: Dinas PPO Sumba Timur Rencanakan Bangun Sekolah Paralel
- 03 April 2012 Belajar dari Agustinus: Sosok Sederhana di Balik Perjuangan Anak-Anak Lai Hiding
- 31 March 2012 ‘Uji Nyali’ Anak Dusun Lai Hiding: Ke Sekolah Bagaikan Terjun ke Arena Sabung Nyawa
- 29 March 2012 Bangunan Pasar Papuu dan Kiritana Mubazir: TPI & Pabrik Es Waingapu Bernasib Serupa
- 28 March 2012 Harga BBM Belum Resmi Naik: Harga Sejumlah Sembako Menang Satu Langkah!




Waingapu.Com - Apapun prahara dan kesulitan yang dialami tentu ada solusinya. Sejatinya harus menjadi keyakinan tiap individu menyikapi berbagai masalah kehidupan. Boleh jadi falsafah inilah yang menjadi pijakan puluhan warga Desa Kambata Tana, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur, NTT, dalam menghadapi deraan kekeringan dan ancaman rawan pangan yang hingga kini masih menghantui sejumlah wilayah kabupaten ini. Optimalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang selama ini terkesan dipandang sebelah mata, kini menjadi andalan terdepan menghadapi kekeringan.
