Menjual Rumput untuk Pakan Ternak |
|
|
|
| Ditulis oleh Admin |
| Minggu, 06 September 2009 15:16 |
|
"Dengan menjual rumput untuk pakan ternak dapat membantu perekonomian kami", demikian ungkap Bunggul salah satu penjual rumput. "Kadang dalam sehari kami bisa mendapatkan Rp.150.000,- dan seikat rumput kami jual Rp.1.000,-. Dengan hasil mata pencaharian ini, kami bisa membelikan buku buat anak-anak kami yang bersekolah, karena kalau hanya mengharapkan hasil berkebun maka sangat kurang sekali", demikian Bunggul menambahkan.
Keuntungan yang dirasakan masyarakat KM 15 dan sekitarnya ini disebabkan karena adanya transaksi jual beli hewan di Kota Waingapu. Saudagar-saudagar dari Sulawesi yang menampung hewan ternak, kuda, sapi dan kerbau membutuhkan pakan sebelum dikirim ke Sulawesi. Karena harus menunggu dikarantani, maka hewan-hewan tersebut harus disuplai makanannya, jika tidak makan hewan akan menjadi kurus yang pada akhirnya harga jual akan menurun juga. Dalam sehari, saudagar-saudagar ini bisa mengangkut 3-5 truck penuh untuk kebutuhan pakan ternak. "Kami bahkan kewalahan menyediakan rumput yang dibutuhkan, bahkan pernah kami bekerja mengarit rumput sampai larut malam demi memenuhi permintaan mereka", demikian Bunggul menutup pembicaraan kami. |




Waingapu.Com - Rumput yang tumbuh liar di padang belantara Sumba Timur ternyata dapat membantu perekonomian masyarakat desa. Disepanjang jalan arah Wairinding mulai KM 15 hingga Wairinding terdapat beberapa tenda darurat untuk menaungi ikatan-ikatan rumput yang dijual oleh masyarakat sekitar daerah tersebut.
Sumba Timur yang areal padang sabananya lebih besar dibandingkan dengan luas hutan memang potensial sekali untuk menjadi daerah peternakan. Maka pada bulan-bulan kemarau seperti sekarang ini, para petani ladang memanfaatkan sumber alam ini untuk berjualan rumput. Dengan hanya menjua rumput, selain memenuhi kebutuhan hidup, mereka malah bisa membeli hewan ternak sampai beberapa ekor untuk dipiara lagi.
Komentar
Sukses buat sumba timur.
Ternak : Sapi, kerbau, kuda, babi,kambing.
Budaya : kampung-kampung tua, kuburan-kuburan tua, tenunan, tarian dll.
Alam : pantai, padang gunung, danau, hutan, burung-burung.
Masalahnya, kita belum mampu dalam hal manajemen pengelolaan kekayaan kita dan kita cenderung boros. Misalnya, dalam hal kawin mawin - pemotongan hewan "kameti" yang berlebihan.
Dalam hal kematian, berapa ternak yang dibunuh sia-sia, selain untuk "kameti".
Sementara pemerintah belum bergairah mengelola kekayaan kita.
Jadi sampai kapan?
Sementara lagi, dibeberapa masyarakat sumba masih ada budaya minum-minuman keras secara berlebihan - "MAUK" lalu ribut mungkin sampai “patakkil”.
Semua itu tantangan kita semua kedepan, terlebih untuk semua kaum muda sumba.
Kalau tidak, kita tetap ketinggalan dan tertinggal di landasan.
Saya : Ki Sapu Jagat
dari Lereng Merapi di batas Yogya Magelang.
RSS feed untuk komentar posting ini.